Saya setuju dengan Ibu Fau.. bahwa minat membaca itu harus dimulai dari 
lingkungan terdekat, keluarga. Satu hal yang menurut saya bisa membantu adalah 
lewat taman bacaan di wilayah RT / RW dengan menyediakan buku-buku yang memang 
menarik untuk dibaca.

Jika dibilang minat baca di Indonesia minim saya rasa tergantung dari sisi mana 
dilihatnya. Jika kita tahu oplah koran, majalah, dan tabloid di Indonesia saya 
yakin angka tersebut tidak menunjukkan angka minim minat baca. Tapi jika diukur 
dari penjualan buku di Indonesia mungkin kecil.

Nah.. saya rasa berawal dari sini sudah bisa dikaitkan buku-buku atau bacaan 
apa yang bisa menjadi daya tarik bagi pembaca di Indonesia. Tapi untuk di kota 
besar saya rasa minta baca sudah baik, ini pun disertai baiknya kondisi budaya 
menulis. Saya lihat keduanya sangat berkaitan, makin tinggi budaya menulis 
makin tinggi pula budaya membaca.

Bagaimana dengan dengan pendidikan "menulis dan mengarang" di SD? Saya rasa 
musti makin ditingkatkan dan dibuat lebih menarik, karena lewat menulis dan 
membaca sangat membantu melatih kerangka berfikir anak dan berfikir lebih 
struktural nanti (kelak) ketika dia besar.

Motulz


fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak John,
Menurut saya umumnya info yang tersedia di internet itu berbeda dg
yang ada di buku (hard copy). Tujuan membaca bisa jadi hanya mencari
info pendek yang dg mudah didapatkan melalui internet. Tetapi tujuan
membaca untuk mendapatkan ilmu yang lengkap atau apresiasi sastra yang
dalam saya rasa belum bisa didapatkan di internet. Info di i'net hanya
pelengkap. Saya tidak membaca bukunya Jared Diamond, Orhan Pamuk, Leo
Tolstoy, Haruki Murakami, Encyclopedia Britannica, atau buku2 teks
ekonomi lewat i'net. Semua harus dibaca dg pegang bukunya. 

Dan itu menguntungkan saya dalam hal kesempitan waktu, saya bisa
membaca di kereta, sambil menunggu, sebelum tidur, di cafe dsb tanpa
perlu bawa2 laptop dan konek i'net. Juga menguntungkan saya, karena
mata saya lelah setelah seharian melihat screen. Keuntungan lain,
karena lingkungan saya boleh jadi tertarik melihat buku2 saya dan ikut
membaca.

e-book masih sedikit sekali. Membaca ebook di iPod membuat mata saya
capek. Jadi menurut saya buku dalam bentuk kertas masih akan terus
diminati. 

Saya sepakat dg pendapat Bu Ratih juga. Minat baca kurang dirangsang
oleh sekolah dan rumah. Kalau saya tanya ttg Anna Karenina pada
mahasiswa2 asing, hampir semuanya tau dan pernah baca. Coba tanya hal
yang sama thd orang Indonesia yang berpendidikan tinggi. Jangankan
buku itu, ternyata banyak orang yang saya kenal belum pernah membaca
buku Siti Nurbaya atau Layar Terkembang, tahunya hanya resensi secuil
di buku pelajaran bahasa Indonesia. Saya perhatikan, umumnya di
sekolah2 LN, siswa ditargetkan membaca buku sastra minimal bbrp buah
sesuai tingkatannya (SD-SMA). Sehingga sewaktu SMA mereka sudah
terbiasa membaca buku2 sastra dan biografi kelas dunia. 

Anak saya yang di SD setiap minggu diwajibkan meminjam buku dari
perpus sekolah. Dia boleh pilih buku yang dia mau, dibaca didepan
saya, sedangkan saya memberi "marks" pada kartu yang disediakan di
sekolah. Penilaian meliputi pemahaman, cara membaca (intonasi, jeda,
sikap tubuh), dan eagerness (bukan angka, tetapi level: "sangat
bagus", "bagus", "sedikit lagi bagus"). Ada jam2 tertentu pelajaran
bahasa yang kelasnya diselenggarakan di perpus sekolah (semua membaca
disana). Di kelas, guru pun mendiskusikan buku2 dg siswa secara menarik. 

Akibatnya anak2 bukan cuma hobi membaca buku dari perpus sekolahnya,
melainkan jg aktif menjadi anggota perpus kota. Beda sekali ketika dia
sekolah di Jakarta. Tidak ada saya lihat insentif dari sekolah/guru
untuk menumbuhkan minat membaca ini. Tentu saja harus ada peran aktif
dari ortu (mengantar ke perpus, mendiskusikan isi buku, meladeni
pertanyaan2 anak ttg isi buku, dsb).

Menyediakan buku gratis saja tentu penting tetapi tidak cukup. Harus
ada insentif juga. Guru2 sendiri mungkin juga tidak membaca buku2
bagus karena banyak hal (tidak ada waktu, tidak ada akses, tidak
merasa penting, dsb). Contoh kurangnya minat baca ini bisa "dites" dg
mudah. Seandainya kita tawarkan pada orang (guru, siswa, pihak
sekolah, orang di jalanan): ada uang sekian, mau dibelikan buku atau
barang lain? Meskipun barang lain itu sama2 "sekunder" saya tidak
yakin lebih banyak yang memilih buku. Dugaan saya akan lebih banyak
yang milih nonton, jalan2 ke dufan, makan2 di restoran, beli baju
baru, mainan, perabot baru, dsb. 

Jadi memang masih banyak pr soal minat baca ini, dari ketersediaan
sarana sampai menumbuhkan minat.

salam,

fau
 

Kirim email ke