Mengenai "romusha" ini menarik sekali, begitu banyak yang pergi
  dan tak pernah kembali.
  Buuaaaanyak yang diangkut buat membangun rel kereta api, antara
  Thailand dan Burma (Myamar) yang jadi terkenal karena film "Bridge
  over the river Kwai".
   
  Herannya nasib mereka di Indonesia tak banyak dibicarakan orang
  atau ada yang menulis buku tentang mereka.
  Apakah pernah ada buku (memoar a'la Pramoedya) atau film?
  Apa ada yang tahu mengapa nasib romusha ini jadi terlupakan?
  Please explain kalau ada yang punya keluarga yang pernah jadi romusha!
  Makasih!
   
  Salam
  Las.
  

Suparmo Wal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ibu Mariana,

1)Paksaan memang ada tetapi secara halus yaitu KETERPAKSAAN menjadi iugun ianfu 
karena alasan kekurangan makan, pakaian dsb di waktu perang.
2)Penipuan ada dengan alasan hendak disekolahkan di Jepang.
3) Banyak yang secara sukarela menjadi PENGHIBUR tentara Jepang seperi Ibu 
Mardiem yang menjadi pemain sandiwara dan penyanyi.Hanya satu langkah untuk 
menjadi iugun ianfu.
4) Kalau serdadu mencari dan memperkosa wanita di desa, sudah ada sejak tentara 
KNIL dan terutama justru bangsa sendiri dan Indo.
5) Kalau ada anak umur 13 tahun diseret dan bapaknya ditembak mati , tidak saya 
dengar karena di hotel2 klas satu tersedia Nona dan Nonya2 Belanda/ Indo dan 
Tionghoa yang lebih menarik yang memang iugun ianfu tetapi ceritanya lain.(Dari 
pagi serdadu Jepang telah antri). Kalau ada orang pribumi yang bukan penjahat 
ditembak tentara Jepang, akan terdengar dimana2 sebab Jepang bermusuhan dengan 
bangsa Barat dan Tionghoa tetapi ingin mengambil hati orang 
Indonesia(pribumi).Kenpetai( Polisi Tentara Jepang) sangat kejam ,juga terhadap 
tentaranya sendiri sehingga disipinnya tinggi.
6) Kalau SEKARANG ada bekas iugun ianfu yang mengatakan dia dipukuli dan 
ditendangi oleh tentara Jepang rasanya agak mustahil sebab Jepang TIDAK BODOH, 
dan menjaga mereka selalu sehat(diperiksa dokter) dan tidak kurang suatu apa 
dan " in running condition"
7) Relatif mereka dalam keadaan lebih baik daripada rakyat yang kekurangan 
makan dan pakaian. Bahkan PADA WAKTU itu, bangga dan sombong. Kalau sekarang 
tentu berobah 360 derajat dan malu..
8) Ini tidak berarti saya tidak setuju mereka di beri ganti rugi dan 
kompnsasi.Malah pekerjaan mereka yang bertahun2 tidak dibayar harus segera 
dilunasi.Pekerjaan mereka sebagai penghibur memang SANGAT BERAT karena harus 
melayani banyak tentara dalam waktu satu hari.
9) Mungkin saja di FRONT terjadi hal2 lain tetapi di kota2 besar adalah seperti 
ini yang diceritakan oleh sauadar2 saya yang langsung mengetahui karena bekerja 
pada tentara Jepang.
10) FYR justru sesudah Jepang menyerah, tentara Sekutu yang terdiri dari orang 
GURKA dan SIKH lebih brutal dalam memperkosa wanita bahkan kalau tentara Gurk 
sudah tidak tahan, kerbau ditanam setengah badan dan ia main seks dengan 
binatang.
11) Yang dilupakan dan tidak pernah dimintakan ganti rugi dan upah adalah para 
ROMUSHA yang benar2 adalahan DIPAKSA dan 80% mati (hanya kira2 20% yang 
kembali) dari jumlah kurang lebih 200 sampia 300.000 orang. Apakah karena 
Indonesia berjuang sendiri?( perjuangan iugun ianfu dilakukan oleh wanita dari 
banyak negara di Asia).Dan Romusha memang sudah diikhaskan olh bangsa Indonesia 
karena mendapat bantuan dari Bung Karno yang terlihat dalam foto dan film 
Domei, berbaris didepan dan mencakul bersama romusha?.
Terakhir saya tidak tahu arti dari setuju 360 derajat dengan saya
Wasalam,
Wal Suparmo. 

Kirim email ke