Bang Tobing, terima kasih atas sharingnya. Kalau begitu beruntunglah saya yg kerja di pabrik buku ;-P Kebetulan saya juga dari anak2 msh baby, punya kebiasaan utk membacakan anak2 saya cerita sebelum tidur. Juga jika ada sesuatu yg sepertinya sulit dijawab, saya dan istri akan cari sumbernya dari buku, sehingga anak2 punya kebiasaan, ketika menemukan hal2 baru dan sulit, mereka akan membaca, baik dari buku maupun sumber2 lain.
salam, totot ----- Original Message ----- From: "Tobing Rinsan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Monday, April 30, 2007 9:36 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Bagaimana minat baca di Indonesia? > Semua harus diawali dari masa pertumbuhan. Tidak hanya pada minat baca saja. > Termasuk kebiasaan-kebiasaan yang lain seperti soal menjaga kebersihan. > Tetapi, saya hanya membatasi pada masalah membaca ini saja. Lingkungan yang > pertama dimasuki seorang anak ketika dia lahir adalah keluarga, lalu > kemudian lingkungan tetangga dan selanjutnya lingkungan yang lebih besar > yakni masyarakat yang didalamnya termasuk lingkungan sekolah. > > Waktu yang dimiliki banyaknya dihabiskan di lingkungan keluarga, tetangga > dan sekolah. Jadi bisa dikatakan bahwa kebiasaan, karakter dan minat seorang > anak akan ditentukan, sebagian besar, oleh ketiga lingkungan ini. Kebanyakan > orang tua hanya membiarkan sekolah yang membentuk anaknya. Sehingga menjadi > pintar adalah tujuan utama dan sialnya menjadi pintar ini hanya dicerminkan > oleh nilai-nilai yang terdapat di buku laporannya. > > Di keluarga sendiri, sebagai orang tua, kita memang harus memberikan contoh > dan teladan sehingga kita harus membentuk lingkungan yang membaca. Ini juga > saya lakukan sejak anak saya masih bayi. Sejak dari bayi saya > sudah menceritakan banyak hal. Ketika berumur satu tahun, saya membelikan > anak saya buku-buku bergambar dengan warna-warna yang kontras. Kebiasaan > saya dan istri saya adalah kalau istri saya membacakan cerita, dia akan > membacakannya dengan menurut saya agak datar, sementara saya selalu dengan > 'soundtrack'. Selalu ada saja suara atau gerakan yang saya tirukan ketika > bercerita tentang sesuatu. Satu ketika yang lain, saya membacakan semua > kata-katanya dengan terbalik. Misalnya Peter Pan, saya baca Nap Retep. Lalu > Bobo, saya baca obob dan seterusnya sekedar untuk memberi warna yang lain. > Buku adalah salah satu yang masuk dalam daftar belanjaan kami. Setidaknya > ada satu buku yang dibeli untuk masing-masing setiap bulannya. Selalu ada > anggaran untuk beli buku. Ada untuk istri saya, ada untuk saya dan untuk > anak saya yang cuma semata wayang tersebut. > > Keajaiban yang ada sekarang adalah anak saya sangat senang ketika diajak ke > toko buku. Ke gramedia, ke gunung agung, ketika ke Jakarta ke kinokuniya > adalah acara yang menyenangkan. Lalu bulan lalu, kami mencari toko buku QB > di Bandung yang ternyata sudah pindah. Pergi ke toko buku selalu menjadi > menyenangkan buat kami bertiga. Apalagi sekarang para pemilik toko buku > tersebut telah memahami investasi jangka panjang. Mereka membuat lingkungan > tokonya seperti perpustakaan dan nyaman untuk membaca.Tidak hanya sekedar > berjualan buku dan memajang buku. Semuanya dirancang untuk membangkitkan > minat baca dan kebiasaan bacapembelinya yang nantinya akan menjadi pelanggan > tetap dan dalam waktu yang panjang. > > Kebiasaan yang ada di rumah ini ternyata tidak didukung oleh lingkungan > tetangga dan sekolah. Sering sekali anak saya kembali ke rumah dari bermain, > bingung. Dia bingung karena dia teman-temannya tidak bisa mengikuti > pembicaraan dia dan sebaliknya. Sekolah juga tidak menyediakan waktu untuk > membaca. Karena tidak ada pelajaran membaca di sekolah atau setidaknya tidak > difokuskan. > > Jadi ketika orang tua tidak bisa membentuk lingkungan yang membaca, lalu > lingkungan tetanggga tidak juga mendukung, sementara sekolah masih sibuk > dengan pencapaian hasil UN yang tinggi dengan segala cara, maka hilanglah > harapan untuk meningkatkan minat baca anak-anak kita. Memang harus diakui > bahwa kebiasaan membaca dan termasuk juga menulis telah terabaikan. > > Pengalaman saya dengan kebiasan tulis menulis di Indonesia yang sangat > kurang adalah sering sekali saya menemukan dalam surat-surat yang saya > terjemahkan dari Indonesia ke Inggris dimana tidak ada satu pun kalimat > dalam susunan kata-kata yang banyak tersebut. Alur berfikirnya juga kacau. > Kenapa terjadi? Sekali lagi karena memang tidak pernah ada kebiasaan menulis > yang dibina dari sejak kecil. Pelajaran menulis telah lama hilang dari > kurikulum kita. Kasihan sekali. Sehingga ketika anak-anak kita diminta untuk > bikin tulisan, memo, laporan, paper atau pun sejenisnya mereka tidak mampu. > Bisanya hanya copy paste. Sayang yah. Sedikit memang keluar dari bahasan > menulis tadi. Tapi saya mau tekankan bahwa kebiasaan membaca dan menulis > harus dibina sejak awal. > > Terimakasih.
