Para ahli dan aparat hukum kita lebih ahli memanfaatkan sisi cacat dan lemahnya hukum ketimbang ahli dalam mengobati permasalahan hukum yang impoten tidak bisa berereksi. Ibarat berhadapan dengan supir angkot yang tahu persis seluk-beluk rute jalan yang berlubang-lubang, berkelok, naik-rurun dan licinnya luar biasa. Kita fikir karena para supir ini sudah kenal betul seluk beluk rute jalan, maka kita merasa lega jadi penumpangnya karena akan selamat sampai tujuan dengan cepat. Tapi betapa anda kecewanya ternyata bukannya supir itu lihai menjinakkan lubang dan mengatasi licin tapi malah terkesan sengaja menabrak-nabrakkan mobilnya kearah setiap lubang jalan dan menyetir cuek dijalan yang licin sampai akhirnya mobil mogok rusak ambruk tidak bisa melanjutkan perjalanannya. ketika ditegur kenapa pak supir menerjang lubang-lubang itu, jawabnya karena jalannya jmemang begitu dan salah Departemen Pekerjaan Umum tidak mengaspal jalan. Ketika diminta meneruskan perjalanan ketujuan jawabnya tidak bisa karena mobilnya sudah mogok. Mobil yang sudah mogok begini tidak bisa dipakai lagi untuk meneruskan perjalanan menurut aturan perusahaan angkotnya. Rupanya Munir ada dalam mobil angkot yang saya sebutkan tadi. Kendaraan hukumnya sudah terjebak dilubang jalan. Sebaiknya kita minta nasihat hukum ke ahli astronomi atau ahli geologi barangkali. SH
On 4/19/07, Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > nanya... memang Polly boleh diaidli lagi utk perkara yg sama ?? > > pasti masalah dr sisi ini juga bisa ramai ya..., putusan MA kan final... > > lalu orang nggak boleh diaidli dua kali utk perkara yg sama... > > ada ahli hukum mau beri pencerahan ?? > > salam > > Haniwar
