KOMPAS/Senin, 23 April 2007
Pemanasan Global dan Kita
Ivan A Hadar
Pemanasan global berdampak negatif nyata bagi kehidupan ratusan juta warga
di dunia.
Demikian laporan para pakar yang tergabung dalam Intergovernmental Panel
on Climate Change. Salah satu dampaknya, suhu permukaan bumi sepanjang lima
tahun mendatang meningkat plus dampak lanjutan, antara lain kegagalan panen,
kelangkaan air, tenggelamnya daerah pesisir, banjir, dan kekeringan (Kompas,
12/4/2007).
Beberapa waktu lalu digelar diskusi terbatas, difasilitasi instansi
pemerintah terkait tentang Daya Dukung Pulau-pulau di Indonesia, khususnya
Pulau Jawa. Serial diskusi ini diharapkan menghasilkan intellectual agreement
guna meramu rekomendasi kebijakan pengembangan dan pengendalian kewilayahan.
Kajian dilakukan melalui tiga pendekatan, terkait daerah tangkapan sungai
(watershed), ecological carrying capacity, dan Green GDP. Sebuah langkah
strategis dan mendesak. Tidak hanya karena Indonesia sepakat melestarikan
lingkungan seperti termaktub dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), tetapi
juga saat dihadapkan kenyataan terjadinya bencana beruntun.
Sepuluh tahun lalu, studi South Pacific Region Environment Programme
meramal, pada pertengahan abad ke-21, sebagian besar daerah pertanian, tambak
udang di pantai utara Jawa, dan beberapa pulau kecil di Indonesia bakal
terendam air akibat muka laut naik 45 cm. Penyebabnya, suhu global naik 2,5
derajat Celsius akibat peningkatan emisi CO2 200 persen.
Industrialisasi
Tampaknya, dua abad industrialisasi telah merusak keseimbangan kimiawi dan
fisika atmosfer bumi. Miliaran ton CO2 dari pembakaran batu bara, migas, kayu,
dan berjuta ton gas methan akibat eksplorasi gas bumi atau yang mengudara di
atas tanah persawahan di Asia telah mengubah lapisan udara menjadi perangkap
panas. Sebuah perangkap raksasa yang berfungsi seperti rumah kaca, menyekap
panas sinar matahari dengan akibat peningkatan suhu Bumi.
Efek rumah kaca ini kian bertambah akibat penggunaan gas CFC di seluruh
dunia. Gas yang melubangi lubang ozon sebagai perisai bumi atas sinar ultra
violet, menyebabkan perubahan zona cuaca. Saat sebagian Afrika mengalami
kekeringan, naiknya permukaan laut telah menelan kawasan subur yang menjadi
sumber kehidupan jutaan penduduk seperti dataran rendah Po di Italia, Delta
Gangga di Banglades, Mekong di Vietnam dan Kamboja, Huang He di China, serta
pantura Jawa. Pada saat sama, tiap tahun, bumi kehilangan 25 miliar hektar
lahan subur akibat kerusakan lingkungan.
Satu hal pasti, waktu yang tersisa untuk mengurangi efek rumah kaca secara
drastis tidak banyak. Bahkan, menurut pakar biologi Thomas Lovejoy dari
Oceaian Institute di Washington, pertarungan menentukan menang kalahnya kita
melawan laju pencemaran lingkungan, seharusnya terjadi pada dekade lalu. Bukan
pada abad ke-21 ini.
Teknologi nonfosil
Perspektif lingkungan hidup yang kelam memacu para politisi dunia dan
manajer masa depan untuk bereaksi. Kini, hampir tak ada satu minggu pun yang
terlewati tanpa sebuah negara atau PBB melakukan seminar bertema lingkungan
hidup. Di hampir semua negara industri, krisis iklim menjadi masalah teratas.
Masih, Terbentang jurang luas antara kata dan tindakan, kata Mustofa
Tolba dari UNEP, badan lingkungan hidup PBB. Sudah menjadi rahasia umum,
biang pencemaran adalah pemborosan energi dari negara-negara industri. AS dan
Rusia, yang secara bersama mempunyai penduduk sekitar 10 persen penduduk
dunia, menghasilkan 20 persen muntahan CO2. Sementara penyebab tingginya
muntahan CO2 di Rusia adalah alat produksinya yang tua dan tidak efisien; di
AS hal itu disebabkan pola hidup konsumtif warga.
Para pakar sepakat, untuk membatasi kenaikan temperatur global agar tidak
lebih dari 2 derajat Celsius, selain seluruh produksi CFC harus dihentikan,
dalam 20 tahun mendatang muntahan CO2 harus dikurangi separuhnya. Artinya,
jika di negara-negara berkembang masih tersedia ruang bagi pembangunan
ekonominya, negara-negara industri harus bersedia membatasi pertumbuhan
ekonominya. Berbagai pembatasan itu bukannya tidak mungkin tercapai.
Dalam jangka panjang, penggunaan teknologi nonfosil, seperti tenaga surya,
biogas, dan panas bumi, akan menjadi penyumbang terbesar kelestarian alam.
Meski demikian, sulit dipastikan, apakah krisis iklim bisa diatasi hanya
dengan menggunakan kemajuan teknologi. Reduksi CO2 secara radikal, misalnya,
mensyaratkan Perubahan pola hidup konsumtif secara radikal, ungkap Sandra
Postel dari Yayasan World Watch. Tanpa itu, tampaknya akan selalu ada benturan
antara kepentingan ekonomi dan melestarikan alam.
Bagi Indonesia
Bagi Indonesia, fakta kenaikan suhu di beberapa kota besar harus dianggap
bukti mulai berdampaknya perubahan iklim. Terkait kenyataan, negeri ini adalah
penghasil karbon dioksida terbesar ketiga dunia. Pemerintah harus segera
mengidentifikasi sektor-sektor yang berperan menurunkan emisi, merumuskan
mekanisme pembangunan bersih dan mengembangkan isu-isu prioritas untuk
bernegosiasi dengan negara lain agar tercapai kerja sama saling menguntungkan.
Harus diantisipasi, upaya mengkaji ulang berbagai kebijakan akan dihadang
benturan kepentingan antara ekonomi dan ekologi. Padahal, idealnya, ekonomi
dan ekologi (bisa) saling mendukung. Terobosan ini ada dalam akal sehat dan
tak jarang terkandung dalam kearifan budaya yang sudah terlupakan.
Ivan A Hadar Koordinator Nasional Proyek Target MDGs; Tulisan Ini Pendapat
Pribadi
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]