Memang menjadi lebih menarik lagi dengan munculnya buku John ROOSA tentang G30 S. Meskipun bukan lagi sebuah kotak Pandora karena sejak awal teori tentang konspirasi yang diotaki oleh Syam ini sudah dikenal oleh para aktivis yang mengikuti dan hidup dimasa itu. Bagaimana perjalanan G30 S yang ketika itu bagi kami para mahasiswa yang mencoba berpikir kritis sungguh tidak masuk akal sehat. Kalau benar-benar PKI yang merencanakan dengan all out sudah barang tentu tidak akan begitu mudah dipatahkan oleh Jendral Suharto. Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Lenin di Rusia dan Mao Tze Tung di China. Saya yakin PKI sudah banyak belajar dari para Old Camerades mereka bagaimana merebut kekuasaan dengan kekuatan militer. Saya yakin bahwa pada tahun 1964- 1965 PKI adalah kekuatan politik yang terbesar dengan pengaruh yang kuat ditubuh militer khususnya para bintara kebawah. Secara teoritis lewat pemilu ataupun lewat perbutan kekuasaan kalau mereka persiapkan pasti mereka akan berhasil.Catatan kesaksian Soepardjo tentang peranan Syam yang menurut saya menunjukkan bagaimana kelihaiannya sebagai "agen bermuka dua" sangat tepat sekali. Kita akhirnya tahu bahwa Syam sebenarnya adalah agen utama militer/CIA? yang berhasil menembus ke jantung dan otak PKI. Pada hakikatnya G30S adalah "sukses besar" Syam dalam misinya menghancurkan PKI yang berarti memenangkan Amerika Serikat dan Blok Barat dalam pertempuran Perang Dingin di Indonesia justru pada saat PKI pada puncak kekuatannya untuk memenangkan pemilihan umum ( seandainya dilakukan pada masa itu). Betul betul sangat lihai dan hebat! Kita masih ingat bagaimana pada saat yang begitu gawat bagi PKI justru DN Aidit meninggalkan Jakarta dengan pesawat terbang ke Solo; hanya untuk menemui kematiannya ditangan Yasir Hadibroto. Logikanya kalau memang mencari dalang G30S dan sekaligus membuktikan PKI berada dibelakangnya tentulah Sang Super Gembong harus diadili lewat Mahmilub. Ternyata tidak!. Dengan alasan akan melarikan diri maka Aidit "terpaksa" ditembak mati. Sangat tragis! Tetapi itulah sejarah Indonesia. Yang terang para pemenang dengan sangat efektip dan efisien serta dgn penuh kepiawaiannya berhasil mengkosolidasikan kemenangannya dalam bentuk kekuasaan yang berlangsung selama lebih 30 tahun. Sekarang bagaimana kita yang sedikit banyak mengalami masa tersebut dapat memberikan pencerahan kepada generasi muda bangsa Indonesia untuk belajar dari sejarah dengan cerdas dan bijak. Semoga kita diberikan kemampuan oleh Sang Pencipta Tuhan Seru Sekalian Alam, salam Tjuk Kasturi Sukiadi
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Oleh Budiarto Shambazy http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/28/utama/3474255.htm ====================== Terbit lagi buku baru tentang Gerakan 30 September (G30S) karya John Roosa, Pretext for Mass Murder: the September 30th Movement & Suharto's Coup d'État in Indonesia (2006). Roosa ahli Indonesia yang mengajar di University of British Columbia, Kanada. Bahan utama Roosa adalah "dokumen Supardjo", brigjen Panglima Komando Tempur IV, Komando Mandala Siaga di Kalimantan. Supardjo menulis postmortem analysis tentang kegagalan G30S. Dokumen ditulis tangan dan keasliannya diakui. Ia jadi lampiran di buku tentang perang gerilya karya Jenderal Besar AH Nasution. Supardjo divonis mati Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa). Ia melanjutkan pendidikan militer ke Quetta, Pakistan, dan ikut operasi penumpasan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat. Roosa menjadikan dokumen Supardjo sebagai titik tolak menulis narasi tentang G30S. Ia memperkaya telaah tentang G30S yang bersumber dari dokumen-dokumen versi Pemerintah RI, ilmuwan lokal dan Barat, sidang Mahmilub, atau declassified documents Pemerintah Amerika Serikat (AS). Menurut Roosa, G30S diotaki lima orang: Komandan Batalyon I Tjakrabirawa Letkol Untung Sjamsuri, Komandan Garnisun Kodam Jaya Kolonel Abdul Latief, Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan AU Halim Perdanakusuma Mayor Soejono, Ketua Biro Chusus Pusat (BCP)-PKI Sjam Kamaruzaman, dan anggota BCP Supono Marsudidjojo (Pono). Supardjo menyimpulkan G30S dipimpin "langsung oleh partai (PKI)" lewat kaitan antara Ketua Umum PKI DN Aidit dan Sjam. Supardjo menilai gerakan itu gagal karena dipimpin Sjam yang sipil. Ia mengkritik kekurangsiapannya. Sekitar 4.000 aktivis PKI dan underbouw-nya di Jakarta dan di daerah tak dimobilisasi karena berbagai alasan, misalnya tak tahu ada penculikan jenderal. Kekacauan koordinasi tampak saat ratusan prajurit G30S di Monas kelaparan sehingga dengan cepat menyerah. Kegagalan ini tanggung jawab Sjam, tokoh misterius. Ada yang menuding pria keturunan Arab kelahiran Tuban ini double agent yang bekerja untuk dua pihak yang bermusuhan. Ia ditangkap tahun 1967, divonis mati 1968, dan dieksekusi 1986. Namun, ada yang percayamisalnya Sersan Mayor Bungkus yang ikut penculikanSjam masih ada di Amerika Serikat. Sjam memimpin BCP (sebelumnya Bagian Militer) sejak 1964 menggantikan Karto alias Hadi Bengkring. Sebelum meninggal Karto kepada Aidit menyampaikan ketidaksetujuan atas rencana PKI menunjuk Sjam sebagai ketua baru BCP. Sjam ikut perang kemerdekaan dan dikenal sebagai aktivis buruh di Tanjung Priok. Ia masuk sekolah dagang di Yogyakarta dan jadi pegawai negeri sebelum bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia dan akhirnya masuk PKI. BCP merupakan lembaga yang serba rahasia. Sjam menyamar sebagai pengusaha genteng dan Pono sebagai pemilik restoran. BCP tak berkantor, rapat sekali sebulan, dan cuma Sjam yang melaporkan kegiatan BCP kepada Aidit. Sjam, yang sering berjas dan berdasi, sosialita yang bergaul luas. Ia malas baca buku, apalagi mempelajari teori. Roosa menggambarkan Sjam seorang oportunistis. Berdasarkan analisis dokumen Supardjo, Roosa menyimpulkan sejak awal Sjam bertujuan agar G30S gagal total. Mengapa? Roosa, juga beberapa ilmuwan lain, mengatakan G30S dimanfaatkan sebagai dalih (pretext) untuk menumpas PKI sampai ke akar-akarnya. PKI dipancing untuk memercayai rumor tentang rencana kudeta Dewan Jenderal terhadap Bung Karno (BK) 5 Oktober 1965. Sebelum didahului, Sjam "mencuri start" lewat G30S dengan alasan menyelamatkan BK dari kudeta Dewan Jenderal. PKI yang pro-China terlibat konflik melawan TNI AD (plus blok antikomunis) yang pro-Barat. Beijing ingin Indonesia jadi negara komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan China, sebaliknya Barat ingin mencegahnya. Di bab terakhir, "Assembling a New Narrative", Roosa menampilkan sumber-sumber teranyar tentang G30S, termasuk declassified documents baru. Cukup banyak terungkap informasi tentang bagaimana Washington DC membantu "Nato" (Nasution-Suharto). Nato istilah dari Supardjo. Pak Nas adalah patriarch TNI AD saat itu yang menduduki posisi Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata berbintang empat, sedangkan Pak Harto Panglima Kostrad berbintang dua. Stabilitas politik jadi prioritas utama Orde Baru setelah "Nato" secara de facto berkuasa. BK mulai disingkirkan walau tetap menjadi presiden. Roosa mengutip laporan Duta Besar AS di Jakarta Marshall Green ke Washington DC tentang Pak Harto bulan Mei 1966. "Ia berbicara tentang Pancasila. Ia mengatakan kemiskinan lahan subur bagi tumbuhnya kembali komunisme, jadi Indonesia harus segera membangun ekonominya," tulis Green. Roosa menyebut pembunuhan massal pasca-G30S mencerminkan kultur run amok, apalagi terhadap yang tak berdaya. Penculikan dialami BK menjelang Proklamasi 1945, para jenderal saat G30S, dan juga para aktivis menjelang kerusuhan Mei 1998. Per 1 Januari 2007 pukul 00.00, Pemerintah AS membuka jutaan halaman declassified documents, termasuk yang menguak lebih dalam lagi G30S. Akan terkuak lagi bukti-bukti terbaru. Akan terbit pula buku-buku baru yang melengkapi narasi Roosa. Buku adalah jendela untuk melihat dunia, tetapi ia juga bisa bagaikan kotak pandora yang membuat kita terkejut saat membukanya. --------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed]
