** Rekans FPK, terutama mas Bodo (yang pasti tidak bodo), saya hanya
pengin menambahkan apa yang saya alami sebagai produk Pendidikan Militer
dan juga telah dididik dilingkungan Militer di 4 benua.  Apa yang saya
lihat dari tayangan TV tentang Pendidikan di IPDN itu memang tidak dan
bukan produk Pendidikan di Militer kita. Makanya, pada tulisan saya
terdahulu mestinya bukan hanya Praja-nya saja yang harus bertanggung
jawab, Pembimbing-nya juga harus memoertanggung-jawabkan kejadian
tersebut.

** Sebagai anggota Militer, pendidikan yang kita terima adalah untuk
membentuk menjadi personil yang Tangguh, sehat jiwa dan jasmani, tidak
gampang menyerah, memiliki semangat yang tinggi, siap untuk mengabdi bagi
Bangsa dan Negaranya. Yang semuanya itu tercermin dalam SAPTA MARGA.
Sehingga Pendidikan di-lingkungan Kemiliteran kita pada dasarnya untyuk
membentuk Prajurit yang SAPTA MARGA-ist.    Nach, apa yang terjadi di
IPDN jangan di- GEBYAH UYAH sebagai pendidikan Kemiliteran.

** Contoh yang baik, lihatlah disekolah SMA Taruna Nusantara. Karena
Pembina-nya melaksanakan Pengajaran dan pembinaan yang benar, maka
hasilnya juga bagus.

** Nach , kalau IPDN memang merupakan Pendidikan untuk calon Pamong
Praja....ya harus ada perombakan, tanpa perlu membubarkan. Pembenahan SDM
pengawakan Pengajar, kurikulum maupun manajemen-nya. Kalau dianggap
melanggar UU Sisdiknas, ya harus dibenahi organisasinya. Sebagai Pamong
Praja mereka harus mendapat bekal yang memadai, ya fisik-nya yang bauk ya
Leadership nya ataupun sebagai Guru (Pamong) untuk lingkungan yang harus
dilayani-nya.  Marilah, kita sebagai orang-2 yang berpendidikan Tinggi ya
harus memberikan acuan yang positif buat Pembelajaran bagi negeri
tercinta ini.

** Salam hormat dari the Old Navy di Juanda SBY.

  ----- Original Message -----
  From: bodo_kerlchen
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Presiden: Hentikan Kekerasan di
  Lembaga Pendidikan
  Date: 11 Apr 2007 14:10:38 -0700

  Sebelumnya, izinkan saya untuk menyampaikan satu hal, demi
  menyamakan pemahaman kita secara umum terlebih dahulu:
  Sikap "disiplin" bukan monopoli kalangan militer, jadi bagi seluruh
  mahluk bermasyarakat, pengertian disiplin sebagai salah satu tujuan
  dari proses pendidikan adalah sikap TERTIB dan TAAT terhadap ATURAN
  yang telah merupakan KOMITMEN, baik itu UU, aturan Lalu Lintas,
  Aturan Perusahaan, Persetujuan antar idividu, dll dll. Sedangkan
  topik diskusi kita adalah "kekerasan sebagai methode pendidikan"
  (yang konon untuk mewujudkan sikap disiplin). Kita setuju dalam hal
  ini bukan ?

  Saya hanya ingin menggunakan logika dalam menguraikan
  beberapa fakta yang saya alami sendiri. Pertama, di beberapa negara
  maju di eropa methode kekerasan didalam pendidikan telah diHAPUS
  sejak berakhirnya perang dunia kedua. Kebetulan saya mempunyai
  kesempatan belasan tahun terintegrasi dalam kalangan "produk methode
  tanpa kekerasan" tersebut, walaupun methode pendidikan saya saat
  kecil, seperti halnya yang lazim di sini (zaman saya belum ada
  sekolah Montesouri?). Hasilnya, mereka jauh lebih disiplin dan
  tertib dari pada saya yang selama belasan tahun itu hanya dapat
  mengambil pelajaran dari lingkungan itu dengan cara KOMUNIKASI dan
  MENIRU. Kedua, sejak belasan tahun terakhir saya memutuskan untuk
  hidup serumah dengan hewan yang berpotensi tinggi untuk dikatakan
  BERBAHAYA (berat lebih dari 50 kg, keliling leher nyaris 80 cm).
  Setelah mempelajari dari sumber-2 yang kompeten secukupnya, baru
  saya sadari bahwa satu-satunya cara untuk meminimize potensi bahaya
  tersebut, adalah methode pengajaran yang TEGAS dan KERAS secara
  terukur. Sebab bila tidak, bukan hewan yang menyesuaikan diri dengan
  tuannya, melainkan sebaliknya !! Alias IMPOSSIBLE, karena itu bukan
  niatan saya !!

  Methode Komunikasi dan Pengertian tentu tidak akan
  berfungsi dalam hal ini. Saya mohon dengan sangat, tetap fokus ke
  topik kita, yaitu methode pendidikan atau pengajaran sehubungan
  dengan kekerasan. Jadi tolong jangan dibelokkan, bahwa saya sedang
  memanusiakan hewan atau menghewankan manusia. Untuk saya penting
  contoh yang drastis ini, sebab Komunikasi tanpa kekerasan adalah
  prioritas utama utk mencapai TERTIB pada MANUSIA, namun ada kondisi
  yang mengharuskan lain. Btw, kemarin pihak militer telah
  mengeluarkan statement, bahwa methode pendidikan di IPDN (terutama
  apa yang kita lihat di TV) BUKAN methode pendidikan militer RI.
  Begitu pula, korupsi berjamaah tidak harus merupakan produk
  pendidikan Militer.

  Namun kita tentu dapat maklumi, bila kondisi "MANUT" atau yang pernah
  saya tulis "absolute hierarchy acceptance" itu terwujud di suatu
  kalangan pemegang wewenang, maka itu akan amat sangat menunjang
  pewujudan Korupsi berjamaah, yang kebetulan akhir-akhir ini
  terINDIKASI sangat marak terjadi dinegeri kita tercinta ini.

  Salam,
  Bodo

  

Kirim email ke