Dear teman2 milis,
  emang susah kalo kita mau menuntaskan masalah di IPDN. Banyak masyarakat 
negara ini kelihatannya benci dengan hal2 yang berbau militer, maunya negara 
ini diperintah oleh sipil. Tapi pada kenyataannya banyak juga masyarakat yang 
sok militer spt pemaikaian atribut militer yang tidak semestinya oleh masy 
sipil seperti pakaian loreng, menggantungkan tanda militer di mobil, stiker de 
ele el. Yang lebih parah adalah memelihara nilai2 militer di sekolah yang 
jelas2 bukan sekolah militer seperti yang dilakukan oleh IPDN. Akademi militer 
pun tidak pernah kehilangan siswanya akibat kekerasan, tp kenapa hal ini 
terjadi di sekolah sipil. Kalau sewaktu sekolah saja sudah suka dengan 
kekerasan bagaimana jika nanti mereka menjadi pamong di daerahnya masing2 ? 
Mungkin gak mereka nanti mukulin masyarakatnya ?????? 

loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Rekan Motulz,

Bukan status IPDN yang gamang, tetapi pondasi sistem pendidikan kita 
yang gamang. Kalau tak salah, STAN berada di bawah Depkeu (maaf 
kalau salah). Jadi ada tiga-empat instansi berbeda-beda yang 
menangani pendidikan (mulai dari tingkat SD): Depdagri, Depdiknas, 
Pemda, Depag (madrasah s.d. UIN) dan Depkeu (?).

Saya mendengar dari satu wawancara (mudah2-an salah dengar) bahwa 
biaya operasional IPDN yg diambil dari APBN adalah 150 M. Saya kira 
anggaran utk STAN cukup besar. Entah benar entah tidak, keponakan 
yang kuliah di STAN mengeluh dosen-dosennya malas masuk kelas. Guru2 
SMU-nya lebih rajin. 

Salam

Kirim email ke