At 09:17 PM 4/21/2007, you wrote: >Saya nggak begitu paham soal nelayan. tapi rasanya nggak jauh dr usaha >tani juga... penuh nelayan kecil yg terseok seok.. > >Sayangnya upaya penyuluhan Perikanan juga terkena lesu darah, sementara >perikanan industri tidak bertumbuh kembang seperti yg diharapkan sehingga >daya serapnya terhadap nelayan2 tradisional juga tidak cukup signifikan. >Salah satu masalahnya adalah tidak dikuasainya jaringan pemasaran ikan >tuna oleh Indonesia.
Jaringannya sudah dikuasai oleh negara spt Thailand, Taiwan..., dan mrk melindungi kepentingannya tidak sebagai satu persatu nelayan.. tetapi sbg kesatuan Thailand Inc,, sehingga kalau pengusaha dari negara lain mau masuk , kalau perlu mrk halangi dengan melakukan penurunan harga.. sampai yg baru mau masuk itu kelimpungan..Kalo kita , belum bisa mengkoordinir pemain perikanan kita utk bersama melakukan itu.. >Ada juga keganjilan2 di bidang perikanan tangkap ini, banyak nelayan2 >asing yg memasuki perairan Indonesia bai legal maupun ilegal. Melihat >kenyataan ini kan tidak mungkin nelayan2 asing ini jauh2 datang ke >Indonesia kalau usahanya tidak menguntungkan. Namun kalau kita tengok >keluhan yg muncul dari "Nelayan" Indonesia salah satunya adalah mahalnya >atau ketidak mampuan mereka membeli bahan bakar untuk operasi. Padahal >hasil tangkapnya dijual/diekspot ke luar negeri. Bandingkan dengan >nelayan2 asing yg datang ke perairan Indonesia?? Atau mereka dapat subsidi >BBM dari pemerintah mereka??? ah jangan pula wajah buruk cermin yg di pecahkan.... BBM mereka pasti lebih mahal.., tapi kapal mrk yg besar .. mampu mencari dilaut lebih dalam.. dengan tangkapan lebih banyak.. dan lengkap pula dgn cold storege, bahkan pengolahan pasca panen awal.. sehingga kerusakan bukan saja dicegah, , tapi benar benar mampu menghasilkan kwalitas tinggi. 10 persen saja bisa meningkatkan yield.. pastilah biaya bahan bakar tertutup.. Masa iya komponen bahan bakar lebih dari 10 persen biaya.. ?? Kalo kita tangkapannya sedikit... sampai di darat juga.. shelf life tinggal 2-3 hari.. terus ikannya busuk... Nelayan /petani kita punya ukuran usaha yg terlalu kecil .. susah efisien... Bagimana ya caranya supaya .. mrk dpt pendapatan yg cukup... walau mrk bekerja di luar bidang semula.. sementara hsl pertanian dan perikanan tetap meningkat.. spt trend diegara lain ?? >Jadi banyak sekali masalah yg ada di dunia perikanan khususnya nelayan >tradisional, yg saya pikir keadaannya/taraf hidupnya tak kunjung beranjak >ke arah yg lebih baik. Tidak cukup hanya berteriak bahwa mereka harus >ditolong, perlu pemikiran matang dan konsisten serta implementasi yg >terukur dan terus menerus. menurut sy.. ini krn orba yg 30 tahun berjaya. itu tidak pernah benar benar memikirkan pembangunan pertanian.. seperti misalnya dilakukan oleh Thailand, Malysia dan lain... Mrk tahunya ngeruk duit buat dirinya, bikin lapangan golf dan mall.. Pertanian dikesankan dimasyakarakat sesuatu yg tak berpotensi... asal tahu aja.. IPB itu dipelestkan Institut Pelarian Bogor.. artinya.. nggak diterima di ITB atau UI ya .. terpaksa lari kuliah ke Bogor ( bagiku itu nggak benar lho.. krn aku sebenarnya diterima thdi ITB, tapi krn satu dan hal lain milih IPB smile.) Kalu saja pd masa itu.. dimana negara tetangga pertaniannya belum sehebat sekarang..., seeprti mrk kita juga bangun prasarana.. yg memadai..., membiayai peneltian yg siap pakai , melakukan pendidikan melaui penyuluhan yg tepat... tentu ceritanya lain.., sekarang.. kedaan lebih berat... kita telah tertinggal jauh.. walau begitu memang nggak ada kata terlambat.. utk mulai...betterlate than never >Salah satunya adalah memberdayakan lagi gabungan antara penyuluhan >lapangan Perikanan dan penelitian dan pengembangan usaha. > >Sebagai contoh setahu saya di daerah Jawa Timur ada nelayan yg juga >petani, jadi manakala musim sedang tidak memungkinkan mereka melaut, maka >mereka bisa beralih ke pertanian atau kerajinan/industri rumah tangga. kata "lagi " yang dibuat Mas Kukuh , mengesankan hal itu pernah dilakukan dengan baik..., dan rasanya itu nggak benar..., lha dengan persaingan yg belum sehebat sekarang aja dr dulu nelayan nggak pernah maju.... , kalo ada hsl pertanian yg maish OK.. itu hsl sisa peninggalan jaman Belanda spt karet dan gula..sekarng pun pohon karet pun sudahtinggal yg tua.. denganhasil latex per pohon terendah di dunia.. :( Ketika tahun 72 sbg mahasiswa IPB sy ikut tim studi banding pendidikan pertanian di Malaysia, terlihat jelas komitmen pembangunan pertaniannya, antara lain dimana disetiap pusat pertanian , diadakan pusat peneltian utk komiditi yang sangat bagus. Hasil penelitiannya langsung disosialisasikan ke petani/nelayan yg ada disekitarnya.. Konsumen pun disebarkan leaf let cara utk mengenali mana produk pertannian yg baik.. Disitu sy temukan misalnya... bagaimana caranya memngetahuyi/menilai durem atau buah lain yg bagus. Pada gilirannya, ini akan membawa apresiasi konsumen, yg akan mencari hanya produk pertanian yang bagus, sementara petani diajarkan juga bagaimana membuat hsl pertanian tg bagus.. Sebuah sikklus yg bagus utk memajukan pertanian...konsumen menuntut produk bagus, petani tahu cara buat yg bagus. Kalo sekarang.. saya ( dan rasanya ada teman lain disini yg juga begitu ) tahunya ya duren Tahiland yang bagus..:( Bagaimana dgn Indonesia ..?? ah balai yg ada kebanyakan kan balai penelitian peninggalan jaman Belanda... :( Dosen pembimbing tim studi banding.kami , . kemudian berinisiatip menerapkan nya dengan mendirikan lembaga penelitian serupa, Pusat Pengembangan Teknoligi Pangan... tapi itupun kemudian merana.. maklum biaya penelitian nggak pernah dianggarkan cukup.., sehingga fasilitas penelitian yang ada mubazir.. dan rasanya itu juga banyak terjadi pada lembaga penelitian lain.. Saya belum pernah ke Thailand.., tapi kata teman teman.. luar biasa komitmen pemerintahnya utk mengadakan prasarana, penelitian.. yg mendukung pertanian.. juga pemasarannya.. sehingga ada pasra khsusu pertanian.. yang mau kita tiru dlm pembuatan "terminal agribisnis " yang sampai sekarang nggak terwujud.. Menko Ekuin sekarang punya proyek .."pasar antara " yg mau di bangun dalam kerangka pemasaran hasil pertanian/perikanan... Sekarang bagian saran... Salah satu saran konkret sy, adalah manfaatkan pasar dalam negeri.. kecuali katakanlah 10 komoditi yg bisa ekspor. ( misal swit, karet , tuna ) ., maka yg lainnya diarahkan pada pemanfaatan pasar dalam negeri.. Soalnya bersaing keluar negeri sudah sulit..., jadijangan sampai pasar dalam negeri juga dikuasai asing.. Yang terjadi sekarang.. bukannya kita ekspor... bahkan pasar dalam negeri kita diserobot oleh produk luar negeri.. Ketika kemarin sy ikut wokshop USAID.. tentang bantuan apa yg bisa dilakukan USAID utk membantu pertanian Indoensia , terungkap data.. bhw di hypermarket kita , buah yg dijual lebih dari 80 persen adalah buah hsl impor. Kemarin.. sy beli juice.. dgn private label Care4 , yang harganya murah banget.., beli satu berhadiah satu dan .. enak banget rasanya.. benar serasa jus buah asli..( soal asli atau nggaknya belum tahu ) Ada hal lucu di dunia industri pertanian kita... Jauh lebih mudah mengimpor barang jadi hasil industri pertanian drpd impor pada bahan baku nya.. Ambil contoh.. anda produsen permen/kembang gula.. yang butuh bahan baku gula.krn produk dalanm negeri kurang dan mahal pula...., maka jauh lebih sulit mengimpor gula yg bahan baku , ketimbang barang jadinya.. Utk bahan baku gula kan dikenakan pajak puluhan persen, sementara produk jadinya boleh masuk dengan pajak 5 %. Sebagai akibat , produk luar negeri ... , yang di LN,bahan baku diperoleh murah dan cukup , dan , tidak ada biaya tinggi , seperti korupsi, bunga bank yang tinggi.,transportasi mahal . dapat merajalela dengan mudah nya di negara kita.. Sebagai akibat.. industri pengolahan dalam negeri akan hancur..kalah bersaing dgn produk impor , lalu tutup.. sebagai akibat.... , produsen pengolah yang tadinya membeli produk pertanian dalam negeri.., karena tutup , tidak lagi membeli hsil pertanian dalam negeri.. sebagai akibat . petani kehilangan pasar yang besar karena tutupnya industri pengolahan dlm negeri, sementara produk yang dijual di hypermarket,, yg hsl impor tidak memakai se gram pun produk dalam negeri.. Trend ini akan terus mengelinding, misalnya pada produk sari buah.. pada produk sosis . pada produk susu.., pada produk sereal dst nya... Seharusnya yg terjadi adalah sebaliknya... , produk jadi diperberat syarat mausknya.., bahan baku boieh masuk hanya utk industri pengolahan yg kekurangan pasokan dalam negeri ., yg diharsukan membeli secara proporsional bahnbaku dalam dan luar. Kalau produk bhn baku dlm negeri kemudian meningkat . impor dikurangi.. Bahan baku yg diimpor.. dipajaki..sedemikian sehingga masih tetap efisien bagi industri,, tapi nggak terlalu jauh dr harga produk bhn baku lokal..., pajaknya di gunakan urtk membangun prasaran pertanian. sehingga suatu waktu nanti.. produk budi daya pertanian dalam negeri maju. Bahan baku impor buah..., pajaknya utk membangun budidaya buah..yg daging utk budi daya daging dst nya. Kemajuan akibat pendirian industri pengolahan , walau sebagian bahan baku diimpor dengan murah, akan menyebakan terbukanya lapangan kerja, yg dapat menampung tani/nelayan yg mau pindah profesi.. Dikalangan industri..bagi karyawan sesial sialnya pendapatan adalah UMR.. , yang di Jakarta besar nya mendekati Rp.1. juta, bisa jadi lebih baik dr jadi nelayan kecil. Itu belum terhitung jatah makan siang dan pengobatan..yang mungkin diperoleh juga. Ini nggak mau dikerjakan ??? bagi pengusaha jalan keluarnya gampang... relokasi.. bubarkan pabrik di Insdonesianya,.. tinggal pertahankan marketing dan brand produknya..., pindah ke Vietnam.. , produksi di Vietnam , ekspor ke Indonesia , manfaatkan pasar Indonesia yg memang sudah diketahui krn sudah pengalaman memasarkan. besarlah si pengusaha.. dan meranalah karyawan pengolahan Indoensia yg ditutup karena di PHK , meranalah para pemasok hsl budidaya pertanian Indonesia yang kini tak dibeli lagi oleh perusahaan , , Is that right Friend...??? Makanya jangan buka Care4 baru .. yang nggak nambah hasil produksi..nggak nambah penawaran produk.. malah memasukkan private label seperti jus buah Care4 yg impor dr Perancis.. Tapi bangunlah .. industri pengolah di Indonesia.. dgn menyediakan bahan baku yang memadai .. entah impor entah lokal.. dan kemudian... dengan adanya pabrik ini.. maka permintaan akan hasil budi daya di dalam negeri meningkat.. maka ketersediaan lapangan kerja meningkat dan dengan keindonesiaan kita.. marilah kita jadikan Indonesia kita berjaya... bukan jadikan Indonesia kita, ladang pembantaian oleh produk asing dan orang asing . Saya gunakan ilustrasi.. di bidang pengolahan pangan.. yang saya banyak bergelut didalamnya.. tetapi sebenarnya hampir semua jenis industri Indonesia mengalami nasib sama.. Mungkin perlu Hamengku Buwoni jd Presiden berikut... :( , nah loncat pembicaraan.. intinya sih..perlu ganti strategi... begitukan kata Hamengku Buwono menurut Kompas Minggu hari ini ?/ Sekedar tambahan.. tahukah anda. bhw Vietna membangus sebuahkawasan khusus industri pengolahan pangan.. lengkap dengan pelabuhan.., lab Qualitu Control dan fasilitas lainnya.. siap juga menampung relokasi perusahaan manapun dari negara manapun.. Salam Hnaiwar
