Hal semacam ini menjadi bahan cerita dan di beritakan hanya karena terjadi di
indonesia. Di tempat lain pangkat setinggi langit tidak lagi menjadi ukuran
untuk menjodohkan jenis pekerjaan dan jenis orangnya untuk bergelut dalam jenis
kerja dan bisnis apa saja yang penting sesorang harus berbuat sesuatu yang
positiv bagi dirinya dan semoga juga bagi negaranya.
Lebih baik jual es krim dengan gelar PHd daripada jadi Jaksa yang bermain
catur pada jam kerja.
Satu waktu ketika kekuatan buruh di indonesia terbangun maka menghubungkan
pangkat dengan jenis pekerjaan akan hilang dengan sendirinya, karena hanya
dengan meyadari buruh akan haknya maka akan meningkatkan martabat dan derajat
buruh dengan upah yang lebih tinggi.
Di negara2 yang mengharagai keberadaan buruh, seorang plumber (tukang pipa
yang sebagian pekerjaan-nya bergelut dengan WC alias bau-busuk, gajinya tidak
jauh beda dengan dokter 35-75 dollar perjam bahkan lebih, sedangkan di
indonesia pekerjaan seperti itu di anggap murah-an.
di sisi lain Bill Gates pemilik microsoft, lari dari sekolah tak punya
pangkat.
Kancono W Abdurrasyid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wach....sayang sekali...bagi tenaga profesional terutama yang
keluaran PT DI,
apalagi sarjana nuklir, mengapa tak mencoba nasib di industri / tempat lain?
Institusi pemerintah: BATAN, PPNY, PPN-Kartini-Bandung, dan BATAN Pasar Jum'at
serta SERPONG. Ada banyak lagi info untuk mengaktualisasikan kepakarannya
sekaligus mencari rejeki, di MINT-Malaysia posisi profesional itu termasuk
barang amat sekali berharga, apalagi sekarang dalam menjana visi Malaysia 2020
dengan budget RMK-9.
duuuh....prihatiin,....
kcn,-
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Oleh Dwi Bayu Radius
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/28/Fokus/3487374.htm