Isu Israel dan Yahudi di negeri kita sudah simpang-siur babak-belur macam rujak bebek. Sadar atau tidak orang sudah samar dalam membedakan mana Yahudi mana Israel. Tidak jelas lagi apakah orang itu benci Yahudi atau benci Israel atau kedua-duanya. Tidak pasti lagi sejak kapan, kenapa dan siapa suruh benci dengan cara itu. Fakta pertama, tidak semua keturunan Yahudi di muka bumi in adalah warga negara Israel sebagaimana juga tidak semua warga negara Israel adalah 100% berasal dari keturunan Yahudi. Kalau kita pergi ke Mesir atau Moroko yaitu negara anggota Liga Arab, maka di situ ada menetap penduduk minoritas berdarah Yahudi yang sudah hidup turun temurun selama berabad-abad lamanya. Demikian pula di Israel ada warga negara yang berketurunan Arab. Nah, sekarang apa masalahnya kita memperdebatkan kehadiran seorang warga Amerika yang punya seluk beluk akar keturunan Yahudi datang ke negeri kita yang jelas-jelas melalui aturan keimigrasian RI yang sah? Jelas ini yang bermasalah sebenarnya kita sendiri karena tidak punya pijakan. -- Fakta kedua, banyak orang kita telah dijangkiti rasa benci kepada orang Yahudi atau Israel dengan cara yang keblinger, tapi selalu mengaku karena berdasar Agama Islam yang dianutnya. Kalau membenci bangsa Israel maka bagaimana dengan orang Israel yang Arab atau muslim? Kalau dikata benci orang Yahudi, maka bagaimana dengan keturunan Yahudi yang dulu masuk Islam? Bagaimana dengan nabi-nabi yang berasal dari keturunan Yahudi? Jadi jelas mempermasalahkan orang karena keturunan Yahudinya atau karena faktor kebangsaan Israelnya andalah kontradiksi dengan ajaran Islam. .Islam tidak mengajarkan penganutnya menghina keturunan atau bangsa. Islam tidak melarang umatnya berhubungan dengan orang Yahudi atau bangsa apapun karena semua itu sebenarnya sama dari Keturunan Adam, termasuk orang Yahudi. -- Fakta ketiga, banyak orang Indonesia benci Israel atau Yahudi karena ikut simpati dengan perjuangan politik bangsa Palestina. Tapi perbedaan politik dalam kasus Israel-Palestina tidak bisa diselesaikan dengan benci-bencian karena terbukti tidak menyelesaikan masalah dan justeru malah semakin mengkeruhkan keadaan dan memperluas konflik secara berkepanjangan. Bersimpati kepada Bangsa Palestina itu wajar saja, tapi kita juga harus realistik dalam cara membantu perjuangannya. Bangsa Palestina harus disadarkan tentang dirinya sendiri supaya tahu bahwa dalam perjuangan politik hampir tidak pernah ada penyelesaian konflik yang bisa memuaskan sepenuhnya. Kita justeru harus lebih banyak mendorong dan menciptkansuasana yang kondusif untuk terus berlangsungnya dialog penyelesaian konflik, bukan menyulut api emosi kedalam sekam yang sudah sekian lama membara.
SH On 4/24/07, Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Soal hubungan dgnIsrael ada lg yg menarik, yaitu sidang antar Perlemen > di > Bali.. yg akan dihadiri juga wakil Australia.. > > Jd ingta kebijakan menolak Israel di Asian Games 4.. > > yang masih disikapi konsisten tahun lalu, ketika melarang tim tenis putri > Indonesia ke Israel, yang akibatnya cukup fatal baikkrn didendaa maupun > turn kelas... > > Eh sekarang seiring dgn perubahan jaman termausk persetujuan resolusi kpd > Iran... Indonesiia semakin tundukpada "barat" > > Karena sy pencinta tenis... sedih rasanya melihat tim tenis putri > dikorbankan...... > > Kalao mau tunduk kenapa nggak dr tahun lalu ?? ... > > kasihan Indonesia.. > > Salam > > Haniwar > > At 08:19 PM 4/23/2007, you wrote: > > >Kalau saya tak salah ingat, Indonesia pernah menolak seorang calon > >dutabesar AS (sebelum Paul Wolfowitz) karena sang calon tersebut > >berdarah Yahudi. (Saya tak tahu apakah ia juga memegang paspor > >Israel atau tidak). Penolakan tersebut dilakukan, terutama karena > >banyak politisi di DPR yang meributkannya. > > > >Kalau cerita Wikipedia yang disampaikan oleh Satrio Arismunandar ini > >benar (Paul Wolfowitz memegang paspor Israel--disamping paspor AS), > >lha, ngapain saja itu para politisi? > > > >Tapi, ya sudahlah, Paul Wolfowitz tokh adalah salah satu dubes AS > >yang paling populer di Indonesia. > > > >L > >Former foreign policy adviser Dewi Fortuna Anwar told ABC News that > >Ambassador Wolfowitz "was extremely able and very much admired and > >well-liked on a personal level, but he never intervened to push > >human rights or stand up to corruption." > > > >SUMBER: <http://en.wikipedia>http://en.wikipedia .org/wiki/ > Paul_Wolfowitz > > [Non-text portions of this message have been removed]
