Pak Haniwar, kok seolah-olah aktivis perempuan itu kerjaannya
marah-marah ya? Please deh ah. Lagian di milis ini
yang marah-marah kan nggak hanya aktivis perempuan? Banyak
juga yang marah karena kasus lumpur lapindo, kasus laptop DPR,
kasus IPDN... Saya juga marah dengan tema-tema lainnya karena
merasa ada ketidakadilan, dan ini seharusnya ditangkap sebagai
sensitif dengan persoalan sosial, bukan cacian.

Tapi Pak Haniwar lumayanlah masih mau diskusi soal kesetaraan
gender di milis ini.

Cuma Saya nggak setujunya, istri mau kerja aja kok pakai ijin suami?
Kalau suaminya pengangguran istri kerja harus ijin juga? Padahal secara
ekonomi istrinya yang menopang.
Jadi TKW misalnya, atau jadi pembantu (pekerja) rumahtangga?

Soal perempuan bekerja, lihat deh, pekerja-pekerja rumah tangga
itu banyak diisi perempuan, pedagang-pedagang di pasar, dll.
Kalau mereka pingin perempuan di rumah, mau nggak laki-laki bekerja
jadi pembantu rumah tangga? Kebanyakan kan gengsi? Atau jualan
di pasar?

Memangnya lapangan pekerjaan itu disediakan untuk laki-laki,
kalau ya masukin tuh sektor-sektor pabrik seperti pabrik rokok,
pabrik sepatu, garmen dll, yang perusahaannya memilih tenaga
kerja wanita karena dianggap bisa dibayar murah dan katanya
perempuan lebih telaten daripada laki-laki...

Buat saya mereka itu para laki-laki yang
di milis sana nggak rela perempuan maju, berprestasi, dan
berkarir, karena mereka merasa laki-laki yang seharusnya
punya prestasi, punya karir. Giliran jadi pembantu rumah
tangga atau buruh pabrik dibayar murah pasti nolak...

Curang ih.  Eh salam buat milis tetangga ya Pak Haniwar.

mariana


Monday, April 23, 2007, 7:08:46 PM, you wrote:




> Buat Mbak Mariana.. cs.. aku setuju kesetaraan.. setuju istri kerja asal
> dpt ijin suami.. lho.. lha istriku juga kerja kok.. ( aku   izinkan dan
> restui , walau pernah juga aku bilang kalo nggak mau kerja juga nggak 
> papa,  soalnya cukup kan relatip, tinggal mau makan dgn tempe atau dgn
> bebek Peking.. )

> tapi argumen dia nggak terlalu jelek kan..

> Salam

> Haniwar

> At 02:50 PM 4/23/2007, you wrote:

>>Pak Bungaran dan Pak Iwan ini kok seperti nya udah mempunyai penyakit 
>>bangsa Indonesia yaitu: "PELUPA".
>>Perempuan Indonesia tidak semuanya selalu "NYADONG"(menadahkan tangan).
>>Kalau kami ingin membeli "branded goods" udah bisa membeli dengan hasil 
>>gaji sendiri, kok? Tidak perlu lagi menunggu suami mendapatkan gaji 
>>diakhir bulan.
>>Perempuan Indonesia juga sudah sangat "active" membantu para suami mencari 
>>nafkah, agar para suami yang pendapatan nya 2 juta rupiah bisa menjadi 4 
>>juta untuk berbagi menghidupi seluruh keluarga. Malah kadang-kadang 
>>membantu menyantunin saudara-saudara para suami (ipar; keponakan suami, 
>>etc). Dan hal tersebut bukan suatu hal yang aneh lagi di-abad duapuluh-an ini.
>>
>>Salam,
>>Yuli



-- 
Best regards,
 Mariana                            mailto:[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke