Apakah itu berarti setimpal dengan kekerasan terselubung jaman rezim soeharto dengan intelegen yang luar biasa membabat habis masyarakat yang vokal?
Apakah tidak dilihat bahwa hutang piutang yang dilakukan rezim Soeharto sampai sekarang harus dibayar oleh anak cucu kita? Apakah itu setimpal dengan kekayaan yang bertumpuk-tumpuk menggila yang padahal dari kekayaan beliau itu bisa untuk agenda pengentasan kemiskinan saat ini? Apakah itu setimpal dengan pembangunan mental yang sekarang banyak melanda masyarakat kita "Asal Bapak senang" dan kebudayaan korupsi yang mengakar dari generasi ke generasi? Apakah itu setimpal dengan kerusakan alam, pembabatan hutan, pembangunan yang tidak peduli pada keseimbangan alam dan banjir maut yang sekarang merajalela? Terakhir, apakah kita tidak cukup mengerti ketika melihat IPDN sebagai sebuah "releksi rezim Suharto?" Ketika kekerasan sebuah rezim belum seluruhnya terungkap apalagi di sosialisasi, maka kebaikan-kebaikan itu menjadi semu. Mariana Apakah itu setimpal dengan Friday, April 13, 2007, 7:51:28 PM, you wrote: > Kelompok-kelompok basis, hingga lembaga seperti > PUSKESMAS, kelompencapir dan lain-lain, sebenarnya > cara-cara strategis untuk membangun partispasi yang > nyata dan integratif. > Pak Harto mempunya daya ingat yang jarang dimiliki > orang kebanyakan. Ia bisa bicara berjam-jam dengan > data-data yang masuk dalam "kekuasaan dan kekuatan > ingatannya". Artinya, ia menguasai dengan sangat baik > data, fakta, analisis dan proyeksi stabilitas barang > dan harga. > Maaf, dibanding sebagian menteri kita sekarang, tidak > jelas... bangat proyeksinya. Surplus beras dan busung > lapar jadi tidak berimbang deh... Dengan catatan: saya > pengagum PDIP di masa Pak Harto, sekedar memperbaiki > check and balance: agar, misalnya, Harmoko tidak > memberi yang ABS-ABS-an terus... Obyektivitas yang > coba dikemukakan, SEMATA agar kita memberikan sikap > yang pantas sebagai manusia beradab kepada Pak Harto > di masa tuanya. > wassalam, > berthy b rahawarin
