Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/11/utama/3443997.htm
=========================

"Pikiran yang sehat dalam jiwa yang sehat, itu penjelasan ringkas 
tapi sepenuhnya tentang keadaan bahagia di dunia". John Locke Filsuf 
Inggris

Anjuran untuk berolahraga kini semakin sering diberikan oleh para 
dokter ketika pasien-pasien yang kegemukan atau punya risiko 
terserang penyakit datang menemuinya. Anjuran serupa juga rutin dan 
standar diberikan kepada karyawan perusahaan tatkala hasil medical 
check-up dibahas oleh dokter yang menyelia aktivitas periodik ini. 

Namun, satu hal yang serta-merta hinggap dalam benak kita pada 
umumnya ketika menerima anjuran semacam itu adalah bahwa olahraga 
akan membuat kita jauh dari penyakit, atau setidaknya membuat badan 
kita bugar. Penelitian mutakhir ternyata menemukan bahwa olahraga 
juga membuat pikiran jadi terang dan pelakunya jadi lebih pintar. 
Laporan sampul Newsweek (9/4) pekan silam mengupas hal ini meskipun 
sebenarnya kita sudah lama mendengar semboyan mens sana in corpore 
sano yang berarti "dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat". 
(Lengkapnya adalah Orandum est ut sit mens sana in corpore sano, yang 
artinya "Hendaknya engkau berdoa agar ada jiwa yang sehat di dalam 
badan yang sehat". Juvenalis, Sat. 10, 356. Proverbia Latina, Marwoto 
& Witdarmono) 

Kini, semakin diyakinkan bahwa olahraga bermanfaat lebih daripada 
sekadar membangun otot dan membantu mencegah penyakit jantung. 
Olahraga, menurut sains mutakhir, juga meningkatkan daya otak dan 
boleh jadi memberi harapan baru dalam melawan penyakit semacam 
alzheimer. 

Charles Hillman, ahli di Laboratorium Ilmu Saraf dan Kinesiologi 
Universitas Illinois, AS, semula tertarik untuk mengetahui apakah ada 
kaitan yang vital antara aktivitas fisik dan otak. 

Penelitian terhadap 259 siswa ternyata membuktikan hal itu. Mereka 
yang punya tubuh paling bugar adalah juga yang punya otak paling 
bugar. 

Penelitian yang baru akan terbit beberapa waktu mendatang ini mungkin 
belum meyakinkan kalau berdiri sendiri. Tetapi, dalam sains dewasa 
ini juga sedang tumbuh gerakan yang memperlihatkan bahwa olahraga 
bisa membuat orang lebih pintar. 

Agar bisa sampai pada kesimpulan olahraga membuat orang pintar, 
ilmuwan telah meneliti keadaan otak manusia, melihat pertumbuhan sel 
saraf baru pada orang yang melakukan aerobik selama tiga bulan. 
Ilmuwan lainnya ada yang melihat bahwa olahraga teratur membuat sel-
sel saraf tua membentuk jejaring (web) rapat dan saling terhubung 
sehingga membuat otak berjalan lebih cepat dan lebih efisien. Lainnya 
lagi menemukan bahwa aktivitas fisik juga bisa menghalangi munculnya 
penyakit alzheimer dan gangguan kognitif lainnya. 

Dengan penemuan seperti itu, banyak yang lalu teringat kembali pada 
tradisi Yunani kuno, yang menegaskan bahwa "kebugaran itu hampir sama 
penting dengan belajar". Ahli jiwa dari Universitas Harvard, John 
Ratey, menyatakan bahwa orang Yunani meyakini "koneksi pikiran-
tubuh", dan peneliti Barat pun sudah lama memegang faham seperti ini, 
yakni aerobik membantu jantung memompa lebih banyak darah ke otak dan 
juga ke bagian tubuh yang lain. Lebih banyak darah berarti lebih 
banyak oksigen, dan karena itu sel-sel otak pun mendapat makanan 
lebih baik. 

Orang rupanya lambat mengetahui, olahraga benar-benar bisa 
memengaruhi kemampuan belajar (kognisi). 

Juga bahagia 

Dalam penelitian lainnya, sekitar 300 tahun setelah masa John Locke, 
para ahli juga melihat kaitan antara sehat tubuh dan pikiran, dan 
melihat keduanya secara konseptual identik. 

Seperti disinggung oleh Michael Craig Miller dari Harvard Medical 
School di Newsweek, sebenarnya sudah beberapa dekade terakhir orang 
mengetahui satu efek olahraga pada otak, yakni "endorfin tinggi", 
yang membuat kita merasakan nyaman selama dan setelah olahraga. 
Tetapi, belum lama ini ilmuwan menemukan beberapa efek lain yang 
lebih bertahan lama di otak. Olahraga teratur memperbaiki suasana 
hati, mengurangi kecemasan, memperbaiki tidur, memperbaiki daya tahan 
ketika menghadapi stres, dan meningkatkan harga diri. 

Semua manfaat tersebut tidak datang karena Anda melihat adanya 
penyusutan di sekitar pinggang, tulis Miller. Yang benar, hal itu 
muncul karena perubahan di kepala yang dipicu oleh olahraga. 

Proses-proses biologi yang penting ini—yang merupakan hal pokok dalam 
adaptasi dan pembelajaran—cenderung melambat dengan usia, juga kalau 
ada stres, atau setelah ada cedera otak, atau ketika sedang depresi. 
Olahraga, menurut Miller, bisa membuat proses tadi meningkat lagi. 

Selain menyediakan zat penangkal stres dan penuaan, olahraga juga 
menjadi obat antidepresi yang baik, layaknya obat atau psikoterapi. 

Perlu motivasi 

Topik semacam ini sebetulnya bukan hal yang baru karena jurnal ilmiah 
ataupun bacaan populer banyak yang mengupasnya. Boleh jadi tujuan 
terbesar mengungkapkan hal ini adalah untuk memotivasi orang agar mau 
berolahraga. Ini karena meski orang sudah tahu manfaat olahraga bagi 
otak dan suasana hati, orang tidak lalu serta-merta mengambil sepatu 
joging. 

Miller menggarisbawahi bahwa sebenarnya otak juga mengatur, kapan 
badan harus aktif dan kapan tidak. Sayang, bahwa baik-tidaknya otak 
mengelola hal ini juga bergantung pada genetik. Otak juga tidak 
jarang keliru karena orang yang kelebihan berat justru sering diberi 
rasa lapar lebih. Para ahli juga mencurigai, jangan-jangan gen yang 
membuat seseorang rawan depresi juga membuat olahraga sebagai hal 
yang kurang menyenangkan. 

Di sini problemnya jadi jelas bahwa hingga kini memang masih belum 
ada cara jitu untuk mendorong orang mengembangkan gaya hidup sehat. 
Tetapi, para pakar kebugaran sebenarnya punya banyak cara untuk 
menyiasati keengganan berolahraga, mulai dari sambil mendengar musik 
sampai berolahraga bersama keluarga atau teman. 

Tetapi, kalau hasil riset modern di atas tak kunjung bisa memupus 
keengganan berolahraga, orang perlu berpikir sebaliknya. Kalau jelas 
bahwa yang tidak berolahraga berpeluang tidak sehat, mestinya orang 
harus menempuh jalan terpaksa. Ya, terpaksa berolahraga. 

Kalimat terakhir tidak bisa lain, "Jadikan hidup yang sekali ini 
bermakna", dan olahraga besar peranannya untuk itu. 



Kirim email ke