Pak John.. saya lihat pandangan Bapak atas Mal sebagai penyerap tenaga kerja masuk akal koq. Tidak ada yang salah dengan cara tersebut, nyata-nyata koq kehadiran mal memang bisa menyerap tenaga kerja. Hanya.. apa iya cuma mal solusinya?
Kita semua tahu dengan istilah "proyek mercusuar", yaitu proyek yang dibuat pemerintah untuk bisa menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Di Amerika pun mereka pernah melakukannya, yaitu saat pembangungan WTC dan Chrysler Tower. Di Indonesia Soekarno pernah melakukannya saat pembangunan ISTORA SENAYAN. Saya rasa, pembangunan jalan tol dalam kota bisa menyerap banyak tenaga kerja juga. Waktu pembangunan bandara Soekarno-Hatta juga banyak menyerap tenaga kerja. Nah pertanyaannya.. seharusnya lah pembangunan-pembangunan itu terus berlangsung, sehingga akan banyak tenaga kerja yang terserap. Untuk pekerja mal tentu memang menyerap tenaga kerja, tapi tentu tidak semua bisa jadi pegawai mal. Pegawai mal itu paling tidak harus menarik. Berbeda dengan departemen store. Bayangkan produk Dolce & Gabana, tapi yang jaga cowok berparas gak keren.. Paling ngga mungkin lulusan SMA lah. Sementara.. jumlah pengangguran paling banyak mungkin lulusan SMP, gak akan mungkin bisa jadi pegawai / pekerja mal. Sementara untuk bekerja sebagai kuli pembangunan apartemen di kawasan Pondok Indah, gak ada seleksi wajah. Nah.. mana yang bisa lebih banyak menyerap tenaga kerja? Oh iya.. supaya tidak salah juga dalam persepsinya, dari yang saya baca tentang konsep MAL, kita bisa kenali dengan ciri-ciri : 1. Ada banyak lobby (tempat men-drop penumpang) 2. Akses parkir agak jauh tidak apa-apa (karena asumsinya ada supir) 3. Hanya lantai dasar yang punya kaca jendela (etalase), untuk lantai atas tidak ada jendela (full tembok) 4. Ada ruang public (plaza) yang bisa digunakan untuk event temporer 5. Terdiri dari banyak departemen store, bank, tempat olah raga, dan bioskop 6. Tidak ada akses kendaraan umum (kalaupun ada itu angkutannya yg nakal) 7. Mal itu dibuat untuk masyarakat kelas B ke atas, kalaupun kelas C datang ya boleh-boleh aja Nah.. jika melihat ciri-ciri itu, jelas bahwa mal dibuat memang untuk "masyarakat" kelas atas saja. Kalau pun akhirnya di pinggiran Jakarta (CIbubur, Bekasi dll) bikin mal juga.. saya rasa konsepnya ikut-ikutan mal Jakarta saja. Mungkin sebetulnya juga cuma departemen store berukuran mal :) Toh gak akan ada yg komplain apakah itu namanya mal atau departemen store. Ada yang punya masukan lain? Motulz -anak mal- john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Halim Yth, Logikanya begini : Katakan saja sebuah mal ukuran sedang (4 lantai) dapat menampung 200 toko kecil, diluar anchor tenant. Sebuah toko kecil dengan space 21 sqm dapat menyerap tenaga kerja (salesman/salesgirl) kira-kira tiga orang. Jadi hitungan kasar, tenaga kerja yang dapat terserap sebanyak 600 orang. Ini belum termasuk tenaga kerja di bidang security, parkir, kebersihan (janitor) dll. Belum bisnis baru (informal) di sekitar mal yang juga tumbuh, misalnya warung kaki lima, tempat kost (buat karyawati), tukang ojek, dll. Salam.
