Pak Manneke,

  Dari awal saya sudah katakan bahwa saya tidak paham betul dengan gerakan 
feminis, apalagi sejarah gerakannya..karena itu saya bertanya. Dan Anda salah 
besar kalo bilang saya punya segudang pengetahuan, secuil iya...dan lucunya 
Anda sudah ada kecurigaan dengan mengatakan soal uji-uji tersebut..he..he..Saya 
hanya menanggapi berdasarkan pengalaman dan berpikir aja..tidak lebih wong baca 
teorinya juga tidak..dan ditambah dari perspektif kemanusiaan bukan feminisme 
karena saya juga tidak tahu logika berpikir feminisme itu.

  Pak Manneke, kan sudah saya katakan (dan sekalian tanya ke Mas Agus 
Hamonangan) karena tidak lolos “sensor” oleh moderator makanya saya kirim ke 
japri, hanya untuk diketahui bahwa saya merespons apa yang Anda tuliskan..hanya 
itu--tidak lebih dan saya juga lebih suka diskusi di forum milis ini 
lho....jangan salah sangka dong Pak.

  Baiklah tanggapan saya pun masih dalam koridor “ketidakmengertian” tentang 
feminisme yang mungkin Anda termasuk salah satu aktivisnya. Lalu saya dianggap 
memberi penilaian sebelum mempelajarinya---dari awal sudah saya katakan tentang 
ketidakmengertian akan gerakan feminisme...kok Anda malah malah menjustifikasi 
saya memberi penilaian..gimana sih? Wong saya sedang tidak melakukan evaluasi 
kok, apa kompetensi saya melakukan evaluasi tersebut..ga level Pak dan bukan 
pada tempatnya..jangan berprasangka dong...tapi saya seneng bisa menghibur Anda 
karena kelucuan saya...

  Kebetulan saya baru pulang dari semarang dan selama di kota tersebut 
melakukan diskusi kelompok/FGD dengan peserta dari kelompok Orang Tua siswa dan 
satu lagi kelompok Guru SD dan SMP..ketika temanya berkaitan dengan isu jender, 
yang terpahami oleh mereka Pak hanya sekedar bahwa laki-perempuan harus sama 
(mungkin masuk dalam terminologi kesetaraan), kata mereka,"misalnya ya dengan 
contoh bahwa bukan lagi ibu di dapur memasak-bapak kerja ke kantor; tapi 
menjadi ibu dan bapak sama-sama pergi bekerja atau bapak membantu ibu di 
dapur". Diharapkan dengan contoh seperti itu maka siswa menjadi lebih siap 
mental menghadapi realitas kehidupan di masa mendatang baik untuk anak laki 
maupun perempuan--kalau temen saya bilang menyiapkan tranformasi kehidupan 
modern buat generasi. Bagi mereka bukan masalah kesetaraan(dalam terminologi 
feminis) tapi lebih realistis sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan 
kehidupan. Maaf di mereka (kalangan rakyat biasa) tidak ada kamus
 mengenai "peminggiran". Kenapa saya katakan bahwa mereka itu kurang mengerti 
apa itu feminis, ketika saya tanyakan tentang isu kesetaraan-pun 
jawabnya,"ah..itukan hanya omongan si aktivis saja-lha wong kami tidak 
merasakan--boro-boro mikir yang penting keluarga kami tercukupi dan bisa 
makan--itu sudah bersyukur"---hal ini mengindikasikan kesadaran akan peran dan 
fungsi masing-masing anggota keluarga. Ini fakta lapangan lho--seperti yang 
saya katakan di tulisan terdahulu dan rupanya tidak terpahami (malah dianggap 
judgement).

  Tanggapan saya hanya untuk poin 1, karena ini yang saya cari dan menjadi 
ganjelan selama ini..yang lain itu mah ga penting lagi--syukur-syukur bisa 
menghibur anda lagi..
  
----------------------------------------------------------------------------------------
  Point 1, soal mono vs plural: Nggak nyambung. Kalau ruang gerak feminisme 
melingkupi banyak aspek, ini tak berarti bahwa tak semuanya memperjuangkan 
kesetaraan. Simpulan Anda rada simplistis. Apakah soalnya di trafficking, atau 
KDRT, atau nasib buruh perempuan, atau poligami, titik tolaknya sama, yakni 
peminggiran perempuan. Problem ini menjelma dalam berbagai bentuk pada 
aspek-aspek kehidupan yang berbeda. Jika tak terjadi peminggiran, perempuan 
akan punya kekuatan tawar lebih besar dalam berhadapan dengan isu-isu tersebut.

  -CI-
  He..he..Emang ga nyaaaambung kalo monolitik diartikan sebagai area ruang 
gerak dalam arti bergeraknya dibanyak aspek seperti yang Anda sebutkan. Ok deh 
dapat satu poin tentang “titik tolak” nya yaitu PEMINGGIRAN PEREMPUAN. Titik 
tolak ini yang menghalangi pemahamanku tentang apa itu feminisme dan gerakannya 
(sampai hari ini, ketika mulai tergelitik ketika perdebatan di FPK dimulai 
dengan respons keras terhadap pak Iwan). Kata Peminggiran ini mengindikasikan 
suatu tindakan yang disengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap 
orang/sekelompok orang lain..dengan begitu ada subjek/pelaku dan objek/korban. 
Dalam hal ini korbannya adalah perempuan, dan pelakunya adalah laki-laki (dan 
atau perempuan sendiri?). Hal ini merupakan suatu pengkondisian dan justru 
mereduksi makna perempuan itu sendiri, menempatkan dalam posisi yang tidak 
menguntungkan, menjadi sub ordinat, ada nuansa rivalitas antara laki-laki dan 
perempuan. Maaf lho ya mungkin karena saya bukan aktivis
 perempuan sehingga sudut pandang kita berbeda.
  Misalnya untuk kasus perdagangan perempuan (anak-anak, dan termasuk juga 
laki-laki) buat saya kasus itu sangat tidak manusiawi (wong manusia kok 
diperjualbelikan tanpa membedakan apakah korbanya laki atau perempuan) sehingga 
perlu di cegah dan payung hukumnya perlu dibuat. Dari perspektif feminisme? 
Saya kurang paham.

  Dalam kasus KDRT, sebenarnya ini masalah yang rumit karena menyangkut spesial 
relationship dalam sebuah perkawinan. Misalnya dalam kehidupan seorang Gadis 
Arivia, filsuf dan aktivis gerakan feminisme,
  ” Dia sangat berbahagia karena memiliki kesiapan mental dan dukungan dari 
suami dan anak-anaknya. Tanpa dukungan mereka saya tidak bisa bekerja dengan 
maksimal,"katanya. Namun, sesibuk apa pun dia, baik sebagai dosen dan aktivis 
perempuan, dia tetap memprioritaskan keluarga. Tak jarang dia mengajak anaknya 
ikut keluar kota sekaligus menyelesaikan pekerjaanya”.(dari web tokoh Indonesia)
  Ini contoh kehidupan seorang aktivis perempuan yang punya kesadaran akan 
peran dan fungsi dari masing-masing anggota keluarga yang tidak bisa diabaikan. 
Lalu kalo terjadi sebaliknya dalam kehidupan berkeluarga, apakah dengan begitu 
dikatakan telah terjadi peminggiran terhadap perempuan??—saya pikir kok tidak 
sesimpel itu.
  Saya pernah mendampingi seorang teman perempuan yang sedang menghadapi 
masalah dalam kehidupan perkawinannya, dan saya sarankan ke LBH Perempuan 
paling tidak yang tahu aspek-asepk tertentu yang perlu diketahui untuk 
menyelesaikan masalahnya, syukur-syukur tetap bisa mempertahankan 
keluarga---ternyata selama konsultasi via telepon yang dipermasalahkan oleh LBH 
tersebut hanya soal pembagian harta gono-gini jika terjadi perceraian dan 
sidang—karena merasa ga cocok dengan suggestion LBH tersebut akhirnya si temen 
perempuan tadi tidak jadi menggunakan jasanya dan membuat keputusan sendiri. 
Pertanyaan saya setelah itu (dalam hati) adalah apa sebenarnya yang 
diperjuangkan oleh aktivis perempuan tersebut?? Kalo dipikir masuk akal sih 
sarannya tapi ketika “hati” yang bicara kok sangat memalukan dan justru teman 
saya merasa “terpinggirkan” oleh saran tersebut; Dalam diskusi ini saya 
dapatkan titik tolak perjuangan feminisme yang disebut “peminggiran 
perempuan”—yang menghalangiku
 untuk masuk memahami gerakan ini.

  Kemudian mengenai pengertian monolitik yang anda katakan bahwa Aktivis 
bergeraknya bukan di ‘monolitik’—maka dalam pikiran saya langsung berkaitan 
dengan sistem sosial (seperti kata E.T Hall). Lalu bandingannya ya tentu saja 
dengan pluralistik..jadilah Monolitik VS Pluralistik—karena ga nyambung tidak 
perlu dibahas. Karena mono yang Anda maksudkan adalah berbagai macam bidang 
gerak—yang berarti mungkin karena perbedaan stereotip jender...mungkin saya 
hanya memperkirakan.

  Mohon pencerahannya.
  -CI-





manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Nah, perasaan saya rupanya tak meleset. Sebetulnya si Ibu ini sudah 
punya segudang pengetahuan, tapi mungkin memang masih 'sungkan' buat 
dibagi-bagi. Nunggu disentil dulu baru keluar semua (dtambah lagi yang dikirim 
japri ke saya karena tak muncul di FPK--sangat panjang dan rinci, tak mungkin 
saya rangkum di sini).

Ini tanggapan saya atas point-point Bu Cornelia:

Point 1, soal mono vs plural: Nggak nyambung. Kalau ruang gerak feminisme 
melingkupi banyak aspek, ini tak berarti bahwa tak semuanya memperjuangkan 
kesetaraan. Simpulan Anda rada simplistis. Apakah soalnya di trafficking, atau 
KDRT, atau nasib buruh perempuan, atau poligami, titik tolaknya sama, yakni 
peminggiran perempuan. Problem ini menjelma dalam berbagai bentuk pada 
aspek-aspek kehidupan yang berbeda. Jika tak terjadi peminggiran, perempuan 
akan punya kekuatan tawar lebih besar dalam berhadapan dengan isu-isu tersebut.

Point 2, tentang pengaruh monolitisme pada feminis: Tidak, feminis pun harus 
berjuang membebaskan diri dari wawasan monolitik. Itu sebabnya, maka Kajian 
Wanita adalah sebuah studi yang bersifat reflektif: peneliti/pengaji tidak 
diposisikan berada di luar masalah yang ia kaji. Ia tak hanya mengkritisi 
patriarki tetapi juga kritis terhadap manifestasi nilai-nilai patriarki dalam 
praktik-praktik feminis sendiri. Maka itu, dalam feminisme dikenal adanya 
feminisme gelombang pertama, kedua dan ketiga. Ini merefleksikan perubahan dan 
perkembangan konsep/wawasan/teori feminis dalam menyoroti dan memosisikan 
dirinya sendiri ketika mengaji perempuan.

Tentang contoh masyaraat Jepang yang Anda nilai monolitik tapi berhasil 
mengadopsi pluralitas sembari mempertahankan kekhasan tradisinya: ya berarti 
nggak monolitik lagi dong, Mbak'e? Mereka udah jadi masyarakat plural (kalau 
sinyalemen Anda benar). Tapi apa iya? Pernah liat pronografi Jepang nggak, 
serta gimana perempuan diperlakukan di situ? Pernah dengar fenomena laki-laki 
Jepang yang nyaris tak pernah di rumah karena lebih suka nongkrong di karaoke 
(sambil ditemani perempuan penghibur), dan baru pulang dalam keadaan mabuk 
berat, lalu main tangan terhadap istri? Jadi, asumsi kemandirian perempuan di 
Jepang juga masih terbuka untuk perdebatan tampaknya, ya?

Point 3, soal : Anda bertanya, kesepakatan bahwa para feminis di berbagai 
penjuru dunia atas peminggiran perempuan dari mana asalnya? Tinggal baca saja 
berbagai literatur feminis, entah itu yang terbit di Barat, di kalangan 
masyarakat indigenous, di Timur Tengah, di Asia Timur, ataupun di Indonesia. 
Lagian, Bu Cornelia, jika ada perempuan mengaku aktivis feminis tapi berkata 
bahwa ia tak sepakat bahwa perempuan masih terpinggirkan, maka logikanya ia 
bukan feminis lagi dong? Ngapain jadi feminis atau aktivis feminis kalau raison 
d'etre bagi perjuangannya sendiri taklagi ia sepakati alias tak lagi ia anggap 
sebagai masalah feminisme atau perempuan? Yang ini terdengar lucu...hi hi hi.

Point 4, soal ketergantungan dan kemandirian: Lha, memang yang bilang bahwa 
ketergantungannya/kemandiriannya cuma soal ekonomi juga siapa, Bu? persoalan 
perempuan memang tak mungkin bisa direduksi jadi persoalan ekonomi semata. Cuma 
butuh common sense yang biasa untuk mengerti hal ini.

Point 5, bahwa Indonesia masih monolitik: Inipun tak akan saya perdebatkan. 
Dalam posting terdahulu, saya tak mempersoalkan apakah Indonesia masih 
monolitik atau ndak. Yang saya katakan, feminisme tidak monolitik (bukan 
Indonesia!). Lha kok beloknya ke Indonesia, saya jadi kaga ngerti. Gerakan 
feminis cuma di kota-kota besar? He he he. Coba Anda ikuti Jurnal Perempuan 
Srinthil yang diterbitkan Desantara. Dengar suara para peronggeng, penayub, dan 
para janda di desa-desa di Lombok sana. Namun, bahkan Jurnal Perempuan pun yang 
konon bercorak urban juga memberi ruang yang sangat luas bagi perempuan 
non-urban untuk bersuara: perempuan di wilayah konflik, misalnya. Feminisme 
gelombang ketiga justru didominasi oleh suara perempuan Dunia Ketiga: mereka 
yang dipaksa menjalani mutilasi, mereka yang pernah mengalami jadi korban 
trafficking, mereka yang jadi buruh berupah tak layak, dll. Makanya, pelajari 
dulu, baru menilai.

Point 6, soal peran dan fungsi: Sungguh lucu Anda ini. Peran perempuan yang 
kini dominan (domestik) itu Anda sebut realitas? Realitas ciptaan siapa? bahwa 
perempuan punya vagina, punya rahim, punya potensi menyusui, itu realitas. 
tapi, bahwa itu lalu dijadikan dasar membagi peran (domestik vs publik), ini 
yang konyol. Ini bukan realitas tapi konstruksi sosial. Dan inilah yang hendak 
dilawan oleh feminisme. Mengapa? Sebab konstruksi peran berbasis gender ini 
banyak merugikan perempuan dan selalu dijadikan justifikasi peminggiran 
perempuan ke wilayah domestik. Nah, kalo Anda sebagai perempuan hepi dengan 
itu, ya monggo. Go ahead, enjoy it. Tapi, para feminis adalah perempuan yang 
tidak hepi dengan situasi itu, berupaya membangun kesadaran tentang betapa tak 
menguntungkan posisi tsb bagi perempuan, dan meruntuhkan konstruksi gender yang 
berat sebelah itu. Mungkin di situ letak perbedaan mereka dengan Anda.

Point 7, tentang perjuangan untuk kemanusiaan: Setuju! Dan ini tak bertentangan 
dengan cita-cita feminis. Tapi, nggak usah bicara soal kemanusiaan secara 
universal kalo di mana-mana makhluk manusia berkelamin perempuan masih 
dikungkung oleh norma-norma maskulin. Sama aja bo'ong. Jika kesetaraan yang 
diperjuangkan feminisme tercapai, maka perjuangan menyetarakan manusia di 
seluruh dunia sudah selangkah maki dekat dengan perwujudannya.

Point 8, soal bahwa laki-laki juga da yang menalami ketidaksetaraan: Setuju 
juga. Inilah sebabnya mengapa feminisme gelombang ketiga juga menekankan 
perlunya aliansi strategis dan solidaritas dengan kelompok-kelompok 
terpinggirkan lainnya: bisa buruh, bisa tani, bisa nelayan, bisa anak-anak, 
bisa kaum kulit hitam dalam mayoritas kulit putih, bis aindigenous people, dll. 
Aliansi ini tak kenal gender, warna kulit, kelas sosial, atau wilayah 
geografis. Sekali lagi saya sarankan, baca dulu, pelajari, baru menilai (boleh 
sambil nyengir, boleh juga sambil serius).

manneke

Kirim email ke