Bung Kukuh Kumara dan bung Haniwar, Topik ini sangat bagus untuk didiskusikan oleh pihak2 yang prihatin dengan ketakberdayaan lembaga2 riset dan perguruan tinggi. Berikut komentar2 saya.
> Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Di Kompas hari ini,hal 22 ada berita yang > menggembirakan saya, yaitu naiknya ketinggian air > di 2 waduk di Jateng karena keberhasilan hujan > buatan... Selamat.... sebuah karya penerapan > teknologi yang berhasil... L: Keberhasilan yang menggembirakan, tetapi teknologi ini rasanya bukan teknologi baru. Lagi pula, di tempat saya masih musim hujan :- ), malah saya dengar di beberapa daerah s.d. 2 minggu lalu masih banjir. > Yang agak membuat aku berkerut kening berita lain > ttg " kelangsungan industri dan riset belum > berkesinambungan " di hal 13, dikatakan oleh kepala LIPI : > Kalangan industri jika menemui kendala tidak pernah > datang ke lembaga riset ., maupun perguruan tinggi.. > masih ada kendala utk menjaga hubungan industri dan > lembaga riset.. (deleted) > Siapapun yang membaca berita seperti ini.. langsung terkesan bahwa bagi > ketua LIPI... yang bersalah adalah pengusaha...dan pihak peneliti sudha > sukses berhasil... pendeknya sudah jago lah.. > > Padahal; apa artinya hasil penelitian yg paling hebat sekalipun jika > kemudian tidak diterapkan didunia nyata .. apapun alasannyab ????? > Cuma buang duit pemerintah !!!!!,, buang duit rakyat... pemerintah itu > nggak punya duit sendiri.. L: Setuju. Walaupun pernyataan ketua LIPI banyak benarnya, tetapi salah satu (bukan satu2-nya) penyebabnya adalah KETIDAKmandirian lembaga2 riset dan perguruan2 tinggi negeri itu sendiri selama ini yang sudah terbiasa menadahkan tangan minta bantuan dana dari pemerintah bak prilaku pengemis2 di jalanan. Untunglah ada konsep 'swastanisasi' PTN2 unggulan akan memaksa PTN2 unggulan menjadi mandiri. Tetapi mbok ya kemandirian di sektor dana/ finansial diwujudkan dalam bentuk mencari kemitraan dengan industri atau dengan pihak2 luar, BUKAN dengan main hantam kromo SPP mahasiswa2 (khususnya mahasiswa2) baru setinggi mungkin. Komentar terakhir ini sangat serius sebab sekarang banyak PTN yang merasa 'unggulan' pun berbondong-bondong secara resmi minta di 'swasta'kan dengan harapan akan dibolehkan oleh pemerintah melakukan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus (yang khusus adalah besar dana sumbangan calon mahasiswa). Padahal mereka menjadi unggulan karena beruntung mendapat banyak order proyek2 pemerintah (order proyek Pekerti, dsb). Prilaku 'kutu loncat' beberapa profesor satu PTN menjadi anggota DPR atau berprofesi lain tanpa mau secara sukarela melepaskan ke profesorannya pun merupakan salah satu penyebab hilangnya kemandirian PTN2. Sebab orang2 kita yang berpola pikir pengkultus- individuan selalu memberi porsi besar 'prestasi' satu PTN pada individu2 tertentu di PTN tersebut, bukan pada hasil2 penelitian yang dihasilkan kampus tersebut. Padahal banyak individu2 yang bisa memiliki nama besar karena karbitan proyek2 pemerintah yang dipimpinnya dan yang didapatnya lewat jabatan strukturalnya di PTN tsb, bukan lewat prestasi akademiknya). Jadi begitu si individu keluar, ia memanfaatkan nama besarnya dan keguruan besarnya demi ambisi atau keuntungan pribadi, padahal ia bukan lagi seorang guru (besar). Pertanyaan untuk ketua LIPI, program apa yang dicanangkan bapak Ketua LIPI agar LIPI kelak bisa mandiri? Wong 'cap' profesor riset pun (yang banyak ditentang kalangan PTN) tidak malu2 diterima oleh para periset di LIPI. > Paling sedikit , teman saya yang UKM sudah dua kali > menghubungi lembaga penelitian pemerintah... utk ajak > kerjasama dalam menerpakan suatu hasil dr lembaga itu > .. dan keduanya meminta biaya .. yang tak tertanggungkan bagi > si UKM , apalagi dibanding hasil yang selalu tidak pasti... L: Saya pernah berusaha membantu seorang pengajar satu universitas di Cina yang mencari satu patner universitas di Indonesia untuk kerjasama (bersama 2 universitas lain, salah satunya Cambridge University) dalam bidang teknik sipil. Saya gagal karena semua orang Indonesia yang telah melakukan kontak dg pengajar Cina tsb selalu bertanya "Berapa nanti saya dapat dari proyek ini" untuk memutuskan mau atau tak maunya orang Indo tsb ikut berpatner. Padahal saya berjanji untuk memberi tahu pak Menristek tentang rencana proyek (yang terkait program rehabilitasi daerah yang terkena Tsunami), ttp pengajar tsb sudah patah arang duluan. Ia memilih bekerja sama dg universitas negara lain yang juga terkena dampak Tsunami. Saya tak ngotot karena saya sendiri jarang ketemu dengan dia (saya lebih sering ketemu istrinya yang mengambil program 2 bulan saja di ruang kantor persis sebelah kantor saya). Salam
