Saya juga ingin urun rembuk juga.
Kalo saya melihat ini gejala kebablasan-isme. Maksud saya beginilah keadaan
apabila seorang sipil didandani atau di pakaikan pakaian atau atribut ala
militer. Mereka seolah-olah naik egonya dan merasa lebih hebat daripada yang
biasa. Ini dalam keadaan normal bisa dikatakan lumrah. Sebagai contoh apabila
sesorang memakai yah katakan cukup kaosnya atau jaketnya aja- merasa lebih
hebat atau serasa jagoan. Ini dikarenakan militer identik dengan kekuatan,
superioritas dan kehebatan. Ini sebabnya kaos, atribut atau apapun yan berbau
militer laris manis bak kacang goreng. ndak heran apabila orang yg pasang
stiker (cuman stiker lho, belum yang lain) militer akan lebih keliatan
ditakuti, nyetirnya atau gayanya semaunya, bahkan polisi aja kadang ndak berani
negur. Saya ingat dulu waktu mahasiswa, para MENWA (maaf yang dulunya MENWA)
selalu bersikap petantang-petenteng, modar-mandir kayak ayam nyari anaknya.
Padahal, hihihi saya inget banget.. pas ada keributan, mereka duluan yang
ngumpet. Jagoan neon? Belum lagi yang ngegantungin tanda kepangkatan atau
lainnya (bahkan saya melihat sebuah taksi di bandung, dengan bangganya si sopir
memasang tanda kepangkatan AKMIL dan topi baret AL di dasbornya dengan alasan
supaya ndak ditilang). Orang yang merasa dekat dengan seorang petinggi militer
(walaupun cuman seorang kopral) akan dengan bangga dan jumawanya memasang foto
di rumah atau tokonya, seakan dia lebih hebat dari TUHAN?? Astagfirullah...
Ini salah satu contoh apabila seorang sipil "terserempet" dengan atribut
militer. Yang saya salahkan bukan militernya karena itu cuman benda yang kalo
jatuh ke got akan dibuang juga, tp oknum yang memanfaatkannya. Mungkin ini juga
yang terjadi di IPDN. Mereka dengan bangganya memakai seragam lengkap dengan
atribut2 berbau militer. Pola disiplin dan pola kerja mereka menyontek militer,
tanpa dibekali kesiapan mental. Akibatnya... Mereka akan dengan bangganya
menyandang seragam lengkap dengan atributnya, menyatakan bahwa mereka lebih
hebat dari sipil biasa. Belum lagi orang tua mereka akan denga bangga, bahkan
masyarakat sekitarnya mgkin akan menyanjung mereka bak pahlawan medan laga,
karena mereka diterima di IPDN yang berseragam ala militer. Mereka terlihat
gagah bak kesatria yang sebetulnya mental coro, yang perempuan akan terlihat
anggun padahal bukan C Sasmi (maksudnya Anggun C Sasmi gitu loh). Kalo sudah
begini siapa yang salah?? Kita juga yang patut disalahkan karena
selalu mengipresentasikan bahwa atribut tersebut akan membuat sesorang akan
lebih gagah, hebat, berwibawa.Bahwa siapapun yang menggunakannya seakan
dikatakan pasti bahwa dia itu hebat. Jangan salahkan mereka juga kalo karena
kita terlalu membanggaka sebuah benda yang bernama atribut akhirnya membuat
mereka lupa diri. Lupa siapa sesungguhnya mereka. Lupa kalo mereka juga makan
nasi, bukan makan beling, minum air bukan bensin, kena silet juga berdarah
bukan kebal otot kawat balung wesi. Lupa. Kita juga lupa.
Lalu bagaimana?? Semua pasti saling lempar tanggung jawab, lempar kesalahan.
Ndak ada yan mau tanggung jawab. Lalu... akankah ini selalu terulang? MUlai
sekarang kita harus merubah paradigma kita, cara pandang kita. Atribut itu
hanyalah sekedar atribut, yang kalo jatuh ke got ndak ada yang mau mungut.
Orangnya sama dengan kita. Penertiban atribut itu penting. Kl ada yg pakai
bukan pada porsinya harus dihukum. Setiap seragam atau apapun yang berbau
militer juga harus dihapus. IPDN harus dikembalikan kekhitahnya, kl perlu
namanya dirubah menjadi sekolah umum. Masih banyak koq lulusan sarjana umum
yang termasuk pengangguran jurusan FISIP/OL yang lebih baik, lebih pintar,
lebih bermoral dan lebih bermanusiawi. Kenapa harus bikin sekolahan kalo yang
ada masih berjibun cadangannya. Apakah jaminan IPDN lebih baik dari pada
sarjana-sarjana itu? Saya yakin tidak. Gimana mau pemerintahan ini baik kalo
sekolahan yang menciptakan dan mendidik mereka kayak gitu?? Apa mau dibilang,
jangan menyama ratakan, jangan kesalahan segelintir orang berarti menyamakan?
Ini kejadian bukan sekali, tapi sudah kesekian kali dan saya yakin sdah banyak
yang menjadi korban. Belum rumor soal aborsi yang marak disana, yang
dikarenakan agar si praja putri junior tidak mau "disiksa" terpaksa
mengorbankan keperawanan mereka secara bergilir.
Mari kita renungi.. Yang bersikap seperti diatas, coba. Pantaskah kita?
Normalkah kita? Waraskah kita?
Wassalam
Hari ini harus lebih baik dari kemarin.
Salam;
Bramantya AP
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html
[Non-text portions of this message have been removed]