Rekans, Jasa Suharto ? Salah satu warisan suharto yang menyebabkan kondisi bangsa seperti saat ini adalah kehancuran moral bangsa melalui serangkaian kebijakan dan tindakan suharto yang sangat materialistik-kapitalis dan nepotis-koruptif. Mengapa demikian ? karena suharto kehilangan character diri dan "berhasil" memandulkan character bangsa.Keberhasilan yang bisa dicatat dari suharto adalah pembangunan fisik karena bisa dilihat secara langsung (meskipun di baliknya adalah kebobrokan karena meninggalkan beban hutang luar biasa dan berhasil memperkaya diri, kelompok dan kroni-kroninya). Sukarno bukan manusia super dan sempurna. Namun paling tidak, sukarno coba meletakkan sebuah fondasi perjuangan pembangunan bangsa di atas landasan yang berkarakter (nation character building). Berbagai persoalan bangsa saat ini mungkin berakar dari atau disebabkan karena kita kehilangan character. Seorang ahli mengatakan "WHEN WEALTH IS LOST NOTHING IS LOST; WHEN HEALTH IS LOST SOMETHING IS LOST; AND WHEN CHARACTER IS LOST EVERYTHING IS LOST". Bangsa ini kehilangan kesempatan untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya, karena pemimpinnya tak bercharacter. Jadi "jasa" suharto adalah proses kehancuran bangsa menjadi bangsa yang tak memiliki jati diri dan harga diri. salam, Yohanes
________________________________ From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of kancono_w Sent: Thu 4/12/2007 12:13 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Jasa Suharto ?? Pak Wal Suparno dan rekan2... Saya membaca tanggapan Pak Wal ada bagian yang tidak sependapat, jika Sukarno sebagai "funding father" NKRI ini dikatakan seperti nukilan berikut: >- SUKARNO boleh dikatakan yang "mendirikan" negara Republik > Indonesia tetapi kemudian mulai MERUSAKNYA, jika tidak keburu di > hentikan. Kata "mulai MERUSAKNYA" itu telah menimbulkan salah persepsi yang fatal "seolah beliau sengaja berbuat anarkhis" untuk kepentingan diri sendiri dan klan-nya. Tentunya kita mahfum bahwa sejak merintis perjuangan menghimpun kekuatan kebangsaan dalam partai nasionalis, beliau mempunyai visi yang sangat jauh ke depan (baca buku; Di Bawah Bendera Revolusi). Hal ini termanifestasi dalam cara berpikir dan tindakannya yang tidak condong ke arah sektarian dan SARA. Adapun kondisi pada saat itu beliau menempatkan diri sebagai wakil bangsa dari berbagai kaum dan golongan, agar ber-maruah (punya harga- diri) untuk berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa- bangsa lain di dunia. Jika taka merusak berkaitan dengan "Demokrasi terpimpin", maka yang beliau konsepkan pada saat itu adalah merupakan "proses" karena sebagai suatu bangsa yang baru lahir dari perjuangan merebut kemerdekaan belumlah sekuat negara-negara besar seperti Cina, Rusia dan imperialis barat (USA dan sekutunya) dan oleh karenanya memerlukan mekanisme kepemimpinan alternatif tersebut. Meredupnya sistem pemerintahan pada zaman beliau adalah karena infiltrasi luar yang dilakukan oleh imperialis dan kapitalis barat, dan tidak ada alasan dan kepentingan beliau untuk merusak negara yang telah beliau dirikan dengan segala pengorbanan semua elemen bangsa. Mungkin ceritanya dari sini; Beliau menyadari bahwa selain 4 pulau besar di kepulauan Nusantara yang amat kaya dengan sumber daya alamnya, ada juga Irian yang perlu dibebaskan kelak. Hal inilah yang bertentangan dengan negara-negara imperialis dan kapitalis barat saat itu, yang sudah tentu ingin tetap menguasainya agar leluasa menjarahnya demi kemakmuran negeri mereka. Buktinya sekarang kita dikadali oleh Freeport dan lain- lainnya yang mencengkeram di sana. Saat itu, ketika negosiasi perebutan Irian Barat memerlukan "support system" modal dan senjata serta amunisi untuk memperjuangkannya, "tiada langkah lain" kecuali membentuk poros dengan negara-negara yang anti-nekolim yang lebih peduli dengan perjuangan bangsa. Hal inilah yang ditakuti imperialis dan kapitalis hingga berkepanjangan, terjadi "chaos" dan tragedi kemanusiaan 1965 dengan infiltrasi pihak luar yang punya kepentingan itu melalui tentara yang tidak sehaluan. Jadi sebagai insan yang bangga sebagai bangsa Indonesia ini, saya merasa tidak benar kalau beliau dikatakan MERUSAK. Alasan lainnya juga, bahwa pemerintahan yang lama pun saya kira "tidak sepenuhnya" merusak sistem dan kondisi kenyamanan bernegara, hal ini tergantung siapa pemimpinnya (contohnya: Fidel Castro di Cuba, Mahatir Mohammad di Malaysia, dan juga Sadam Hussein di Irak sebelum paranoiak USA masuk). Mohon maaf, kcn,-
