Rekan-rekan FPK,
untuk saya topik ini sama pentingnya seperti masalah global lainnya,
yang layak diinformasikan pada masyarakat awam. Saya mohon ahli
nuklir untuk melengkapi beberapa masukan dari saya berikut ini:
1.      Akses untuk mendapatkan Uranium diatur dengan sangat ketat,
seperti halnya ingin memiliki Panzer Leopard atau peralatan tempur
super canggih lainnya. Salah satu cara termudah untuk mendapatkan
Uranium tentu dengan memiliki PLTN. Sedangkan bagi yang
mempunyainya, tentu jalan untuk meng-kutak-katiknya kearah peralatan
tempur akan lebih terbuka. Exportir Uranium: Australia dan Canada.
2.      Didalam dunia technik, yang namanya "technical safety 100%"
itu tidak ada. Jadi bila ada seorang (apapun pangkatnya)
mengatakan: "PLTN yang akan kita bangun keamanan secara umumnya
dijamin 100%" itu tandanya dia kurang memahami technik. Praktis yang
dapat dicapai hanyalah meminimize risiko bahaya, sedapat mungkin
MENDEKATI NOL. Nyatanya memang secara teknis setelah 40 tahunan ini
para ahli dinegara bersangkutan telah mencapai kondisi nyaris tanpa
risiko.
3.      Dari reaksi berantai nuklir tersebut hanya panas yang
ditimbulkan diperlukan untuk mewujudkan uap air bertekanan tinggi
guna menggerakkan turbin berikut Generator penghasil listrik.
Walaupun reaksi dimaksud menghasilkan emisi berupa sinar radioativ
(RA), namun dari segi safety nya sudah dapat dilaksanakan (didalam
system tertutup secara berlapis-lapis) dengan pengendalian keamanan
yang cukup meyakinkan. Hanya saja istilah "tertutup" dimaksud tidak
dapat terpenuhi minimal pada dua titik, yaitu pendinginan reaktor
dan memproduksi uap. Pada dua titik ini lah kemungkinan medium
dimaksud terkontaminasi RA terjadi sangat tinggi. Berarti kedua
media tadi harus mengalami penanganan beserta prosedur khusus
sebelum dilepas ke lingkungan bebas (Volume disini luar biasa besar,
oleh sebab itu umumnya PLTN dibangun ditepi sungai yang debit airnya
cukup besar).
4.      Inti prosedur safety sebenarnya ada pada penanganan emisi
berupa sampah reaktor (uranium ataupun plutonium) yang intensitas RA
nya cukup tinggi dan mempunyai umur yang sangat lama (antara 30 – 50
tahun). Teknologi yang saya ketahui 20 an tahun lalu, sampah
tersebut harus disimpan selama itu didalam bejana khusus dan
ditutupi dengan garam dengan ketebalan tertentu, biasanya disimpan
didalam gunung atau gua garam.

Dari uraian diatas, menurut saya potensi bahaya terbesar ada pada
penanganan berikut pelaksanaan prosedur yang begitu banyak, dan
cukup rumit, diluar reaksi nuklir itu sendiri, yang menuntut
kedisiplinan dan konsistensi yang sangat tinggi. Justru hal tersebut
dewasa ini belum merupakan ciri khas pejabat, aparat, maupun
masyarakat Indonesia. Misalnya saja mengenai transport sampah RA ke
tempat penyimpanannya nanti .. saya membayangkan berapa banyak truk
tangki yang terguling dan media (flameable) dari tangkinya mengalir
kemana-mana sambil terbakar ?? Mengenai safety untuk peralatan
berikut bangunan PLTN nya sendiri saya rasa tidak perlu
dikhawatirkan, sebab biasanya produsen menjual System keseluruhan
dan turut involved hingga pada operationalnya. Jadi bukan jual
lepas, layaknya jual mobil.
Terlepas dari semua ini, selayaknya PEMERINTAH melaksanakan
pengkajian secara lebih cermat dengan pemikiran dasar: Kita ketahui,
sumber energi yang sekarang ini dikatakan lazim adalah yang tidak
terbaharui, namun berapa diantaranya ada diperut bumi Indonesia.
Mengapa tidak diutamakan penggunaan dari apa yang kita miliki (bila
perlu jangan diexport lagi), dari pada mengupayakan sesuatu yang,
baik peralatan (PLTN) maupun bahan bakunya(uranium/plutonium) harus
kita import, ditambah lagi secara system dan teknologi pun kita akan
bergantung dengan para ahli dari negara produsen yang harus kita
gaji pula, plus risiko tinggi. Sementara Resources energi kita masih
begitu banyak yang belum di "optimal" kan: Matahari, Angin, Air,
Pasang-surut air laut, Panas bumi, dll dll ????? Jadi pertanyaan
saya, apakah benar keputusan memiliki PLTN ini adalah MURNI untuk
memenuhi kebutuhan energi dalam negri kita, atau secara tidak
disadari, kita sedang memperpanjang daftar kebergantungan kita pada
Negara lain sambil memperbanyak risiko kecelakaan berskala besar ??
Salam,
Bodo


--- In [email protected], "stephanusmulyadi"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nah itu dia Pak Wal,
>
> kalau itu pertimbangannya, maka terjawablah pertanyaan saya saat
saya
> memberi catatan atas pendapat saudara chie one:
> kalau OBYEKAN BESAR itu yang jadi sasaran dari MEGA PROYEK itu,
pantas
> saja banyak pihak mati-matian memperjuangkan agar proyek PLTN tetap
> jalan. Itu yang saya sebut teknologi demi teknologi, atau malah
> teknologi demi proyek.
> Kalau proyek itu yang dikejar, tak heran keselamatan manusia dan
> mahkluk hidup di Gunung Muria itu tak begitu dipedulikan.
> Toh nanti kalau terjadi bencana, masih ada alam dan Tuhan yang bisa
> disalahkan.
> Kuasailah teknologi "SALAH LAINNYA" dulu, sebelum salah satunya:
Nuklir.
>
> Salam
> Mulyadi

Kirim email ke