Bu Triyatni, saya sangat prihatin dg kejadian yang menimpa Prof AM. Sampaikan kepada beliau dukungan saya sebab dalam kasus ini, kita semua bisa ikut merasakan dan mengerti perasaan yang melatar- belakangi tindakan2 prof AM yg sampai (barangkali) harus melepas selang2 infus-nya hanya untuk secara berani membela anaknya yang secara brutal dianiaya oleh para mahasiswa UMI.
Saya pernah melihat demo mahasiswa Makassar (termasuk mahasiswa2 UMI) yang menuntut dibubarkannya IPDN dan ketika itu saya cuma tersenyum, karena teringat pada prilaku 'rutin' mahasiswa2 UMI sebelumnya yang selalu membakar beberapa ban untuk memacetkan jalan utama di depan kampus UMI (bahkan mereka pernah menyandera beberapa kendaraan besar, termasuk truk yang lewat di depan kampus UMI). Apakah mahasiswa2 UMI ingin menjadi IPDN versi Makassar? Saya di beberapa milis lain sudah beberapa kali menulis kritikan2 thd prilaku mereka yang mengaku mahasiswa UMI sebagai tanggapan saya thd beberapa postingan mengenai mahasiswa asal Makassar, terutama mahasiswa UMI. Di situ saya pernah mengusulkan agar demo2 yang menggunakan simbol2 almamater, atau mengatas-namakan almamater, menjadi tanggungjawab penuh pimpinan almamater yang bersangkutan. Tetapi saya dengar komentar2 miring "Pimpinan dan para dosen UMI pun takut sama mahasiswa." Saya kira ini momen yang tepat untuk 'membubarkan' aksi2 anarkis di jalan2 kota Makassar, baik oleh mahasiswa2 atau pun oleh sebagian warga kota. Apalagi untuk kasus UMI, seorang mantan rektor UMI sekarang ini masih menjabat sebagai Kepala Balitbang Depdiknas dan sedang mencalonkan diri sebagai cawagub Sulsel. Maluu dong, pak Mansyur Ramli. Contoh lain prilaku brutal di kota Makassar adalah ulah pengendara motor paling depan di iring2-an pengantar jenazah yang sering kali membawa pentungan atau alat pukul lain untuk memaksa dan mengancam pengguna jalan lain 'minggir' dan menghormati mereka! Kota Makassar adl satu2-nya kota (dari 7 kota di Indonesia yg permah saya tinggali lebih dari setahun) yg memiliki model iring2-an jenazah semacam. Salam --- In [email protected], "TRIYATNI" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tadi pagi Selasa 24 April 2007, Prof Mappadjantji dosen FMIPPA Universitas Hasanuddin yang sedang dirawat di ICCU RSU Wahidin Makassar karena serangan jantung, menjalankan kewajiban sebagai anak yang harus melayat mertuanya Prof. Syamsi Lili yang jenasahnya disemayamkan di Jl Kartini. Prof MA izin keluar ICCU dilengkapi dengan botol infus dan diantar oleh seorang suster. > > Dalam perjalanan kembali ke RSU Wahidin sepulang melayat, kendaraan mereka yang melintas di jalan Urip Sumoharjo dilarang lewat oleh mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang sedang demo. Walaupun Prof MA sudah memperlihatkan kondisinya yang darurat lengkap dengan selang infus dan seorang suster yang mendampingi, mereka tetap tidak diizinkan lewat. > > Putri Prof MA, Vita yang menyetir kendaraan mengikuti keinginan mahasiswa untuk masuk ke jalur angkutan kota pete-pete. Di mulut pintu keluar, jalan mereka ditutup dan diwajibkan memutar haluan kembali ke kota. Melihat kondisi tersebut, putra Prof MA, Bayu memindahkan kayu penghalang agar bisa lewat karena ayahnya harus sesegera mungkin masuk ICCU kembali. Bayu kemudian dikeroyok hingga babak belur oleh mahasiswa UMI, bahkan ketika sudah masuk ke mobil, Bayu ditarik kakinya dipaksa turun untuk dihajar lagi. Melihat putranya babak belur, Prof MA melupakan kondisinya penyakitnya, dan bergegas menolong anaknya dengan melawan para mahasiswa yang brutal ini. Para mahasiswa tidak lagi mempedulikan bahwa Prof MA adalah pasien emergency, beramai-ramai menyerang termasuk menarik kacamata yang dipakai. Mahasiswa UMI berhenti menyerang ketika Prof MA berhasil menangkap salah satu pimpinan mahasiswa. > > Kejadian yang dialami Prof MA adalah satu dari sekian banyak kejadian yang dialami pasien-pasien dengan ambulans yang membutuhkan pertolongan darurat menuju RSU Wahidin diantara jadwal demo UMI yang tiada henti. Begitu banyaknya, sehingga membuat kita bosan untuk membicarakan perilaku yang sangat tidak manusiawi ini. Inikah perguruan tinggi yang menyebut dirinya Muslim, yang tidak punya kepedulian terhadap orang yang sakit parah. Tidak pernah ada perhatian apalagi rasa bersalah atau menyesal dari institusi mereka, bahkan dari polisi yang selalu ketakutan tidak berani membela kepentingan orang yang nyawanya berkejaran dengan waktu.- > > wass, > Triyatni
