Menjadi manusia memang tidak selalu memiliki penilaian
dan sikap yang benar secara absolut. Kak Seto yang
juga sering tampil itu, dalam beberapa kasus memang
bila tidak hati-hati, memposisikan diri pada peta blok
tidak netral. Seperti, kasus tewasnya anak di
Carrefour ucapan Kak Seto menjadi pedang bermata dua,
dan melemparkan kak Seto ke syak-wasangka yang
menjauhkannya dari netralitas/obyektif. Ini perhatian
bagi setiap orang dengan popularitas tetapi tanpa
kehati-hatian. Atau, kak Seto itu warna dasarnya
sekedar popularitas untuk melariskan bisnis
perusahaannya yang berkaitan dengan anak, dan bukan
pembelaan hak anak itu an sich (?). Maaf, sebaiknya
kita kritis sebelum yang bersangkutan berjalan jauh
kedalam pragmatisme akut, sementara dunia yang
ditekuninya meminta sedikit idealisme. Jadi, "Kak
Seto, jangan jual obrolanmu tentang anak. Itu
phedophile-intellect: pemerkosaan hak anak." (Baca
juga, komentar "Kak Seto Genit!": Ttg kematian anak di
Carrefour)

wassalam, 


berthy b rahawarin






--- Martin Widjaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Iwan yg baik,
> 
> Saya masih terbayang2 Pak [ bukan Kak lagi ] Seto
> Mulyadi 
> yg nge-gendong2 si Radju [ 'preman kecil' yg mukulin
> sebayanya
> di Medan ] tampil di TV dulu..
> Buat saya Komnas HAM Anak sekarang cuma cari
> popularitas 
> belaka, kurang kerjaan , mumpung ada kasus yg asyik
> numpang beken ...
>  maaf jadi apriori nih ...mumpung nggak ada kan
> anggauta Komnas 
> HAM anak di milis ini ...
> 
> Salam , martin - indiana

Kirim email ke