Ibu Mariana,
Memang banyak reporter TV (tidak semua lho...ntar di plintir lagi) kalo
interview tanpa persiapan dan tidak menguasai materi..sehingga yang muncul
adalah pertanyaan-pertanyaan yang dangkal, tidak hanya mengenai emansipasi tapi
banyak hal. Khusus mengenai emansipasi masih banyak terjadi ke-tidak mengertian
apa itu EMANSIPASI..binatang apa sih itu?? dari mana asalnya? dan apa
tujuannya? sehingga tidak mengherankan situasi "bingung" ga mudeng--ga ngerti..
Pertanyaan yang saya ajukan ke kakak perempuan pertama yang melanjutkan studi
ke program magister Kajian Wanita di UI..kenapa kok Kajian Wanita?? emangnya
wanita itu objek ya??..sampai perlu di kaji segala di akademik lagi..dan
jawabannya singkat bahwa dia mau membantu meningkatkan kualitas kehidupan
perempuan di desa-desa..dan terus terang saya sendiri masih tidak mengerti apa
hubungannya dengan emansipasi...dan terus terang lagi "hujatan" terhadap pak
Iwan juga belum ku mengerti benar..apa yang salah dengan pernyataan pak Iwan??
buat saya make sense...sori lho
Ibu Mariana..pertanyaan saya (respon atas tulisan: Feminiskah saya? ) mungkin
bisa membantu paling tidak saya (lebih luas) member FPK ini untuk lebih
memahami gerakan feminis, karena perlu titik pijak untuk memahaminya dan titik
pijak ini yang masih bias..kalo di bilang kesetaraan...kata ini menimbulkan
intepretasi macam-macam...jadi paling tidak asal-asul stereotipe jender ini
yang penting untuk dipahami bersama.
makasih,
-CI-
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kontra versi ini sering sekali saya baca dan dengar dimana-mana.
Tetapi toh masyarakat Indonesia hanya melihat Kartini sebatas
kebaya dan konde saja. Walaupun kebaya dan konde itu juga buat
saya busana yang cantik, anggun dan berwibawa, tapi pemahaman
perjuangan kartini di masyarakat kita sangat dangkal bahkan
kadang nggak ada hubungannya.
Bahkan di hari Kartini kemarin seorang presenter SCTV berkebaya
sambil berjalan di perkebunan, pesan yang dia ucapkan kira-kira begini:
"Cita-cita Kartini sudah tercapai saat ini, buktinya wanita sudah
bisa pakai jins dan kaos seperti kaum laki-laki. Tapi ingat meskipun
emansipasi dilakukan, jangan lupa kodrat wanita haruslah lembut dan
mengabdi pada suami". Nah, anehnya yang bereaksi waktu itu ayah
saya dan suami saya: "kok jins dan kaos sih?" Lalu ibu saya juga
komentar: "Masa kodrat itu wanita harus lembut dan mengabdi pada
suami? Bukannya Kartini ngajar sesama manusia harus saling mengabdi
atau tolong menolong, begitu juga suami-istri".
Saya malah diam saja karena seperti ada sesuatu yang ingin saya
muntahkan dari dalam perut, saya mual melihat tayangan itu.
Kedua, Kartini memang bukan satu-satunya pahlawan, keberutungan
dia adalah aktivitas menulisnya dan dibukukan atau didokumentasikan
oleh pihak yang memiliki keberdayaan saat itu itu.
Jadi dalam catatan sejarah Indonesia, mungkin hanya kartini yang
paling mudah tercatat.
Ketiga, Kartini tidak bisa langsung melawan penjajahan toh, orang
dia dipingit kayak gitu. Perjuangannya baru individunya sendiri,
individu perempuan dan dia merefleksikan perempuan jawa saat itu.
Keempat, Kartini punya cita-cita pendidikan perempuan, dia tidak
punya apa-apa, maka keputusan menikah itu sebenarnya bukan atas
keinganannya sendiri, tetapi untuk perempuan-perempuan lain supaya
bisa sekolah dan sayangnya dia meninggal di usia muda
saat melahirkan. Dalam surat-suratnya sebelum meninggal, dipoligami
menurut Kartini jelas penderitaan.
Kelima, Dewi Sartika berhasil mewujudkan sekolah perempuan disamping dia lebih
punya keleluasaan dan umur yang panjang.
Aku pikir Kartini melejit karena surat-suratnya itu seperti sebuah
karya novel, jadi lebih gampang jadi inspirasi pembacanya.
Mariana