** Rekans FPK, peristiwa yang menyedihkan ini terulang lagi. Yang menjadi
tersangka adalah Siswa Senior IPDN sebagai pertanggungan jawab perilaku
mereka. Bagaimana dengan Dosen-2 yang terkait, kan seharusnya ada Dosen
yang selalu memantau kegiatan Siswa IPDN tersebut dan tidak membiarkan
kegiatan dalam Kampus IPDN tanpa kontrol/pengawasan.

** Mudah-2an ini menjadi pelajaran buat para Dosen maupun Pembimbing yang
lain di IPDN dan sudah sewajarnya Rektor IPDN dapat memberikan penjelasan
yang transparan.

  ----- Original Message -----
  From: "Agus Hamonangan"
  To: [email protected]
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kekerasan di IPDN Jatinangor
  Date: 04 Apr 2007 22:12:34 -0700

  http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/opini/3429966.htm
  ==========================

  Kematian Cliff Muntu (19), praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri
  atau IPDN, Jatinangor, Sumedang, hari Selasa (3/4) sungguh
  menyedihkan.

  Almarhum tewas diduga kuat akibat penganiayaan. Indikasinya terkait
  rencana penyerangan praja tingkat II terhadap praja tingkat III, yang
  bersamaan waktu kematian Cliff Muntu.

  Kekerasan antarpraja, terutama antara senior dan yunior, seolah-olah
  akrab dengan IPDN. Tercatat sejak 1990 hingga 2004 setidaknya terjadi
  35 penganiayaan berat yang berakibat kematian. Kekerasan terjadi
  antara praja senior dan yuniornya.

  Tahun 2003, Wahyu Hidayat tewas dianiaya seniornya. Tahun 2004,
  Ichsan Suheri mengalami kekerasan praja senior, dan tahun 2005
  sebanyak 11 praja dirawat menyusul perkelahian praja tingkat II dan
  IV.

  Data itu mengindikasikan IPDN akrab dengan tindak kekerasan.
  Tergabungnya dua lembaga pendidikan, Sekolah Tinggi Pemerintahan
  Dalam Negeri (STPDN) dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) menjadi
  IPDN tahun 2004, tak mengubah perilaku. Ini kontradiktif, sebab
  merekalah calon birokrat yang akan tampil sebagai pamong.

  Tugas pamong adalah ngemong dan momong. Bukan pangreh yang
  berkonotasi menguasai, ngereh. Pamong tampil dengan sosok dan
  semangat asih, asah, asuh. Pangreh tampil dengan semangat otoriter.
  Budaya kekerasan, mendidik praja jadi pangreh dan bukan pamong sudah
  berlangsung sejak dalam proses pendidikan.

  Padahal, IPDN diharapkan menghasilkan tenaga birokrat yang terampil
  dan berkepribadian tangguh. STPDN yang dulunya leburan dari 10
  akademi pemerintahan dalam negeri tahun 1990 menempatkan disiplin
  sebagai salah satu cara menciptakan kepribadian tangguh. Rupanya
  kultur itu berlanjut. Praksis pendidikan bergaya spartan antara lain
  direpresentasikan dalam sosok penampilan mereka.

  Kasus Cliff bisa saja dianggap ekses, bahkan kekecualian dari praksis
  pendidikan IPDN. Namun, ketika hal itu terjadi di lembaga pendidikan
  calon birokrat yang diharapkan sebagai pamong, ekses ini serius.
  Ekses selalu merupakan bagian dari proses. Dalam konteks ini artinya
  kebiasaan internal kampus—belum lagi kebiasaan di luar kampus yang
  didominasi kekerasan—jauh dari semangat asih, asah, asuh. Indikasi
  rencana penyerangan praja tingkat II ke praja tingkat III menunjukkan
  ada konflik, bibit tawuran yang biasa terjadi di kalangan anak
  sekolah menengah.

  Kalau asumsi itu benar, IPDN—dalam hal ini Depdagri—perlu mengusut
  tuntas kasus Cliff. Jangan-jangan kultur dan praksis pendidikan IPDN
  kini akrab kembali dengan budaya kekerasan. Membiarkan kasus sama
  saja membiarkan dihasilkannya calon pemimpin yang bukan pamong,
  tetapi pangreh.

  Tenaga pamong yang terampil berkepribadian tangguh bisa dihasilkan
  lewat praksis pendidikan yang jauh dari budaya kekerasan! Hasilnya,
  birokrat yang punya hati dan cerdas, yang diwujudkan antara lain
  dalam perilaku dan keputusan tidak asal main gusur dan main razia,
  tanpa nurani dan tepa salira!

  

-- 
Powered by Outblaze


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke