Rekan-rekan FPK,
Menurut saya konsep pemikiran rekan Walsuparmo ini sangat tepat, dan
bahwa salah satu penyebab yang sangat signifikan adalah berkuasa
terlalu lama, itu dapat kita lihat pada sejarah negara-2 lain pula,
apakah itu Reza Pahlevi, Marcos ataukah Helmut Kohl .. sangat
manusiawi ! Namun tetap secara MORAL dan HUKUM, yang salah ya
harusnya mendapatkan GANJARAN yang mungkin dapat diringankan sesuai
dengan "bobot" jasanya. Ini bukan hal baru, sebab prinsip
pertimbangan itu harusnya senantiasa dipegang oleh pihak penegak
hukum diseluruh dunia. Masalahnya disini, proses tersebut tidak
pernah (akan) dijalankan, karena yang selalu ditonjolkan
adalah "jasa" nya, yang secara quantitative tidak pernah ada yang
dapat mendefinisikan, sementara KESENGSARAAN pada kaum majoritas
sebenarnya amat kasat mata dan TERASA.
Mengenai "Negara industri baru" mungkin ngga ya bahwa itu hanya
sekedar "istilah" untuk menggolongkan suatu bangsa, yang tentunya
didasari dari hasil hitung-hitungan data statistik suatu negara?
Dahulu sekali hanya ada dua istilah, yaitu "Negara industri"
dan "Negara berkembang" dimana kaum kaya tersebut memperlihatkan
upayanya secara terorganisir memberikan "bantuan" bagi yang sedang
berkembang. Lambat laun rupanya tidak sedikit Negara berkembang yang
data nya begitu membaik, yang tentu tidak layak lagi menerima
bantuan, tapi tokh belum sebaik Negara industri. Oleh karena itu,
sejauh ingatan saya sekitar 20an tahun lalu lahirlah
definisi "intermediate", yang utamanya hanya untuk "pengelompokan"
agar dana bantuan dapat lebih tepat teralamatkan. Tapi pertanyaan
saya yang mendasar disini adalah: "Pernahkah negara kita mempunyai
data statistik yang AKURAT?" Sebab bila jawabannya bahwa masih ada
beberapa (atau banyak) data dasar kita yang kacau balau alias rawan
manipulasi atau main kira-kira (misalnya saat pemerintah
membagikan "uang miskin"?), ya apa artinya predikat "industri baru"
itu untuk RI berikut rakyatnya yang masih banyak "megap-megap" ??
Salam,
Bodo


--- In [EMAIL PROTECTED], "walsuparmo"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
> Harap diperahtikan dengan teliti:
> - SUKARNO boleh dikatakan yang "mendirikan" negara Republik
> Indonesia tetapi kemudian mulai MERUSAKNYA, jika tidak keburu di
> hentikan.
> - SUHARTO demikian juga, telah membangkitkan dan mulai membangun
> negara Republik Indonesia dari keterpurukan tetapi mulai
merusaknya
> juga  dan hampir terpuruk lagi seperti semula.
> Apa sebabnya? Mereka TERLALU lama  BERKUASA, dan manusia tetap
> manusia yang tidak lepas dari kesalahan.Mudah2an bangasa Indonesia
> dapat belajar dari sejarah dan bangsa lain.
> Wasalam,
> Wal Suparmo

Kirim email ke