Kontra versi ini sering sekali saya baca dan dengar dimana-mana.
Tetapi toh masyarakat Indonesia hanya melihat Kartini sebatas
kebaya dan konde saja. Walaupun kebaya dan konde itu juga buat
saya busana yang cantik, anggun dan berwibawa, tapi pemahaman
perjuangan kartini di masyarakat kita sangat dangkal bahkan
kadang nggak ada hubungannya.

Bahkan di hari Kartini kemarin seorang presenter SCTV berkebaya
sambil berjalan di perkebunan, pesan yang dia ucapkan kira-kira begini:
"Cita-cita Kartini sudah tercapai saat ini, buktinya wanita sudah
bisa pakai jins dan kaos seperti kaum laki-laki. Tapi ingat meskipun
emansipasi dilakukan, jangan lupa kodrat wanita haruslah lembut dan
mengabdi pada suami". Nah, anehnya yang bereaksi waktu itu ayah
saya dan suami saya: "kok jins dan kaos sih?" Lalu ibu saya juga
komentar: "Masa kodrat itu wanita harus lembut dan mengabdi pada
suami? Bukannya Kartini ngajar sesama manusia harus saling mengabdi
atau tolong menolong, begitu juga suami-istri".

Saya malah diam saja karena seperti ada sesuatu yang ingin saya
muntahkan dari dalam perut, saya mual melihat tayangan itu.

Kedua, Kartini memang bukan satu-satunya pahlawan, keberutungan
dia adalah aktivitas menulisnya dan dibukukan atau didokumentasikan
oleh pihak yang memiliki keberdayaan saat itu itu.

Jadi dalam catatan sejarah Indonesia, mungkin hanya kartini yang
paling mudah tercatat.

Ketiga, Kartini tidak bisa langsung melawan penjajahan toh, orang
dia dipingit kayak gitu. Perjuangannya baru individunya sendiri,
individu perempuan dan dia merefleksikan perempuan jawa saat itu.

Keempat, Kartini punya cita-cita pendidikan perempuan, dia tidak
punya apa-apa, maka keputusan menikah itu sebenarnya bukan atas
keinganannya sendiri, tetapi untuk perempuan-perempuan lain supaya
bisa sekolah dan sayangnya dia meninggal di usia muda
saat melahirkan. Dalam surat-suratnya sebelum meninggal, dipoligami
menurut Kartini jelas penderitaan.

Kelima, Dewi Sartika berhasil mewujudkan sekolah perempuan disamping dia lebih
punya keleluasaan dan umur yang panjang.

Aku pikir Kartini melejit karena surat-suratnya itu seperti sebuah
karya novel, jadi lebih gampang jadi inspirasi pembacanya.

Mariana


Friday, April 20, 2007, 9:26:27 AM, you wrote:

> http://noertika.wordpress.com/2007/04/20/kontroversi-kartini-kita/
>  
> Tulisan ini ( yang diolah dari berbagai sumber di internet) tidak
> dimaksudkan untuk mengaburkan makna sejarah dari perjuangan beliau,
> tulisan ini hanya upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dalam
> memaknai perjuangan beliau. 

> Berikut ini adalah beberapa kontroversi yang menjadi pertanyaan banyak
> kalangan akan sosok RA Kartini;

> Kontra Versi-1. Keaslian pemikiran RA Kartini dalam surat-suratnya
> diragukan. Ada dugaan bahwa J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama,
> dan Kerajinan Hindia Belanda saat itu, melakukan editing atau merekayasa
> surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini
> terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di
> Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung
> politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak
> diketahui keberadaannya. Kita hanya disuguhi tulisan-tulisan yang
> bersumber dari buku yang diterbitkan oleh Abendanon semata.

> Kontra Versi-2. RA Kartini dianggap tidak konsiten dalam memperjuangkan
> pemikiran akan nasib perempuan Jawa. Dalam banyak tulisannya beliau
> selalu mempertanyakan tradisi Jawa (dan agama Islam) yang dianggap
> menghambat kemajuan perempuan seperti tak dibolehkan bersekolah,
> dipingit ketika mulai baligh, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal,
> menjadi korban poligami. Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang
> dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi
> Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya
> sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu pula. Namun demikian,
> bertolak belakang dengan pemikirannya, RA Kartini rupanya menerima untuk
> dinikahkan (bahkan dipoligami) dengan bupati Rembang, Raden Adipati
> Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah
> pada tanggal 12 November 1903, pada usia 24 tahun. Pada saat menjelang
> pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia
> menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan
> tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para
> perempuan bumiputra kala itu.

> Kontra Versi-3. RA Kartini dianggap hanya berbicara untuk ruang lingkup
> Jawa saja, tak pernah menyinggung suku atau bangsa lain di
> Indonesia/Hindia Belanda. Pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam rangka
> memperjuangan nasib perempuan Jawa, bukan nasib perempuan secara
> keseluruhan. Walaupun demikian ide-idenya dianggap menyeluruh secara
> nasional karena mengandung sesuatu yang universal.

> Kontra Versi-4. Tidak jelas persinggungan RA Kartini dengan perlawanan
> melawan penjajahan Belanda seperti umumnya pahlawan yang kita kenal. Tak
> pernah terlihat dalam tulisan dan pemikirannya adanya keinginan RA
> Kartini untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda
> saat itu, apalagi membopong senjata sebagaimana Pahlawan Wanita lainnya
> seperti; Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Emmy Saelan atau Christina
> Martha Tiahahu.

> Kontra Versi-5. Dari sudut pandang sejarah, pemikiran RA Kartini dalam
> emansipasi wanita lebih bergaung daripada tokoh wanita lainnya asal
> Sunda, Raden Dewi Sartika, walaupun langkah gerak Dewi Sartika justru
> lebih progressif. RA Kartini lebih terkenal dengan pemikiran-pemikiran
> nya, sedang Dewi Sartika tak hanya giat berpikir, tapi juga
> mengimplementasikan pemikirannya ke gerak nyata dalam masyarakat dengan
> mendirikan sekolah khusus putri, Sekolah Kaoetamaan Istri pada tahun
> 1902. So, sebenarnya siapa yang lebih patut untuk dihargai, Kartini atau
> Dewi Sartika?

> Kontra Versi-6. Penetapan tanggal kelahiran RA Kartini 21 April sebagai
> hari besar juga diperdebatkan karena terkesan terlalu melebih-lebihkan
> sosok beliau, sementara masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah
> hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu
> hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul
> senjata melawan penjajah. Mereka mengusulkan untuk merayakan Hari
> Perempuan secara umum pada tanggal 22 Desember.



> [Non-text portions of this message have been removed]




-- 
Best regards,
 Mariana                            mailto:[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke