Bu Fauziah, Memang kenikmatan membaca (hardcopy), dengan harum kertasnya yang khas, sulit digantikan dengan e-book.
Masalahnya (mengutip Rhenald Kasali dalam bukunya cHaNgEs! dan Re-Code Your Change DNA), perubahan terus berlangsung, baik di bidang teknologi informasi, maupun kondisi sosial-kultural masyarakat kita. Bagi yang keukeuh, tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan, ya akan terpinggirkan dengan sendirinya. Saya pribadi memilih jalan tengahnya, saya tetap mengkoleksi buku-buku (hardcopy) yang saya anggap cukup bagus, di perpustakaan mini di rumah, berdesakan dengan perpustakaan CD (musik) dan DVD (film). Oh ya, sekarang sudah muncul inovasi baru, dengan menyampaikan materi buku dalam format CD, seperti yang dilakukan oleh para motivator terkenal, Tung Desem Waringin, James Gwee dll. Ke depan, saya kira Dewi "Dee" Lestari bisa saja merilis novel "Supernova" (non fiksi) dalam format CD audio, jadi kita bisa menikmati isi bukunya sambil tidur-tiduran, praktis bukan? Last but not least, saya juga rutin ber-surfing ria di dunia maya, membuka Wikipedia, Google dan YouTube, yang kadar informasinya cukup akurat. Salam. ----- Original Message ---- From: fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, April 29, 2007 9:45:41 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: bagaimana minat baca di Indonesia? Pak John, Menurut saya umumnya info yang tersedia di internet itu berbeda dg yang ada di buku (hard copy). Tujuan membaca bisa jadi hanya mencari info pendek yang dg mudah didapatkan melalui internet. Tetapi tujuan membaca untuk mendapatkan ilmu yang lengkap atau apresiasi sastra yang dalam saya rasa belum bisa didapatkan di internet. Info di i'net hanya pelengkap. Saya tidak membaca bukunya Jared Diamond, Orhan Pamuk, Leo Tolstoy, Haruki Murakami, Encyclopedia Britannica, atau buku2 teks ekonomi lewat i'net. Semua harus dibaca dg pegang bukunya. Dan itu menguntungkan saya dalam hal kesempitan waktu, saya bisa membaca di kereta, sambil menunggu, sebelum tidur, di cafe dsb tanpa perlu bawa2 laptop dan konek i'net. Juga menguntungkan saya, karena mata saya lelah setelah seharian melihat screen. Keuntungan lain, karena lingkungan saya boleh jadi tertarik melihat buku2 saya dan ikut membaca. e-book masih sedikit sekali. Membaca ebook di iPod membuat mata saya capek. Jadi menurut saya buku dalam bentuk kertas masih akan terus diminati. Saya sepakat dg pendapat Bu Ratih juga. Minat baca kurang dirangsang oleh sekolah dan rumah. Kalau saya tanya ttg Anna Karenina pada mahasiswa2 asing, hampir semuanya tau dan pernah baca. Coba tanya hal yang sama thd orang Indonesia yang berpendidikan tinggi. Jangankan buku itu, ternyata banyak orang yang saya kenal belum pernah membaca buku Siti Nurbaya atau Layar Terkembang, tahunya hanya resensi secuil di buku pelajaran bahasa Indonesia. Saya perhatikan, umumnya di sekolah2 LN, siswa ditargetkan membaca buku sastra minimal bbrp buah sesuai tingkatannya (SD-SMA). Sehingga sewaktu SMA mereka sudah terbiasa membaca buku2 sastra dan biografi kelas dunia. Anak saya yang di SD setiap minggu diwajibkan meminjam buku dari perpus sekolah. Dia boleh pilih buku yang dia mau, dibaca didepan saya, sedangkan saya memberi "marks" pada kartu yang disediakan di sekolah. Penilaian meliputi pemahaman, cara membaca (intonasi, jeda, sikap tubuh), dan eagerness (bukan angka, tetapi level: "sangat bagus", "bagus", "sedikit lagi bagus"). Ada jam2 tertentu pelajaran bahasa yang kelasnya diselenggarakan di perpus sekolah (semua membaca disana). Di kelas, guru pun mendiskusikan buku2 dg siswa secara menarik. Akibatnya anak2 bukan cuma hobi membaca buku dari perpus sekolahnya, melainkan jg aktif menjadi anggota perpus kota. Beda sekali ketika dia sekolah di Jakarta. Tidak ada saya lihat insentif dari sekolah/guru untuk menumbuhkan minat membaca ini. Tentu saja harus ada peran aktif dari ortu (mengantar ke perpus, mendiskusikan isi buku, meladeni pertanyaan2 anak ttg isi buku, dsb). Menyediakan buku gratis saja tentu penting tetapi tidak cukup. Harus ada insentif juga. Guru2 sendiri mungkin juga tidak membaca buku2 bagus karena banyak hal (tidak ada waktu, tidak ada akses, tidak merasa penting, dsb). Contoh kurangnya minat baca ini bisa "dites" dg mudah. Seandainya kita tawarkan pada orang (guru, siswa, pihak sekolah, orang di jalanan): ada uang sekian, mau dibelikan buku atau barang lain? Meskipun barang lain itu sama2 "sekunder" saya tidak yakin lebih banyak yang memilih buku. Dugaan saya akan lebih banyak yang milih nonton, jalan2 ke dufan, makan2 di restoran, beli baju baru, mainan, perabot baru, dsb. Jadi memang masih banyak pr soal minat baca ini, dari ketersediaan sarana sampai menumbuhkan minat. salam, fau
