Saya malah mendengar saudara yang kebetulan orang Australia yang mengatakan bahwa orang Australia umumnya lebih suka langsung bekerja selepas SMA daripada melanjutkan ambil BA. Ini sangat berbeda dengan masyarakat kita yang sangat ambisius menyekolahkan anak setinggi tingginya walaupun test psikologi tidak mendukung harapan tersebut. Di Malaysia, saya melihat Restoran,toko atau pabrik memasang iklan kebutuhan mereka yakni "Pernah belajar di kelas 10" Nah Jumlah Judul yang diterbitkan para Penerbit Malaysia dibanding Indonesia dalam satu tahun jauh lebih banyak dengan oplag yang juga lebih besar. Artinya, tinggi rendahnya strata pendidikan tidak berkait langsung dengan minat baca. Di Indonesia, Penerbit Buku Teks Perguruan Tinggi masih terus mengeluh (karena penjualan seret) padahal Mahasiswa berlimpah ruah. Bila Mahasiswa saja tidak berminat membaca buku (foto copy topik penting saja) maka apalagi yang kita harapkan?
----- Original Message ----- From: Sulaeman Herisuwendi To: [email protected] Sent: Friday, May 04, 2007 5:11 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] bagaimana minat baca di Indonesia?utk bpk John Simon Betul salah satu kelemahan lulusan-lulusan sekolah kita adalah lemah dalam presentation skill termasuk lemah dalam keterampilan bertutur-kata merangkai argumentasi. Keterampilan diatas sebenarnya sama pentingnya dengan keterampilan dalam menjawab soal-soal tertulis (apapun bentuknya), Sistem masyarakat telah membuat orang (bukan hanya pelajar) terjebak kedalam suasana dimana mereka jadi peserta pasif berkata dan berinteraksi, Seperti yang pernah dikatakan ibu Ratih, kebanyakan tipe sekolah kita sama sekali sangat kurang dalam mengadakan aktivitas dan yang memungkinkan setiap individu "tergiring" menampilkan diri memperagakan, mempamerkan, menyajikan dan mempresentasikan sesuatu didepan orang. Ini akibatnya mereka tidak punya rasa percaya diri karena kurang pengalaman dalam berpresentasi berdialog dan bertutur-kata dengan orang lain dalam acara resmi. Padahal ketika si pelajar lulus sekolah dan siap masuk bursa pasaran tenaga kerja maka keterampilan semacam ini sangat diperlukan. Orang yang hanya terampil menjawab soal-soal diatas kertas hanya cocok menangi kerja-kerja dibidang tertentu saja. Tapi sesungguhnya sangat jauh lebih banyak peluang kerja yang justeru memerlukan keterampilan berdialog, berargumentasi, berkomunikasi dan berpresentasi. Kaitan aktivitas baca buku dan kualitas dialog /presentasi sangat erat. Orang yang kurang membaca tidak akan bisa menyajikan presentasi yang menarik dan berbobot. Dia tidak akan terasah pula fikirannya dalam menjawab persoalan-persoalan yang diajukan oleh para pendengarnya. Jadi dalam kerangka seperti ini memang aktivitas membaca buku akan dengan sendirinya meningkat kalau aktivitas harian masyarakat banyak bersinggungan dengan keperluan mencari informasi. Bahasa presentasi berbeda dengan bahasa rumpi. Dalam merumpi diwarung kopi orang bisa seenaknya melempar kata apaun karena tidak ada beban moral, demam panggung dan tanggung-jawab. Di warung kopi tidak ada beda antara serius dan dusta, antara ngomongin orang dan berfikir untuk kemaslahatan. Masyarakat yang doyan merumpi tidak berarti masyarakat yang potensial jadi mahluk terampil tampil kedepan berdialog, berpidato dan memberi presentasi. SH
