Bung Manneke,

saya sering membaca opini dan kupasan Anda tapi untuk yang satu ini saya 
benar-benar acungkan dua ibu jari saya. Kupasan di bawah sungguh bernas dan 
unik, bila ditambah kutipan kaki dari buku asli Kartini atau buku lain tentang 
Kartini, bisa jadi artikel ilmiah.

BRAVO

Indah

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Ini 
pandangan saya. Tujuannya sama dengan postingan Anda: untuk memberikan 
pemahaman yang lebih baik dalam memaknai perjuangan Kartini:
    
   Versi 1: Ini berbau teori konspirasi. Cuma bisa curiga tapi tak punya bukti. 
Surat-surat Kartini tak cuma ditujukan pada Rosa Abendanon, tapi juga kepada 
sahabat penanya di Belanda yang tak pernah ditemuinya, yaitu Stella 
Zeehandelar. Nada dan isi surat Kartini buat kedua orang ini sama. Stella tak 
mungkin kongkalikong dengan Rosa dalam merekayasa surat Kartini, karena ia tak 
menyukai Rosa Abendanon. Ia bahkan rada menyalahkan suami-istri Abendandon atas 
kematian Kartini yang terjadi hanya setahun setelah ia menikah dan beberapa 
hari setelah melahirkan putra pertamanya.
    
   Versi 2: Kartini menikah dengan suaminya yang duda dan berusia jauh lebih 
tua bukan karena kesukarelaan. Ia terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang sangat 
dicintainya dan pada waktu itu sakit-sakitan. Ketika hal tak terhindarkan ini 
akhirnya harus terjadi, Kartini "bernegosiasi" dengan calon suaminya. Ia ingin 
diperbolehkan melanjutkan cita-citanya membuka sekolah bagi perempuan Jawa, dan 
Bupati Rembang setuju. Kartini juga bertekad mendidik anak-anak sang Bupati 
agar tumbuh menjadi orang yang tidak menomorduakan perempuan. Dengan kata lain, 
ia menggunakan "perkawinan paksa"-nya dengan sang Bupati sebagai jalan untuk 
terus melanjutkan perjuangannya. Jadi, ia tetap konsisten sampai akhir: menolak 
untuk toleran terhadap adat Jawa yang feudal maupun kebiasaan poligami yang 
dipraktikan pria-pria Muslim di Jawa.
    
   Versi 3: Problema ini tak hanya dihadapi Kartini, tapi juga pahlawan 
Indonesia lain, seperti Teuku Umar, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, Diponegoro, 
Pattimura, dll. Keindonesiaan sebagai sebuah nasion baru secara resmi mengemuka 
tahun 1928 saat Sumpah Pemuda. Namun, perjuangan pada skala lokal yang ditempuh 
para pahlawan itu dinilai menjadi inspirasi bagi lahirnya suatu paham 
kebangsaan yang lebih universal sifatnya di Hindia Belanda. Di Eropa saja pada 
awal abad ke-20 feminisme masih baru jabang bayi. Eh, di Hindia Belanda yang 
primitif sana kok sudah ada perempuan yang punya kesadara feminis yang tinggi? 
Di sinilah nilai perjuangan Kartini.
    
   Versi 4: Inti perjuangan Kartini adalah pembebasan perempuan dari penindasan 
adat dan laki-laki, bukan pembebasan bangsa dari penjajah asing. Jangan 
campur-adukkan gender dan nasionalisme. Akibatnya, perjuangan gender harus 
dinomorduakan setelah perjuangan kemerdekaan. Jangan lupa, tak jarang 
kemerdekaan justru menjadi awal penjajahan bagi perempuan. Merdeka dari 
penjajah asing tak serta-merta membawa kemerdekaan bagi perempuan dari 
penindasan patriarki. Kartini pun sebetulnya juga kritis terhadap sikap 
diskriminatif bangsa Eropa terhadap pribumi. Ini terlihat baik dalam 
surat-suratnya untuk Rosa Abendanon maupun Stella Zeehandelaar. maka itu, 
Kartini disebut sebagai pahlawan emansipasi perempuan, bukan pejuang 
kemerdekaan.
    
   Versi 5: Kartini juga mendirikan sekolah putri bersama adiknya, Rukmini. Ia 
juga menceritakan sekolahannya ini kepada teman-temannya yang orang Belanda. 
Jadi, mendidik perempuan Jawa bukan cuma sekadar cita-cita, tetapi sudah 
terwujud bahkan sebelum ia dipaksakawin dengan Bupati Rembang. setelah kematian 
Kartini dalam usia cukup dini, sekolah itu dilanjutkan oleh Rukmini. Jadi, tak 
tepat membading-bandingkan jasa Kartini dan Sartika.
    
   Versi 6: Jawabannya sama dengan Versi 3. Gugatan serupa juga bisa dikenakan 
kepada banyak pahlawan Indonesia lain. Jadi, kenapa fokusnya ke Kartini saja? 
Kenapa para pahlawan laki-laki yang skala perjuangannya juga sangat lokal tidak 
dipertanyakan kadar kepahlawananannya? Atau perjuangan hanya dimaknai tinggi 
jika memakai bedil dan granat? Ini pengertian "perjuangan" yang sangat maskulin 
dan menghapus kontribusi perjuangan perempuan. Di balik gugatan terhadap 
Kartini ini, tersembunyi agenda anti-feminis yang kentara. Bahkan soal tanggal 
21 April pun dipermasalahkan. padahal, Kartini tak pernah menuntut agar tanggal 
lahirnya diabadikan sebagai hari nasional. Ini kan kerjaan para pimpinan 
nasionalis yang laki-laki juga?
    
   manneke
 
 

Kirim email ke