Ibu Bapak miliser FPK, Masalah kualitas lingkungan terutama di Jakarta memang seperti menegakkan benang basah, bisa dilakukan tetapi harus dengan usaha dan akal serta pengetahuan (teknologi). Kesemuanya harus dilakukan bersamaan agar hasil yang diperoleh menjadi maksimum. Sebagai warga serba dilematis, sudah bayar pajak dan retribusi tapi kualitas lingkungan tetap buruk, namun jangan lupa jumlah penduduk yg membayar mungkin hanya 30-50%, yang lain penduduk miskin, yang cuma mampu untuk beli makan mungkin hanya sekali sehari.
Jadi bagaimana kita mengatasi masalah, saran saya mulailah dari diri sendiri dulu, lalu ajak teman/tetangga kanan kiri baru meluas ke rt/rw, kelurahan, kecamatan, dan semua harus dilakukan dengan IKHLAS, tanpa pamrih atau dalih apapun. Misal untuk sampah, mengapa kita yang relatif melek ilmu tidak mencoba membudayakan pengomposan skala kecil di rt/rw dahulu? dana bisa saweran warga, hasilnya bisa dinikmati semua warga, bahkan tukang sampahpun dapat tambahan lhooo... Misal lagi untuk listrik pengolah kompos, bisa digunakan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) mini yang harganyapun terjangkau ; atau juga genset tapi dengan BBN (bahan bakar nabati) campuran solar/bensin dengan minyak sawit/ethanol, selain hemat energi fosil tentunya bebas polusi sebagaimana yang kita inginkan. Misal lagi membuat sumur-sumur resapan berukuran 0,5x0,5x 2 m di pojok2 rumah masing-masing, yang berfungsi menampung air hujan agar masuk ke tanah sehingga menyelamatkan ketersediaan air bersih disamping sebagai upaya pencegahan banjir. Bila ada ada baiknya di tiap perumahan membuat 1 buah waduk/kolam kecil berukuran minimal 15x 15 x 10 m, selain untuk menampung air limbah dan mencegah banjir, juga bisa dijadikan tempat budidaya ikan air tawar dan pemancingan. Begitu pula penghijauan lingkungan, dapat dimulai dengan meminta warga menanam minimal 2 tanaman buah di rumah, bibit bisa minta dari Pemda DKI, setau saya gratis. Untuk peralatan pengolah sampah hingga PLTS bisa dimintakan infonya di BPPT Thamrin no.8, karena kesemua itu sudah bertahun2 dikembangkan dan diaplikasikan diberbagai lapisan masyarakat, tentunya dengan pembiayaan dari masyarakat karena pemerintah tidak bisa mendanai institusi litbang terus menerus.Begitupun tanaman dapat dimintakan ke dinas pertamanan DKI di merdeka utara. Jadi, bagaimana Bapak Ibu, kita mulai hari ini memotivasi diri dan lingkungan kita menuju sesuatu yang lebih baik atau kita hanya berdiam diri atau memarahi dan menghujat orang lain tidak becus bekerja? Salam, novi ----- Original Message ---- From: Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, April 11, 2007 4:00:50 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Lingkungan Jakarta Buruk- Pak Kukuh Pak Kukuh, Bagaimana kalau mengajukan kepemerintah daerah yang menangani daerah Pasar Minggu untuk menjadikan tempat pembuangan sampah tersebut menjadi Taman yang asri dan teduh? Atau dibuat danau buatan yang dikelilingi pohon-pohon yang rindang? Juga tempat bermain anak-anak, jadi tidak harus selalu bermain di Mal-mal. Didaerah Kebayoran Baru dan Cipete, masih ada beberapa taman yang juga dipakai untuk taman bermain bagi anak-anak. Menjadikan tempat tersebut kelihatan hijau dan rapi, walaupun ditengah-tengah rumah-rumah penduduk. Dengan begitu tidak akan ada yang berani membuang sampah ditempat tersebut dengan sembarangan. Salam, Yuli kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Buruknya lingkungan Jakarta berawal dari Pola Pikir yg sudah sekian lama memang juga buruk. Terima kasih mash ada upaya seperti yg dilakukan Unilever, plus fogging Baygon, sedikit membantu, namun tidak menyelesaikn masalah yg mendasar. Sebagai contoh di dekat tempat tinggal saya di jl AUP, Pasar Minggu ada lahan kosong, yg telah beberapa tahun belakangan ini menjadi awalnya Tempat Pembuangan Sampah Sementara namun akhirnya berkembang menjadi Tempat Seleksi Sampah dan penimbunan Sampah yg sangat menganggu lingkungan perumahan disekelilingnya. Dan saat ini juga bertambah dengan munculnya tempat2 jual beli besi bekas & kaleng2 bekas. Setiap musim penghujan bau busuk sampah merebak keseluruh kompleks perumahan disekitarnya, demikian pula disaat kemarau asap pembakaran sampah dan juga asap dari proses pembuatan arang membuat sesak napas bagi penghuni perumahan disekitarnya. Entah sudah berapa kali dilaporkan ke kelurahan dan kecamatan Pasar Minggu, namun tidak ada tindakan nyata dari Pemda. Sementara saat merebaknya penyakit DBD, kompleks2 perumahan di fogging, namun apa artinya kalau sumber masalahnya tidak dibersihkan (TPS)nya dibiarkan tidak terkendali? Kemarin kebetulan saya mengikuti sebuah kendaraan terbuka yg membawa sampah dari daerah diluar Pasar Minggu, ternyata sampah itu dibawa ketempat di Jl. AUP. Dengan kata lain TPS ini diam2 dijadikan TPS dari daerah lain dan PEMDA diam saja. Lalu apa artinya spanduk2 Pemberantasan DBD dibentangkan ....kalau kenyataannya tidak ada tindakan nyata dari Pemda....Masalah ini juga sudah dilaporkan pengurus RT ke Walikota, namun tetap saja tidak ada tindakan. Ini adalah sebagian kecil masalah lingkungan di Jakarta, tentunya masih banyak lagi kasus2 serupa di Jakarta ini.....intinya kebersihan atau apapun lah namanya program yg baik hanya sampai di tingkat "Spanduk" Nol Realisasi... . Salam Kukuh Kumara
