Dalam ilmu sosial, soalnya adalah partikel terkecil justru tak jarang merupakan 
pemusatan energi terbesar. Contohnya, keluarga, yang merupakan unit sosial 
terkecil. Hingga kini orang tak habis pikir kenapa negara tak kunjung berhasil 
mengubah sikap, perilaku, dan wawasan masyarakat tentang isu-isu seperti 
korupsi, jam karet, dsb. Ada harapan terlalu besar yang diletakkan pada 
pemerintah dan gagasan tentang rekayasa sosial/budaya. Yang hampir selalu 
dilupakan justru adalah keluarga sebagai kawah candradimuka utama bagi 
perubahan sosial. 
   
  Anak yang ketika dewasa tumbuh menjadi manusia yang abusive bukan belajar 
brutal dari film atau novel, melainkan dari contoh perilaku abusive yang 
dipraktikan orang tuanya pada dirinya sewaktu ia kecil dulu. Ketika masuk 
sekolah dan mulaiberinteraksi dengan lingkungan sosialnya, keadaan sudah 
terlambat. Nyaris tak lagi dapat diperbaiki, kecuali dengan upaya yang ekstra 
keras. Sekolah, yang sering diharapkan mampu jadi pengganti ortu dalam 
menyuntikkan norma dan nilai sosial yang dianggap positif, kerap disalahkan 
karena tak mampu mengajar anak untuk berubah perilakunya dari negatif ke 
positif. Ini indikasi bahwa semakin besar partikelnya, justru semakin lemah 
energinya. dalam skala lebih besar, kita melihat impotensi yang sama terjadi 
pada institusi negara, dan lebih besar lagi pada badan internasional seperti 
PBB.
   
  Segini dulu pandangan saya. takutnya saya jadi puyeng sendiri. Saya tak 
begitu menguasai nanoscience, tapi jika pengetahuan di bidang ini bisa 
disinergikan dengan pengetahuan sosial/budaya, barangkali kita bisa membuat 
terobosan baru dalam ilmu-ilmu sosial/budaya.
   
  Anda sendiri bidangnya apa dan kesibukannya apa? Kok baru kali ini saya 
jumpai postingan tentang nano di FPK?
   
  manneke

Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Manneke yang budiman,

Istilah bung untuk bukunya Pak Mochtar Riady lebih saya sukai ketimbang judul 
aslinya. Pak Mochtar memberi judl bukunya Nanotechnology management style. Jika 
yang dilihat adalah penempatan unit terkecil dalam aspek aspek management 
sebagai faktor kunci dari suatu perform yang optimal dari sistem managemen yang 
dibangun, mungkin lebih baij dan juga enak didengar jika digunakan istilah: 
Nano Management. Namun Pak Mochtar lebih berusaha mengcopy struktur dobel 
helixnya DNA serta menganaloginya dengan model management yang diterapkan. 
Contoh contoh analogi lalu diberikan dalam managemen perbankan, managemen 
pendidikan serta managemen usaha ritel. Ini buku yang lumayan menarik.

Tulisan saya dibawah sebenarnya tidak sangat serius walaupun sebenarnya datang 
dari pemikiran yang sering menggoda saya namun belum pernah saya olah secara 
serius. Saya sadari bahwa usaha untuk melakukan analogi antara suatu sistem 
fisik atau sistem materi yang bersifat mekanik dengan suatu sistem sosial akan 
sangat sulit. Namun kekhasan dalam mekanika kuantum yang bahkan mampu mendekati 
pandangan2 transedental, serta juga ciri khas interaksi interaksi energi tinggi 
yang menghasilkan efek efek non linear sehingga materi pun bahkan dapat 
memberikan respon secara self organized terhadap suatu input, seperti halnya 
respon dari suatu "organisma"..memang menantang untuk melihat kemungkinan suatu 
analogy yang lebih luas, bukan saja pada managemen seperti yang coba dilakukan 
oleh Pak Mochtar tetapi juga pada ilmu sosial yang lain. F. Capra bahkan 
mencoba merumuskan padanan antara Quantum dengan filsafat timur.

Apa yang dijelaskan oleh pak Manneke tentang trend dalam ilmu sosial yang 
melakukan riset pada aspek aspek mikro sebelum merumuskan secara makro tentu 
saja sesuai dengan gagasan ini. Pertanyaan yang sangat praktis dalam konteks 
Indonesia kontemporer misalnya: mengapa walaupun indikator makro ekonomi terus 
menerus membaik, sejak masa MSP (jadi bukan baru membaik masa SBY) tetap saja 
baik pada masa MSP maupun pada masa SBY perbaikan itu tidak mencerminkan 
perbaikan secara mikro ? Apakah itu tidak berarti bahwa memang secara strategic 
kebijakan tersebut bersifat macro oriented dan bukan micro atau lebih kecil 
lagi nano oriented. Pertanyaan bisa diteruskan pada sistem politik, sistem 
budaya dll.


Persoalan yang paling utama dalam melakukan analogi adalah defini nanoscale 
dalam masing masing cabang ilmu sosial. Apa partikel terkecil yang memiliki 
unit energi terkecil (quanta) dalam sistem politik, sistem budaya atau sistem 
ekonomi ?

Saya kira gitu dulu untuk keisengan kecil jilid dua ini, bung Maneke.

Salam nanosolidaritas ( solidarity for small things ),

Irry


Kirim email ke