iscab: Wah, kalau di Jerman, kereta api walau lewat stasiun, tidak akan menurunkan kecepatan kalau dia tidak berhenti di stasiun tersebut. Anginnya juga kencang, tapi emang, sih, tidak ada yang berdagang di dekat rel, berbeda dengan Indonesia.
Di stasiun, kan, ada batas berdiri berupa garis? Jadi saya rasa penumpang dan pedagang sebaiknya hati-hati. Sebetulnya rel kereta api bisa untuk kereta api berkecepatan 500 km/jam (di laboratorium). Tapi untuk dunia nyata, kereta api ekspress biasanya tidak akan melesat di atas 200 km/jam. Laboratorium beda dengan dunia nyata. Oh, ya, kalau di Indonesia, aku tak tahu apakah ada korupsi dalam pemasangan, pemakaian, dan pemeliharaan rel kereta api. Kalau ada, sebaiknya sih, kecepatan kereta api jangan tinggi- tinggi. Condro --- In [email protected], cahyaning buana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saat kereta itu lewat, yak ampun... Benar2 kereta yang gila. Dia bergerak sangat cepat, kurang lebih 140 km/jam. Debu2 berterbangan. Bahkan ada rombong pedagang tahu yang terguling terkena hantaman angin yang ditimbulkan kereta gila itu. Bayangkan,. stasiun kereta Cilebut yang tidak seberapa besarnya tersebut, di jalur 1 nya pula, di mana saat itu sedang banyak orang yang menunggu kereta, si masinis kereta sama sekali tidak mengurangi kecepatan keretanya, bahkan dijalankan dengan sangat cepat. > > Yang saya tidak mengerti, apa yang ada dipikiran si masinis itu. Dengan kondisi rel kereta di Indonesia yang sudah sangat tua umurnya, kereta yang dijalankan sangat cepat tersebut bukankah berpotensi timbulnya kecelakaan? Kereta terbalik, misalnya. Belum lagi dengan dia lewat seperti itu di stasiun kecil seperti cilebut, juga beresiko terhadap para penumpang yang menunggu kereta serta pedagang asongan yang menggelar dagangannya di pinggir rel sepanjang stasiun tersebut.
