Eeeealaaah tiwas mau kasih selamat tau nya di Republik Mimpi .............. he he he he he he
Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 05/01/2007 07:50 PM Please respond to Forum-Pembaca-Kompas Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Essay - Saya Ditawari Bergabung ke Kabinet Baru SBY Saya Ditawari Bergabung ke Kabinet Baru SBY Oleh Satrio Arismunandar Dering handphone itu menyentakkan saya, persis ketika saya berbenah mau pulang dari kantor saya di Trans TV, Jl. Tendean, Jakarta Selatan. Waktu itu hari Selasa, 24 April 2007, sekitar pukul 20.00 WIB. Suara laki-laki di ujung sana terdengar tenang, mantap, dan berwibawa: "Selamat malam! Bisa bicara dengan Pak Satrio Arismunandar?" "Ya. Ini saya sendiri. Maaf, dari siapa ya?" "Saya Sudi. Sudi Silalahi?." "Hah? Pak Sudi Silalahi? Maksudnya, bapak ini Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu dan orang kepercayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?" Saya agak kaget. Masa sih, seorang jenderal setingkat Sudi Silalahi mau repot menelepon saya, yang cuma producer di Trans TV. Jangan-jangan cuma orang iseng. Tetapi, nada suara dan cara bicaranya terdengar sangat serius. Saya memutuskan untuk mendengarkan terus. "Saya tidak pernah menyebut diri orang kepercayaan Presiden. Tetapi, kalau Anda menganggap begitu, ya boleh-boleh saja?" jawab orang itu. "Baiklah. Apa yang bisa saya bantu, Pak? Pasti ada hal yang serius, sampai Bapak menelepon saya." "Begini. Saya mau tanya, apakah Anda bersedia mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara?" "Wah, kalau untuk kepentingan bangsa dan negara, saya sih selalu bersedia, Pak. Tetapi, mengabdi dalam bentuk bagaimana?" "Pak Satrio, karena kita sedang bicara lewat telepon, jadi saya akan to the point saja. Begini, seperti tentunya sudah Anda dengar, Presiden SBY akan merombak kabinetnya dalam waktu seminggu ke depan ini. Saya diminta membantu Presiden, dengan menyerahkan nama-nama, yang sekiranya layak untuk mengisi sejumlah pos di komposisi kabinet baru mendatang. Atau, kalau pun bukan untuk pos menteri, ada sejumlah pos lain di level bawah menteri, yang perlu mendapat penyegaran, demi perbaikan kinerja pemerintahan. Setelah mendengar masukan dari sejumlah sumber, dan rekomendasi dari sejumlah kalangan yang cukup kompeten, nama Anda masuk dalam daftar saya?" "Boleh tahu, Pak, siapa yang merekomendasikan saya? Dan apa pertimbangannya? Rasanya kok kapasitas saya masih jauh dari memadai?" Ego saya sempat tersanjung, tetapi saya segera bersikap hati-hati. Sebagai wartawan, saya sudah mendengar sejumlah kasus penipuan macam ini, di mana ada orang yang mengaku disuruh Presiden untuk memanggil sejumlah "calon menteri" ke kediaman resmi Presiden. Tahu-tahunya, sesudah si calon dengan hati berbunga-bunga datang, Presiden mengatakan, ia tidak pernah merasa memanggil orang tersebut. Saya tidak mau bernasib konyol seperti itu! "Soal siapa yang merekomendasikan Anda, saya pikir tak perlu disebut. Tetapi umumnya dari kalangan media dan public relations. Mereka beranggapan, salah satu kegagalan pemerintah sekarang adalah dalam mengkomunikasikan dirinya kepada rakyat. Ada jurang yang lebar, antara persepsi yang diyakini oleh kami di kalangan pemerintah, dengan persepsi rakyat, yang terlihat jelas dalam sejumlah jajak pendapat di media massa . Rakyat memandang pemerintah tidak tegas, tidak tanggap, tidak serius memberantas korupsi, tidak perduli pada nasib rakyat kecil, dan sebagainya. Padahal pemerintah SBY telah berjuang keras, untuk mewujudkan semua janji yang telah diucapkan sejak masa kampanye pemilihan presiden 2004 lalu?" ujarnya. Ia melanjutkan, "Kalau kita mau jujur dan obyektif, bukankah langkah pemberantasan korupsi di bawah pemerintahan SBY masih jauh lebih baik dibandingkan ?maaf-- zaman Ibu Megawati? Kemudian., bukankah kondisi keamanan dalam negeri kita jauh lebih baik di bawah Presiden SBY? Gembong-gembong teroris beserta jaringannya telah ditangkap dan dihukum. Belum lagi menyebut prestasi luar biasa, dengan terwujudnya perdamaian di Aceh. Padahal selama bertahun-tahun, di bawah pemerintahan Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan Ibu Mega, masalah Aceh tak pernah selesai..." "Nah, semua prestasi pemerintah itu mendapat sambutan baik dari kalangan di luar negeri, karena mereka memahami, betapa sulitnya mencapai prestasi itu di tengah keterpurukan ekonomi dan apatisme yang menghinggapi banyak kalangan. Terutama, sejak terjadinya krisis multidimensi di negeri ini. Ironisnya, semua prestasi pemerintah itu justru tidak diapresiasi oleh rakyatnya sendiri?" "Pemerintah menjadi bulan-bulanan dan sasaran kritik bertubi-tubi di media. Saya merasa ini kurang fair. Tapi itulah kenyataannya. Presiden memang punya dua juru bicara resmi. Untuk urusan dalam negeri, dipegang oleh Pak Andi Mallarangeng. Sedangkan untuk isu-isu luar negeri, ditangani Pak Dino Patti Djalal. Namun, mereka 100 persen betul-betul hanya berperan sebagai juru bicara. Padahal, yang dibutuhkan bukanlah sekadar mengulang apa kata Presiden. Kalau cuma begitu, perannya sangat terbatas..." "Yang mendesak dan amat dibutuhkan adalah bagaimana mengkomunikasikan keseluruhan visi, misi, dan kebijakan pemerintah, agar posisi pemerintah dipahami, dan pada akhirnya didukung oleh rakyat. Adanya dukungan yang meluas dari rakyat ini sangat krusial, untuk melaksanakan berbagai kebijakan dan program pemerintah, serta mencapai target-target yang telah ditetapkan. Dalam kapasitas semacam inilah, baru kita bisa bicara tentang pencapaian Visi Indonesia 2030, di mana Indonesia bangkit menjadi negara dan bangsa yang dihormati dalam pergaulan dunia abad ke-21..." "Masalahnya, para juru bicara tidak mampu mengkomunikasikan seluruh posisi pemerintah, agar diapresiasi rakyatnya. Mungkin, mereka memang tidak diberi porsi untuk melakukan itu. Namun, keberadaan Menteri Komunikasi dan Informasi juga tidak banyak membantu. Menkominfo lebih sibuk mengurusi Komisi Penyiaran Indonesia dan program 'Republik BBM' di televisi, yang sebetulnya bukan menjadi inti permasalahan komunikasi mendasar yang kini dihadapi pemerintah?" "Dalam kaitan itulah, saya melihat posisi Pak Satrio amat berarti. Anda memiliki jam terbang yang lama di bidang pers dan media massa , serta memiliki hubungan yang baik dengan organisasi jurnalis, kalangan LSM, dan akademisi. Kalau Anda tidak keberatan, saya berharap, Anda dapat berperan dalam kabinet baru hasil reshuffle mendatang. Kalau toh bukan sebagai Menkominfo, paling tidak Anda saya harapkan bisa memimpin suatu lembaga baru, yang tugas dan peran utamanya adalah mengkomunikasikan seluruh visi, misi, kebijakan dan posisi pemerintah ini, agar dipahami dan didukung rakyat?" "Maksudnya, Pak?" tanya saya. "Yah, terus terang saja, Presiden SBY sudah merencanakan untuk menghapus posisi juru bicara, yang kini dijabat Pak Andi dan Pak Dino, karena dianggap tidak efektif. Kalau toh masih ada kebutuhan, posisi itu akan dilebur dan digabungkan di bawah lembaga baru, dengan peran yang sudah saya uraikan tadi. Saya berharap, Pak Satrio tidak keberatan untuk memimpin lembaga itu. Namun, tentu saja kata akhir bukan di tangan saya, tetapi di tangan Presiden. Saya hanya akan merekomendasikan kepada beliau, bahwa Pak Satrio layak memimpin lembaga tersebut. Bagaimana tanggapan, Pak Satrio?" Saya merasa tergugah. "Untuk kepentingan bangsa dan negara, saya siap, Pak!" "Nah, kalau begitu, saya akan masukkan nama Anda dalam daftar yang akan saya serahkan ke Presiden. Saya tentu tak bisa memaksa Presiden untuk menerima Anda. Itu di luar kapasitas saya. Jadi, tunggu saja. Tentang bagaimana keputusan Presiden nanti, akan saya sampaikan ke Anda. Oke?" "Baik, Pak. Saya tunggu perkembangannya." Tak sengaja, karena terlalu bersemangat, saya terpeleset. Gedubrak! Saya jatuh ke lantai. Dengan tergagap-gagap, saya mencoba bangun. Kepala rasanya pusing. Ternyata, saya tadi jatuh dari tempat tidur, dan semua percakapan dengan "Pak Sudi Silalahi" hanyalah mimpi belaka. Istri saya menghampiri dan bertanya, cemas: " Ada apa, Mas?" "Tidak apa-apa kok. Aku tadi cuma mimpi, ditawari untuk bergabung dengan kabinet baru SBY hasil reshuffle?" "Oalahhh, Massss! Setiap hari, kamu itu kerjanya ' kan cuma mengritik pemerintah. Yang tidak tegaslah, yang tidak tanggaplah, yang tidak peka mendengarkan suara rakyatlah? Kok sekarang Mas malah bermimpi diajak bergabung ke kabinet SBY?. Istighfar, Masss! Istighfar!" *** Depok, 25 April 2007 *Satrio Arismunandar, news producer di Trans TV dan Pengurus Pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia ). http://satrioarismunandar6.blogspot.com "If you know how to die, you know how to live..."
