Bu Ratih, Benar sekali, di LN, siswa diajak belajar secara cerdas, berani mengutarakan pendapat secara cerdas dan berdebat secara cerdas (tidak "AsBun" atau "OmDo"). Biasanya anak-anak Eropa atau Amerika jago dalam hal berdebat, sementara anak-anak Asia (utamanya keturunan China, Jepang dan Korea) lebih menonjol dalam hal science dan Math, tapi kurang menonjol dalam hal debat, mungkin karena culture ya. Darimana ilmu mereka bisa berkembang pesat? Ya dari banyak membaca, membaca dan membaca.
Kalau di LN, bukan pemandangan yg aneh kalau orang asyik membaca sendirian di cafe, di terminal dll. Kalau di sini orang lebih asyik ngerumpi, ngegosip dll. Mungkin karena culture ya. Salam. ----- Original Message ---- From: Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, May 3, 2007 6:16:16 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] bagaimana minat baca di Indonesia?utk bpk John Simon Yth Pak Sulaeman, Ya memang dinegri kita ini sudah termasuk yang sangat menyedihkan untuk mengangkat minat baca atau aktiv baca pada anak. Permasalahannya terletak pada model ujian yang multiple choice.....pertama itu sebetulnya tidak manusiawi, dan kedua itu membuat anak malas membaca malah, mengaktivkan mereka menjadi "GAMBLER" Saya menjadi ingat sekali ketika saya kuliah dulu, dosen saya pernah berkata begini"Karena ujian kita dalam bentuk Multiple choice bila anda ingin "lulus" dengan baik. Maka tidak mungkin anda belajar hanya setengah2, malah lebih baik anda sama sekali tidak belajar atau anda harus secara mutlak mengingat semua isi buku kalian, sanggupkah anda???? Karena memang yang diminta jawabannya adalah yang paling benar diantara yang benar....... Dan saya sendiri memutuskan untuk maju ujian tanpa belajar sedikitpun dari buku-buku atau materi yang saya punya dan ternyata.... .akhirnya saya lulus meskipun tidak dengan baik, dan yang lebih parah lagi selesai ujian saya sama sekali tidak pernah tahu isi dari mata pelajaran tersebut.Saya rasa pasti abnyak diantara anda2 yang mempunyai pengalaman seperti saya, but who cares?????? Dan saya juga mengulangi kata2 dosen saya pada anak2 saya mereka ternyata juga lulus.....karena apa karena kita sudah menjadi "GAMBLER" yang ulung. Dan kapan saya mulai menyadari kebodohan ini ???? Yaitu saat saya kuliah di LN ternyata di LN jarang sekali menggunakan multiple Choice karena memang itu adalah science yang harus dibuktikan melalui kata-kata, dari mana datangnya kata-kata yang ingin kita sampaikan, sehingga bisa membantu kita untuk menjelaskan science yang ingin kita buktikan itu ya melalui buku. Dan saya mulai rajin menggunakan perpustakaan. ..sejak itu minat baca saya terpacu. Meskipun anak-anak saya besar di Tanah Air dan saya menyadari dengan terlalu seringnya penggantian buku pelajaran yang juga merupakan salah satu penyebab anak menjadi malas belajar. Maka saya selalu ajak mereka ke pameran buku, atau bila saya pergi ke Mall untuk berbelanja maka saya suruh mereka menunggu saya di toko Gramedia untuk mengisi waktunya dengan mencari buku yang mereka sukai. Karena saya tidak memang saya tidak pernah menemukan perpustakaan yang nyaman di negri ini seperti yang di"luar" sana. Untuk itu saya berikan acungan jempol pada Gramedia yang telah membuatkan membuatkan celah agar anak-anak bisa dengan nyaman mencari buku yang disukainya. Sampai sekarang anak2 saya yang sudah menjadi dewasa dan kuliah di LN dengan mudah karena mereka beradaptasi cara belajar yang lebih menggunakan esay atau presentasi dimuka kelas.Mereka sudah terbiasa menggunakan "Perpustakaan" Gramedia dan kebetulan dengan adanya sekolah2 swasta yang sekarang juga sudah lebih menekankan penggunaan Esay dan cara presentasi. Meskipun demikian Pemerintah kita belum juga maju selangkah untuk mengubah sistem ujian ataupun model pendidikan yang nyaman bagi anak-anak didiknya Untuk itu saya juga ingin haturkan terimakasih saya pada pihak Gramedia tentunya, bahwa banyak anak mendapatkan kesempatan untuk mencari buku yang disuka dengan tidak dibatasi waktunya, anak-anak disitu dipersilahkan membaca dulu buku-buku yang ada disitu, hingga akhirnya mereka menemukan buku yang mereka sukai untuk dikoleksi sehingga bisa selalu dibaca kembali. Ini saya hanya mau sharing saja mengenai penyebab mengapa anak-anak Indonesia kurang berminat untuk membaca, juga bagaimana kita sendiri sebagai orang tua harus bisa mengatasinya. Salam dari Ratih
