Pak Menteri KK yang saya hormati;

Satu hal yang  membuat saya terus bertanya2, mengapa pemerintah terus
saja mengambil fiskal perjalanan ke luar negeri? Kalau dipikir2, hasil
yang diperoleh pemerintah sangat tidak sebanding dengan kerugian rakyat
negeri kita. Kalau akses ke luar negeri tidak dipersulit dengan biaya
fiskal, saya yakin akan sangat banyak rakyat kita yang bisa bepergian ke
manca negara, sekaligus akan menambah wawasan dan memperluas pola
berpikir mereka. Hal mana tentu kita harapkan juga berkorelasi positif
terhadap perilaku mereka sehari2, mis dalam hal kedisiplinan, semangat
juang, budaya unggul dalam mengerjakan segala sesuatu,dsb. Dalam
beberapa perjalanan saya ke luar negeri, percakapan dengan beberapa
teman dari negara bersangkutan juga menunjukkan keheranan mereka atas
apa yang pemerintah kita lakukan dalam hal fiskal ini. Tambahan lagi,
fiskal juga tidak diberlakukan bagi mereka yang berpaspor luar Jawa dan
berangkat ke luar negeri dari luar Jawa juga. Bukankah ini satu praktek
diskriminasi? Bingung juga saya pak KK. [:-/]  [:-?]

tabik,

jonas
--- In [email protected], Suhardiman Supandi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Slogan birokrasi kita kita " KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA HARUS
DIPERMUDAH..?? Tapi kita musti ingat bahwa Singapura tidak kurang
brengseknya dengan kita, banyak pendatang-pendatang dari Indonesia
dipersulit ketika masuk Singapura, seringkali kita di interogasi di
kamar khusus hingga berjam-jam. Jadi kalau mau hitung-hitungan sebenarny
keduanya, tapi saya setuju hal ini diteruskan ke dirjen bea cukai agar
mereka buka mata benar bahwa pejabatnya banyak yang brengsek, perampok
halus, dll. Dan saya kira tidak ingat nama nggak masalah yang penting
ingat wajah itu sudah sangat membantu, namun itu harus terus ditindak
lanjuti dan di buru.
>
> Suhardiman Supandi

Kirim email ke