patron politik suharto yang selalu merangkul pengusaha-pengusaha konglomerat untuk menunjang mesin politiknya benar-benar di plagiat SBY. dan ketika suharto lengser, banyak rumah dan asset para konglomera habis dijarah massa, termasuk rumah liem sio liong, termasuk koleksi lukisan berharga milyaran rupiah habis dibakar dan dihancurkan massa. beberapa sempat lari keluar negeri dan mukim di australia, cina, dan singapura sebagian kembali melanjutkan petualangan bisnisnya dengan baju dan warna yang lain, namun tetap saja dengan menyimpan ambisi membikin bangkrut negeri, jaga mata jaga hati jangan kau gadai hati nurani, pilih pemimpin yang memiliki nurani yang berpijak pada rakyat, bukan pada pengusaha maupun neo imperialisme dan kapitalisme barat, anti subsidi dan anti kerakyatan. kemanakah kita akan pergi ????
goenardjoadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: [quote] Oleh kelemahan itu, Presiden tidak perlu pecah kongsi dengan usahawan besar, terutama yang juga menduduki jabatan politik. Pengusaha bermasalah semestinya dihadapi pemerintah dengan ketegasan dan pemberian sanksi, termasuk jika perlu, dengan pemecatan dari jabatan politiknya. Dalam praktik, Presiden justru cenderung membela mereka. Kelemahan kepemimpinan ini memperkuat posisi Presiden karena ia tak kehilangan loyalitas politik dan finansial dari usahawan, termasuk untuk menghadapi Pemilu 2009. [end] Kalau tahu kepercayaan pilihan 60 juta pemilih bakal digadaikan ke usahawan besar, mending rakyat buta tuli, sekalian. Daripada dibodohin begini. berapa sih 'loyalitas politik dan finansial dari usahawan'? apa sampai sebesar Rp 33 Trilyun [kerugian seluruh Jawa Timur gara-gara Lumpur Sidoarjo]? pemimpin adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang benar. ini tahu tidak mana yang benar, mana yang salah? salam, GG
