sampeyan ini lucu juga,

tolong baca baik2 komentar saya. cuma sedikit kok. saya katakan "kesannya" 
mbulet dan dibuat2. kemudian saya akhiri dengan: saya tidak tau. kok anda malah 
mengakhiri komentar dg pertanyaan: apakah anda sudah cukup mengerti?

saya suka membaca teologi. saya suka baca tulisan2 yang mengupas keimanan 
dengan logis. tulisan gede prama ttg nyepi yg lalu misalnya, enak sekali 
dibaca. tidak ada urut2an logika yang dipaksakan. juga tulisan2 kang sobari, 
misalnya. enak sekali. tulisan2 kristen yang lain juga banyak yang enak dibaca. 
poitn saya, bukan masalah ini tulisan kristen atau bukan. karena saya tidak mau 
terjebak dalam debat yang bahkan tak ada ujungnya. 

kalau memang terlalu sulit untuk menjelaskan keimanan dg logika, ya sebaiknya 
tidak usah dijelaskan. cukup diyakini. maka akan menjadi lebih elegan. 

selamat paskah

----- Original Message ----
From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, April 9, 2007 3:27:08 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan "Mati", Manusia Hidup


    
            Ini teologi, Bung, yakni iman yang di-logos-kan. Salah satu aspek 
ilmu memang adalah theorizing. Nggak usah jauh-jauh, gerakan jari-jari tangan 
dalam meraih dan menggenggam suatu objek, yang di mata kita tampak sangat 
sepele itu, dalam cognitive science ternyata penjelasannya juga bisa jadi 
sangat mbulet kok. Merembetnya bisa sampai ke mekanisme kerja otak segala, 
bukan cuma urusan tangan semata.

   

  Dibuat-buat? Entahlah. Hanya orang yang menguasai kekristenan dengan cukup 
dalam yang bisa menilai apakah penjelasan di bawah ini dibuat-buat atau enggak. 
Yang berabe adalah jika orang yang tak cukup memahami teologi Kristen lalu 
menilai bahwa ini semua dibuat-buat. 

   

  Saya orang Kristen, tapi bahkan saya pu tak berani menilai sejauh ini karena 
saya bukan ahli teologi. Ibarat punya tangan, saya cuma bisa mempraktikkan 
menggunakan jari-jari tangan untuk memegang sesuatu, tapi tak berpretensi 
mengerti mekanisme apa di otak yang memberi perintah kepada tangan untuk 
bergerak sedemikian rupa. Saya punya tangan, tapi tak menguasai ilmu yang 
mempelajari tentang gerakan organ tubuh. Saya punya iman, tapi tak mengerti 
soal pengilmuan iman tersebut dalam wilayah teologi.

   

  Anda sudah cukup mengertikah sehingga bisa menilai?

   

  manneke

Kirim email ke