He he he. Hari gini ada yang ngusulin Wiranto... Saya sih selain kasian sama 
rakyat, juga kasihan sama Pak Wirantonya sendiri. Jadi pres/wapres, tapi tak 
bisa pergi ke luar negeri. Lha wong masih tercatat PBB sebagai penanggung jawab 
pembantaian di Timor Leste pascareferendum kok... Kasus Mei 1998 juga masih 
gelap tuh, padahal Beliau kan pucuk pimpinan TNI waktu itu?
   
  manneke

Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Dear All,

Kalau satu di antara kedua Figur lama ini terpilih
lagi, ekonomi kita akan tambah hancur-hancuran. Mari
mempertimbangkan figur baru:

1. Amien Rais? Maaf, singkat saja: Baguslah dia
seorang sipil yang percaya diri. Tetapi, ia memiliki
kekurangan mendasar yang ada juga pada SBY, maaf,
pemimpin sektarian. Itu bisik-bisik tetangga. Jadi,
Amien Rais? NO!

2. Jusuf Kalla? Wong jadi Wapres udah ketahuan, mau
jadi orang nomor 1? Sorry. Gak dibahas.

3. Pak Wiranto? Mestinya Pak Wiranto memiliki
kesempatan lebih. Namun, sehebat-hebatnya Pak Wiranto,
beliau akan berada di bawah bayang SBY, karena
sama-sama jenderal. Saya memberi pendapat, sebaiknya
Pak Wiranto mengambil posisi menang, dengan nomor urut
RI-2.

Dengan posisi (rendah hati) pada nomor urut 2, Pak
Wiranto akan mendukung kandidat Presiden Sipil yang
memiliki lebih banyak pendukung. Demikian halnya
dengan pendukung dengan menghendaki duet sipil militer
untuk Presiden, TETAPI militer akan diminta pada
posisi 2. Karena posisi 1 akan kalah dengan SBY,
sejelek apa pun rating SBY pada saat itu.
Kembali, kalo misalnya Pak Wiranto mengambil posisi
'rendah hati" nomor dua, siapa kandidat R1 yang
dihormati Pak Wir, tetapi sekaligus dapat membuka
ruang lebih besar?

FORUM: Mari kita mewacanakan beberap Putera-Puteri
terbaik dari kalangan sipil untuk urut satu. Mbak Ani
(Sri Mulyani), misalnya, disiapkan dan diwacanakan di
masyarakat. Berpasangan dengan Pak Wir. Atau, Pak Wir
akan mencari Pasangan dari Kalangan sipil yang
direkomendasikan Gus Dur?

Kita tunggu saja. Tapi, saya tetap memberi dukungan
kepada Mbak Srimulyani berpasangan dengan Wiranto.
Memang tidak perlu dikotomi itu, tetapi kenyataannya,
dikotomi itu memang masih ada. Kalo Pak Wiranto ingin
menang, inilah jalan: mendukung Mbak Ani. 

wassalam.

--- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/11/Politikhukum/3443629.htm

Kirim email ke