From: "Yusrianti Y.Pontodjaf" <yuspontodjaf@ yahoo.co. id>
Reply-To: <jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au>
Date: Tue, 1 May 2007 11:18:46 +0700 (ICT)
To: <jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au>
Subject: [jurnalis_jakarta] Renungan ...Upah Layak bagi Yusman

Ballada Upah Layak bagi Jurnalis

Tadi malam entah mengapa, saya ingat nasib Yusman, redaktur saya di Berita
Kota Makassar. Usianya sekira 40 tahun saat itu. Ia bapak dari tiga anak
yang cerdas dan lucu, suami dari istri yang masih muda dan cantik.

Ayah Yusman, Hasan namanya. Hasan juga wartawan dan terakhir saya bertemu,
ia (masih setia) jadi wartawan berposko di Pengadilan Negeri makassar. Hasan
membesarkan Yusman dari honor sebagai wartawan. Dan Yusman juga bertekad
membesarkan tiga anaknya dari honor sebagai wartawan.

Kebutuhan sehari hari makin meningkat, biaya sekolah juga makin mahal. Hasan
mulai sakit sakitan dan Yusman coab mengambil alih semua tanggungjawab
keluarga besar itu. Saya tahu karena sesekali saya ikut dalam kegembiraan
dan kesedihan keluarga itu di sebuah lorong sempit Jalan Gunung Lompobattang
sana. Rumah sempit ditambah satu ponakan yang sudah yatim. Yusman harus
memberi makan paling tidak 8 orang setiap hari, biaya sekolah dan lain-lain.

Saya tidak pernah menanyakan detail gaji Redaktur saat itu, tapi dari cerita
teman teman, redaktur hanya dapat Rp 500 ribu. Bayangkan, seorang Yusman
dengan pendapatan maksimal Rp 1 juta misalnya, harus memberi makan 8 orang.
Tapi saya tidak dapat berbuat apa apa. Sesekali saya menangis dalam hati
melihat betapa Yusman berjuang demi keluarganya. Ia cukup idealis meski
sesekali menerima amplop untuk berita advetorial. Ia juga menerima order
iklan untuk kantor . Sesekali ia membeli makanan dan transport juga pada
saya. Entah uangnya darimana...ia hanya bilang "Ini bagi bagi
rezeki...kantor mana cukup kasi makan kita"

Saya juga masih magang waktu itu. Tiga bulan pertama hanya dapat transport
Rp 25 ribu untuk satu minggu. Atau Rp 100 ribu dalam sebulan ! Jumlah yang
kecil tapi masih cukup buat saya. Tahun 1999 waktu itu saya masih punya
cukup banyak tabungan dan deposito dari pekerjaan sebelumnya di Jakarta.
Makan, uang jajan dan uang kongkow pun masih tertutupi dari pekerjaan
sambilan sebagai pekerja sosial beberapa LSM di Makassar.

Tahun 2002, saya dan beberapa teman hengkang dari media Jawa Pos Grup itu.
Ada yang menjadi anggota DPRD, Direktur LSM Korupsi, dosen di Pontianak juga
jadi wartawan TV. Yusman masih setia dengan kantor lama. Saya pindah ke
Jakarta lalu bolak balik bekerja Jakarta-Makassar. Lalu menerima tawaran di
salah satu harian lain di Makassar. Dan Yusman, masih setia di kantor lama.
Masih redaktur lalu saya dengar jadi reporter biasa nyambi bisnis ikan.

Terakhir kami bertemu, saya tridak ingat kapan ? ia bercerita soal rencana
bisnis ikannya. Ia sudah mulai capek dengan kemiskinannya Dan tak tahan malu
kalau harus menerima amplop, meski tak sering ia lakukan. Juga tidak untuk
berita pesanan, hanya sekedar rasa terima aksih. Amplop abu abu. Bisnis ikan
adalah solusi, menurutnya. Saya ikut senang.

Kemudian saya mendapat kabar yang mulai terpotong potong...Yusman keluar
dari kantor lama...bisnis ikannya mulai maju....Tetapi kemudian saya juga
mendengar kabar lagi...bisnis ikannya gagal, istrinya terpaksa kerja di
pelabuhan jadi operator ? dan mulai bertengkar.. .ada tuduhan
berselingkuh. ...lalu.. ..(tidak jelas) Yusman kabur meninggalkan keluarganya.
MUNGKINKAH.. . ??? Yusman yang taat dan sering menasehati saya seperti kakak,
istrinya yang cantik dan setia dengan serba tidak cukupnya selama ini ?

Semuanya membingungkan dan mengiris hati saya. Betapa Upah Layak harus
diperjuangkan. Betapa perjuangan untuk hidup layak bagi seorang jurnalis
memakan begitu banyak korban. Bukan hanya Yusman..., kesetiaan istri,
keceriaan tiga orang anak, kenyamanan hari tua Pak Hasan dan istrinya,
kelanjutan sekolah seorang anak yatim dan kegembiraan banyak temannya ikut
terampas !!!? Kegembiraan saya, kegembiraan teman teman yang selama ini
dibimbingnya. Ketaatan seorang yang percaya Tuhan dan nasib.....Yusman
mungkin kalah karena is sendiri.

Lalu, masihkah perjuangan upah layak bagi jurnalis dianggap 'demo
kepentingan' tuntutan gak masuk akal ??? Renungkan cerita ini teman temanku.
Ini bukan untuk ditonton, tetapi untuk didukung dan diperjuangkan. Sendiri
saya tak sanggup berdiri tapi bersama saya rasa punya asa...Bersatulah
Jurnalis Perjuangkan Upah Layak !

Tuk Pak Yusman dan rekans jurnalis... Selamat Hari Buruh

Yusrianti Y.Pontodjaf

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke