Bicara tentang mulailah dari diri sendiri, mungkin mbak Novi bisa mencontohkan apa yg sudah diaplikasikan di lingkungan sekitar mbak Novi yg bisa kita terapkan di lingkungan kita secara nyata?
Soalnya setau saya, di lingkungan saya sudah dimulai gerakan sumur resapan, pengelolaan tata air limbah, dan pengelolaan kebersihan lingkungan. Begitu juga mungkin di beberapa tempat lain, spt di Klender misalnya spt contoh yg telah saya sebutkan di postingan sebelumnya. Masalahnya yg saya lihat, melulu kita masyarakat diminta utk kreatif, inovatif, swadaya, swadana, dan lain2 yg positif, sementara aparat pemda ya gitu2 aja... bikin spanduk macam2 tanpa mau memasukkan unsur pendidikan yg lebih detail dan terarah. Toh mereka punya akses luas thd media informasi, sperti televisi dan radio. Pernahkah para penanggung jawab pengelolaan kota ini emncanangkan suatu gerakan yg real, banyak kerja, dan dimulai dari lingkungan mereka? Seingat saya, mrk bicara pd masyarakat jika sudah terjadi kasus, dgn berbagai alasan yg katanya sudah begini, sudah melakukan itu, sudah kerja gini, dll. Jangankan urusan kebersihan dan lingkungan yg perlu biaya besar, wong pilkada aja tenda dan perlengkapannya swadaya dari masyarakat kok. Kalaupun ada dana cuma kecil, hanya sekitar 25% dari kebutuhan dana total. Saya pribadi, bukan bermaksud memarahi atau menghujat aparat pemda, tapi menyadarkan dan mengingatkan mereka bahwa tgjawab mrk thd rakyat itu berat dan butuh perhatian luar biasa. Contoh kecil, ada tempat2 tertentu yg disengaja utk jalur hijau, taman kota, resapan air tanah, tapi tiba2 dipersempit atau malah dihilangkan, diganti dgn gedung beton atau jalan aspal. Ini gimana? Seharusnya mrk berfungsi penuh sbg regulator, ngurusin yg ini boleh dan itu tidak. Mohon maaf jika bahasa saya pribadi terlihat marah2, emosi, atau menghujat, soalnya dari dulu sampai sekarang, saya taunya pemerintah daerah cuma cuap2 sesudah kejadian, bukan antisipatif. Contoh: banjir bandang Jakarta kemaren, wabah DBD, dll. Belum ketidak konsistenan mereka, spt perda larangan merokok, perda pengaturan PKL, dll. Sekali lagi tidak bermaksud marah atau menghujat, tapi mengingatkan dan menyadarkan. Kalau pemda mau proaktif, banyak kok anggota masyarakat yg ingin bergerak bersama, bekerja bersama, dan mengawasi bersama, demi tata kota yg nyaman dan aman. Begitu mbak Novi pendapat saya pribadi, mohon maaf jika ada yg salah kata atau maksud, tidak lain dan tidak bukan karena merasa 'dibohongi' sama aparat pemda. Dan saya masih menunggu ajakan dari pemerintah utk bekerja bersama. salam, totot ----- Original Message ----- From: "novi irawati" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, April 12, 2007 8:03 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Lingkungan Jakarta Buruk > Ibu Bapak miliser FPK, > > Masalah kualitas lingkungan terutama di Jakarta memang seperti menegakkan benang basah, bisa dilakukan tetapi harus dengan usaha dan akal serta pengetahuan (teknologi). > Kesemuanya harus dilakukan bersamaan agar hasil yang diperoleh menjadi maksimum. Sebagai warga serba dilematis, sudah bayar pajak dan retribusi tapi kualitas lingkungan tetap buruk, namun jangan lupa jumlah penduduk yg membayar mungkin hanya 30-50%, yang lain penduduk miskin, yang cuma mampu untuk beli makan mungkin hanya sekali sehari. > > Jadi bagaimana kita mengatasi masalah, saran saya mulailah dari diri sendiri dulu, lalu ajak teman/tetangga kanan kiri baru meluas ke rt/rw, kelurahan, kecamatan, dan semua harus dilakukan dengan IKHLAS, tanpa pamrih atau dalih apapun. > Misal untuk sampah, mengapa kita yang relatif melek ilmu tidak mencoba membudayakan pengomposan skala kecil di rt/rw dahulu? dana bisa saweran warga, hasilnya bisa dinikmati semua warga, bahkan tukang sampahpun dapat tambahan lhooo... > Misal lagi untuk listrik pengolah kompos, bisa digunakan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) mini yang harganyapun terjangkau ; atau juga genset tapi dengan BBN (bahan bakar nabati) campuran solar/bensin dengan minyak sawit/ethanol, selain hemat energi fosil tentunya bebas polusi sebagaimana yang kita inginkan. > Misal lagi membuat sumur-sumur resapan berukuran 0,5x0,5x 2 m di pojok2 rumah masing-masing, yang berfungsi menampung air hujan agar masuk ke tanah sehingga menyelamatkan ketersediaan air bersih disamping sebagai upaya pencegahan banjir. Bila ada ada baiknya di tiap perumahan membuat 1 buah waduk/kolam kecil berukuran minimal 15x 15 x 10 m, selain untuk menampung air limbah dan mencegah banjir, juga bisa dijadikan tempat budidaya ikan air tawar dan pemancingan. > Begitu pula penghijauan lingkungan, dapat dimulai dengan meminta warga menanam minimal 2 tanaman buah di rumah, bibit bisa minta dari Pemda DKI, setau saya gratis. > Untuk peralatan pengolah sampah hingga PLTS bisa dimintakan infonya di BPPT Thamrin no.8, karena kesemua itu sudah bertahun2 dikembangkan dan diaplikasikan diberbagai lapisan masyarakat, tentunya dengan pembiayaan dari masyarakat karena pemerintah tidak bisa mendanai institusi litbang terus menerus.Begitupun tanaman dapat dimintakan ke dinas pertamanan DKI di merdeka utara. > > Jadi, bagaimana Bapak Ibu, kita mulai hari ini memotivasi diri dan lingkungan kita menuju sesuatu yang lebih baik atau kita hanya berdiam diri atau memarahi dan menghujat orang lain tidak becus bekerja? > > Salam, > novi
