Wach....sayang sekali...bagi tenaga profesional terutama yang keluaran PT DI,
apalagi sarjana nuklir, mengapa tak mencoba nasib di industri / tempat lain?
Institusi pemerintah: BATAN, PPNY, PPN-Kartini-Bandung, dan BATAN Pasar
Jum'at serta SERPONG. Ada banyak lagi info untuk mengaktualisasikan
kepakarannya sekaligus mencari rejeki, di MINT-Malaysia posisi profesional itu
termasuk barang amat sekali berharga, apalagi sekarang dalam menjana visi
Malaysia 2020 dengan budget RMK-9.
duuuh....prihatiin,....
kcn,-
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Oleh Dwi Bayu Radius
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/28/Fokus/3487374.htm
========================
Pemutusan hubungan kerja saat ini menjadi momok yang sangat
menakutkan. Selain bisa terjadi kapan saja, pemutusan hubungan kerja
juga bisa menimpa siapa saja. Tidak peduli lulusan SMP, SMA, atau
bahkan sarjana. Nasib baik yang dulu memayungi dalam sekejap bisa
berubah drastis, bahkan ada yang terbalik menjadi tukang tambal ban
dan pemulung.
Pengalaman getir ini harus dialami R Edy Haryatno Fitriyanto (41).
Ketika PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung melakukan pemutusan
hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran terhadap 6.551 karyawannya,
Edy Haryatno Fitriyanto termasuk di dalamnya.
Sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada ini tersingkir dari PT
DI tahun 2003. Protes dan unjuk rasa tak mampu mengubah keputusan
perusahaannya.
Berbagai usaha telah dicoba untuk menafkahi keluarganya, mulai dari
beternak kelinci, ayam, itik, berjualan rokok, dan keripik singkong.
Namun, kerja serabutan tersebut gagal atau tidak memuaskan. Akhirnya,
dia memutuskan untuk berjualan es krim di di pusat perbelanjaan
Ramayana, Kota Cimahi, Jawa Barat.
Edy, yang dulunya bekerja sebagai pemrogram dan pendesain di bagian
Engineering Research Development Center PT DI, harus menerima
kenyataan ini. Bukan hanya Edy yang membuka usaha ini. Sedikitnya ada
tujuh orang mantan karyawan PT DI yang berjualan es krim.
Profesi Edy yang dulu penuh dengan kesan teknologi canggih pun kini
harus berganti dengan pekerjaan sederhana. Hanya sekali-sekali dia
dapat mengaplikasikan ilmunya, seperti saat diminta menangani bidang
teknologi informasi di Badan Pengawasan Daerah Kota Sukabumi akhir
tahun 2006.
Edy tak sendiri. Banyak mantan karyawan PT DI yang melakukan pekerjaan
tak sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Mereka harus bekerja
serabutan demi menyambung hidup.
Pendidikan tinggi dan pengalaman kerja seolah tak dihargai di negeri
ini. Tenaga-tenaga terlatih dan sangat langka yang dulu dididik di
luar negeri dengan biaya mahal kini tak diperhatikan negara.
Jadi pemulung
Dadang Supriatna (50), mantan karyawan PT DI lain, kini membuka warung
kecil meski pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya, hanya
sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 per hari. Warung itu menjual kopi, gula,
terigu, sampo, dan lain-lain. Sehari-hari, pendapatan Dadang harus
ditopang oleh anaknya yang menjadi pegawai perusahaan distributor
komputer.
Meski sudah bekerja di PT DI selama sekitar 25 tahun, Dadang tetap
kesulitan memperoleh pekerjaan lain. Umur yang tak lagi muda dan
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru menjadi
hambatan. Terakhir, dia bekerja sebagai Kepala Bagian Change
Management Department Engineering Pesawat N-250.
Bersama rekan-rekan mantan pegawai lain dia sempat menjalankan usaha
pembuatan barang-barang pengeboran dari fiberglass. Entah mengapa,
pesanan dari konsumen terhenti setelah kejadian semburan lumpur panas
Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Usaha tersebut hanya
berlangsung selama setahun, dan Dadang kini terpaksa membuka usaha warung.
Mantan pegawai PT DI lain yang sekompleks perumahan dengan Dadang di
Melong Green Garden, Kota Cimahi, ada yang berjualan gorengan, nasi
kuning, atau nasi goreng. Padahal, sebagian besar karyawan PT DI
merupakan tenaga terlatih dan banyak di antaranya menjalani pendidikan
di luar negeri.
Di antara mantan karyawan PT DI lainnya, banyak yang menjalani
kehidupan memprihatinkan, seperti menjadi tukang parkir atau tukang
tambal ban. Bahkan, nasib buruk dialami seorang mantan karyawan yang
sekompleks dengan Dadang, dia menjadi pemulung. Rekannya itu dulu
bekerja di bagian Quality Assurance PT DI, bertugas memeriksa komponen
pesawat terbang sebelum dioperasikan.
Tukang cat
Nasib yang hampir sama juga dialami Nugroho (44). Jabatan asisten
manajer di perusahaan waralaba asal Amerika Serikat yang menjual ayam
goreng di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ini sebetulnya sangatlah
nyaman. Gaji pokok Rp 2,25 juta per bulan cukup untuk menghidupi anak
dan istri. Tetapi, ia tercerabut oleh tuduhan yang dicari-cari.
Nugroho, setelah keluar dari tempat kerjanya itu, kini bekerja
serabutan. Sekali waktu dia menjadi tukang pagar yang menghaluskan
kayu pohon kelapa, pada kesempatan lain dia bekerja mengecat dan
memasang pagar.
Kalau ada yang meminta, dia pun sanggup menjadi sopir yang melintasi
berbagai wilayah di Jatim. Terkadang, temannya mengajak bekerja
sebagai buruh lepas tukang cat. Di waktu lain dia membantu saudaranya
menyiapkan dekorasi untuk pernikahan.
Sebagai tambahan pendapatan, Nugroho ikut berjualan pulsa elektronik
milik seorang teman. Untuk setiap transaksi, dia menerima Rp 500.
Setiap hari Nugroho bisa memperoleh pendapatan Rp 2.000.
Kendati tidak sepadan untuk dirinya yang sarjana jurusan Bahasa
Indonesia, Nugroho tidak memilih pekerjaan atau meminta jumlah upah
tertentu. "Yang penting halal dan berkah. Upah berapa saja saya
terima. Pernah saya antar orang (sebagai sopir) sejak jam 08.00 sampai
24.00 dengan rute Malang-Cepu-Malang hanya dapat Rp 20.000, tetap saya
terima," tuturnya.
Nugroho sesungguhnya telah bekerja di restoran ayam goreng waralaba
asal Amerika Serikat tersebut selama 13 tahun.
Awal 2006 dia dituduh mencuri. Pencurian yang dituduhkan itu
disebabkan rutinitas penukaran uang pecahan. Hasil penukaran terlambat
dibawa ke kantor karena di tempat penukaran yang biasanya tersebut
tidak ada uang pecahan, sedangkan esoknya Nugroho libur. Akibatnya,
uang pecahan baru dibawa ke kantor dua hari kemudian.
Kendati penukaran itu sudah diketahui oleh kepala kasir, Nugroho tetap
dituduh mencuri meskipun tidak dibuktikan di pengadilan. Buntutnya,
suami dari Riyana (29) dan ayah dari Fauzi (6) ini dikenai pemutusan
hubungan kerja.
Ijazah tak laku
Nasib yang hampir sama juga dialami Maman Sumarna (37). Buruh pabrik
tekstil di Cimahi, Jawa Barat, ini harus berhenti bekerja pada tahun
2005 bersama 2.000 rekannya karena perusahaannya tempat bekerja pailit.
Setelah ijazah tak mempan untuk mendapatkan pekerjaan, dia pun banting
setir dengan berjualan pulsa telepon seluler di Padalarang, Kabupaten
Bandung. Meski untungnya tak seberapa, dia tetap melakoninya demi
memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Tak berharganya ijazah, juga dirasakan Peni (42) yang mantan karyawan
Bank Papan Sejahtera yang dilikuidasi 1998. Setelah lamarannya ke
berbagai perusahaan ditolak karena alasan usia, sarjana akuntansi ini
pun akhirnya membuka toko kelontong untuk menambah penghasilan
keluarga. Namun, usaha ini tak berlangsung lama.
"Persaingan terlalu berat jadi saya tutup warung dan beralih ke
angkutan sampah padang golf di Surabaya," ujar Peni.
Kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan juga dialami
Firman (45), mantan karyawan Bank Duta di Jakarta yang dilikuidasi.
Setelah berkali-kali lamarannya ditolak, akhirnya dia pindah ke Surabaya.
Bagi Peni dan Firman, setelah terkena PHK dari bank tempat mereka
bekerja, sulit untuk mencari pekerjaan baru terutama di sektor
keuangan. Alasannya, usia sudah tidak muda sehingga tak sesuai dengan
persyaratan perusahaan.
Faktor lain, perbankan umumnya menerapkan sistem kontrak sehingga
setiap tahun karyawan wajib memperpanjang kontrak. Sistem kontrak
mungkin tidak terlalu dipersoalkan karyawan baru, apalagi yang baru
lulus kuliah, karena prinsipnya yang penting memiliki pekerjaan.
Padahal bekerja dengan sistem kontrak benar-benar tidak nyaman karena
selain kesejahteraan minim, jaminan hari tua juga nihil. Bagi korban
PHK pada masa krisis ekonomi 1998 hingga sekarang, mendapatkan
pekerjaan baru bukan hal yang mudah. Pengalaman kerja yang cukup lama
ternyata tidak cukup menjadi modal mencari tempat bekerja yang baru
dan sesuai disiplin ilmu. (INA/ETA/THY)
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]