Oleh ERIC SASONO 
Kritikus Film 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/05/Fokus/3491959.htm
============================

Nagabonar tahun 2007 ini tampak putus asa dengan Indonesia yang 
baru. Nagabonar tampak gagal memberi sumbangan bagi definisi sebuah 
Indonesia baru, ia malah ikut mengekalkan mitos lama tentang 
nasionalisme dan implikasi militerisme "perjuangan" Indonesia. 

Mungkin salah satu kutipan film paling populer di negeri ini 
selain "darah itu merah jenderal!" adalah "apa kata dunia?". Kutipan 
pertama dilontarkan oleh tokoh tanpa nama, anggota Gerwani dalam 
Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Kutipan kedua tentu saja dari tokoh 
yang akan kita bicarakan, Nagabonar. 

Siapa sebenarnya Nagabonar dan dunia seperti apa yang dijalaninya? 
Menurut Asrul Sani, tokoh ini bukan karangan. Saya pernah 
mewawancara Asrul pada tahun 1998 dan ia berkata bahwa Nagabonar 
diambil dari tokoh Bahar Mataliu, seorang pemimpin laskar rakyat di 
kawasan Deli, Sumatera Utara, tepatnya Lubuk Pakam. Lebih jauh lagi, 
Nagabonar adalah representasi perjuangan Indonesia. Mitos revolusi 
kemerdekaan Indonesia dan usaha meraihnya adalah sebuah kekeliruan. 

Asrul Sani kemudian menyebut, pada masa Orde Lama, seorang macam 
Nagabonar, seorang raja copet di kawasan Senen bernama Syafei, 
diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi menteri. Inilah inti parodi 
Nagabonar: absurditas negeri bernama Indonesia. Indonesia memang 
parodik sejak awal kelahirannya sehingga seorang raja copet bisa 
menjadi jenderal atau menteri. 

Indonesia semacam itulah dunia bagi parodi yang dibawa oleh 
Nagabonar yang ditulis pada tahun 1986, masa ketika pemerintah Orde 
Baru sedang gencar-gencarnya melakukan konsolidasi ideologi asas 
tunggal. 

Kecenderungan korporatisasi negara semakin menguat dengan 
diluncurkannya paket UU Politik tahun 1985 yang menghendaki adanya 
asas tunggal Pancasila dan wadah tunggal organisasi kemasyarakatan. 
Ideologisasi dan korporatisasi ini menghendaki adanya kodifikasi 
dalam ideologi negara dan penafsirannya, termasuk unifikasi sejarah 
bangsa dan mitos-mitosnya. 

Tak heran jika pada dekade 1980-an, mitos-mitos kebangsaan diangkat 
dan dikekalkan melalui media film, salah satu media terkuat dalam 
penciptaan mitos. Serangan Fajar dan Pengkhianatan G30S/PKI, dua 
film propaganda penting, dibuat pada dekade ini. 

Pada film-film propaganda dan film kolonial pada umumnya, Indonesia 
digambarkan utuh secara ruang sejak semula, dibangun dengan "darah 
dan air mata" serta pekik merdeka, dan cita-cita mulia yang 
dibayangkan sebagai jembatan emas, serta "perjuangan" bersenjata 
yang selalu mengimplikasikan keunggulan tentara dalam jasa 
mewujudkan negara bernama Indonesia ini. Mitos-mitos ini dijadikan 
basis dan dikekalkan melalui media film sebagai sebuah strategi 
pengembangan sinema nasional ketika itu. Ideologisasi dan 
korporatisasi oleh negara kemudian dibangun di atasnya. 

Ideologisasi dan korporatisasi itu sesungguhnya mendapat perlawanan 
dari pertumbuhan kosmopolitanisme lewat film Catatan Si Boy yang 
menjadi akar dari kosmopolitanisme Indonesia yang kita lihat 
sekarang. Kosmopolitanisme ini juga menabrak segala stereotip yang 
berlaku, tetapi di sisi lain ia bersifat apolitis. 

Justru di sisi ini, Catatan Si Boy bisa dilihat sebagai sebuah 
subversi diam-diam karena pada saat negara gencar mem(p)olitisasi 
dan mengideologisasi masyarakat, yang muncul adalah sikap-sikap 
apolitis yang kronis. Cara pandang ini bisa saja dibantah dengan 
argumen bahwa inilah justru keberhasilan (kita pakai saja istilah 
berikut ini) hegemoni negara terhadap kaum muda saat itu. Namun, 
generasi inilah yang berhasil menumbangkan Orde Baru di tahun 1998. 

Jika Nagabonar ingin dilihat sebagai "perlawanan", ia datang dari 
kaum tua seperti Asrul Sani. Tokoh Nagabonar ini membongkar fondasi 
bagi ideologisasi dan korporatisasi yang berbau fasis-militeristik 
itu. 

Keindonesiaan bagi Nagabonar begitu lokal dan tak transenden sama 
sekali. Indonesia mungkin makna sejatinya tak lebih dari sesuatu 
yang sangat sehari-hari semacam bus malam: tak lebih hebat ketimbang 
rute Medan-Lubuk Pakam. Tak syur Nagabonar diberi pangkat Marsekal 
Medan, dan ia meminta Marsekal Medan-Lubuk Pakam. 

Di sinilah tiba-tiba mitos ruang bernama Indonesia yang dianggap 
sudah utuh sejak semula di mata film propaganda dan film perjuangan 
tiba-tiba berubah menjadi sebuah olok-olok. Ruang yang dikenal 
sebagai Indonesia tak lebih dari rute bus malam di mata salah 
seorang "jenderal" pejuang. 

Darah, air mata, dan pekik "merdeka" juga menjadi tak bermakna bagi 
Nagabonar. Perjuangan bukanlah pelaksanaan cita-cita, melainkan 
kecelakaan sejarah saja. Perjuangan bukanlah urusan mengatur 
strategi maju atau mundur atau menarik garis demarkasi, melainkan 
urusan menggendong emak yang enggan mengungsi. Perang tak punya 
nilai sakral dan dipermainkan. Kematian memang ditangisi, tapi lebih 
mirip berolok-olok. Ketimbang bersedih karena kehilangan kawan, 
Nagabonar malahan mencela keputusan Bujang yang dianggapnya sok 
gagah-gagahan dengan keinginannya melakukan pembuktian diri. 

Perang yang dihadapi oleh Nagabonar juga meruntuhkan mitos akan 
makna perang yang diusung oleh film-film tentang perjuangan yang 
normatif. Perang yang dihadapi oleh Nagabonar mirip dengan permainan 
petak umpet dengan sensasi yang sedikit berbeda, yaitu kematian. 
Ternyata perang dan revolusi fisik adalah semacam main-main yang 
berbahaya. Maka, tembak-menembak antara Nagabonar dan Mariam sesudah 
bermain catur adalah perpanjangan dari permainan semacam itu. 
[Menurut Asrul Sani dalam wawancara saya, tembak-menembak semacam 
itu benar-benar terjadi dalam kenyataan]. 

Militerisme juga berantakan dalam film ini dengan sistem kepangkatan 
yang ngawur. Mitos mengenai "perjuangan" Indonesia sebagai jasa dari 
militerisme dibelejetkan dari topengnya dan diturunkan dari posisi 
sakralnya. Seorang "jenderal" bukan seorang luar biasa yang 
mengambil putusan lantaran pertimbangan kepentingan pasukannya 
apatah lagi kepentingan publik. 

Akhirnya kita memasuki sebuah pengenalan terhadap diri sendiri lewat 
Nagabonar ketika kita melihat bahwa Indonesia bisa jadi sebuah 
kecelakaan sejarah [lihat esai Goenawan Mohamad, On the Idea 
of "Indonesia", diterbitkan oleh South-South Exchange Programme for 
Research on the History of Development, SEPHIS, 2003]. 

Ideologisasi dan korporatisasi menjadi sangat ahistoris dan 
beroperasi di bawah rumah kartu yang rapuh. Keruntuhan negara Orde 
Baru adalah salah satu implikasi dari pembangunan rumah kartu ini 
yang dengan cerdas diperlihatkan oleh Asrul Sani sifat ahistorisnya 
melalui Nagabonar (1986). 

Dunia Nagabonar ini menjadi sebuah subversi pada masa ketika ia 
dibuat. Asrul Sani memperlihatkannya lewat tokoh dan penokohan 
Nagabonar. Hebatnya lagi, tokoh ini diklaim oleh Asrul Sani berasal 
dari tokoh nyata. Ini adalah sebuah sejarah alternatif untuk 
menandingi pengekalan mitos dan kepentingan politik di baliknya. 

Penokohan semacam inilah yang mampu menghindari kita dari klise. 
Kepada kita dihadirkan tokoh arketipal yang mampu membawa kita ke 
sebuah dunia unik dan ajaib yang tak kita kenali. Di sana, setiap 
detail dinikmati dan dijelajahi dengan rasa ingin tahu. Peristiwa 
menjadi penting dan tokoh-tokoh berfungsi optimal. 

Namun, sebagaimana kisah arketipal, maka situasi unik ini selalu 
kembali pada sebuah refleksi terhadap diri sendiri dalam berbagai 
tingkatannya [Tentang ciri-ciri cerita arketipal dan stereotipikal, 
lihat Robert McKee dalam bukunya, Story (Methuen, 1999)]. 

Refleksi ini kembali karena tokoh atau karakter itu justru adalah 
pelucutan dari penokohan atau karakterisasi itu sendiri. Pelucutan 
karakterisasi dalam kisah fiksi dilakukan dengan memberi pilihan 
berat pada sang tokoh. Ketika sang tokoh dihadapkan para pilihan 
yang penuh tekanan, apa yang ia pilih? 

Pelajaran humor yang cerdas datang dari Asrul Sani. Ia tak 
menyodorkan pilihan hidup mati bagi Nagabonar. Sang jenderal hanya 
berurusan dengan soal remeh-temeh tak penting semisal topi jambul, 
tanda pangkat atau sirih emak, dan justru itulah letak soalnya. 
Keremeh-temehan itu membuat kita kini bicara soal keindonesiaan yang 
sangat sehari-hari dan belum selesai. 

Tokoh Nagabonar seperti mengingatkan bahwa proyek bernama Indonesia 
memang belum selesai dan keseharian kita adalah sebuah penulisan 
sejarah yang sedang berlangsung. Pada Nagabonar-Asrul Sani, ia 
menggambarkan bahwa penulisan itu dilakukan dengan riang. 

Mungkin kita harus memaknai keindonesiaan kita dengan riang. 

Nagabonar abad ke-21 

Pada tahun 2007 keriangan itu hilang. Nagabonar menjadi seorang yang 
terus-menerus meracau mengomentari keadaan. Ia memang bermain sepak 
bola dan gemar pada anak-anak, tetapi hidup dipandang dengan sangat 
berat oleh Nagabonar pada tahun 2007. 

Adalah Dedi Mizwar, sang pemeran Nagabonar yang membawa tokoh itu 
hidup kembali di tahun 2007. Ia punya anak bernama Bonaga (Tora 
Sudiro), yang katanya berkarakter mirip Nagabonar. Bonaga menjemput 
sang ayah dan membawanya ke Jakarta. 

Maka, Nagabonar pun ke Jakarta. Ia memasuki sebuah dunia baru, dunia 
abad kedua puluh satu. Sebuah dunia ketika rumah kartu ideologisasi 
dan korporatisasi negara sudah runtuh. Indonesia sedang memasuki 
sebuah fase baru, sebuah fase transisi yang pendefinisiannya jauh 
dari selesai. Tuntutan perubahan politik besar-besaran sudah 
bergulir lewat reformasi nyaris sepuluh tahun dan perubahan belum 
menunjukkan arah ke mana akan menuju. 

Dan Nagabonar masih bertanya retoris: "apa kata dunia?" 

Indonesia yang sedang berada pada masa transisi itulah dunia 
Nagabonar kini. Sebuah Dunia yang dikepung oleh kepentingan 
komersial, dan Nagabonar tak bisa menghindar dari papan reklame 
Sozzis (Dedi Mizwar menjadi bintang iklannya) atau majalah 
Cosmopolitan yang bertebaran dan ikut mendanai film ini. 

Musuh memang bukan lagi Belanda, tapi mungkin korporatisme raksasa 
yang dalam pandangan Dedi Mizwar sebaiknya memang dirangkul. Tak ada 
persoalan sama sekali bagi Nagabonar dalam memandang berjayanya 
kapitalisme seperti itu. Toh, persoalan lain masih menanti untuk 
dibicarakan oleh Nagabonar. 

Persoalan itu bernama nasionalisme. Nasionalisme, keindonesiaan dan 
patriotisme yang pada Nagabonar pertama adalah permainan yang 
dipandang riang, sekarang justru menjadi sesuatu yang berat dan 
dipusingkan. Nagabonar pun menghormat pada patung Soekarno-Hatta. 
Suara Bung Karno ketika membacakan naskah proklamasi menggerakkan 
hati pencopet bebal untuk berjuang, kata Nagabonar dengan nada 
kerinduan, tepatnya kehilangan. 

Kehilangan itu berubah menjadi keputusasaan. Nagabonar yang 
kejenderalannya adalah buah main-main pangkat-pangkatan, tiba-tiba 
merasa perlu nyekar ke makam Jenderal Soedirman. Tentu tak bisa naik 
bajaj ke makam itu karena letaknya di Yogyakarta. Maka, Nagabonar 
pun dibawa ke patung Jenderal Besar itu di mulut jalan yang juga 
bernama Jenderal Soedirman. 

Bajajnya tak bisa melintas di jalan itu sehingga ia dihentikan 
polisi. Nagabonar memang idiosinkratik. Penghentian oleh polisi itu 
berubah jadi permainan simbol otoritas yang luar biasa. Di sinilah 
terasa sisa dunia Nagabonar. Absurditas keindonesiaan masih terasa 
dalam permainan simbol seperti itu. 

Namun, di sini juga keputusasaan Nagabonar terwujud. Sebabnya: 
mengapa Sang Jenderal Besar itu menghormat kepada kendaraan beroda 
empat, sementara kendaraan roda tiga yang dikendarai Nagabonar tak 
bisa masuk ke jalan itu? Apakah penghormatan adalah soal berlomba 
dalam banyaknya roda di kendaraan? Tentu sang Naga tak bisa 
menghentikan hormat Sang Jenderal Besar, maka dengan putus asa ia 
memanjat ke tangan sang patung. 

Mitos nasionalisme 

Nagabonar tahun 2007 tampak putus asa pada Indonesia yang baru ini. 
Nagabonar tampak gagal menyumbang bagi definisi sebuah Indonesia 
baru, bahkan ia ikut mengekalkan mitos lama tentang nasionalisme dan 
implikasi militerisme "perjuangan" Indonesia. Maka, perjuangan 
bersenjata menjadi sangat romantis dan penuh heroisme. 

Ide ini dibawa oleh cara tutur yang asing. Keasingan itu terasa 
dalam penghadiran kembali tokoh Nagabonar. Akting Dedi Mizwar yang 
agak teatrikal memang tidak sampai membuatnya jadi over-acting, 
tetapi bila dibandingkan dengan lawan-lawan mainnya, Nagabonar 
menjadi terlalu karikatural. Apalagi tak ada pemanfaatan ruang 
dengan blocking pemain. Shot percakapan selalu didominasi oleh close-
up yang membuat mimik muka pemain jadi menonjol dan akting pemain 
selalu berada pada jarak intim dengan penonton. 

Kejomplangan akting itu jadi terasa dan akibatnya Nagabonar jadi 
agak tidak realis dibandingkan dengan tokoh lainnya. Mungkin film 
ini lebih baik apabila diubah menjadi pertunjukan monolog Dedi 
Mizwar di atas panggung ketimbang menjadi menjadi sebuah film. 

Tampaknya Dedi Mizwar memang tak berusaha mencari cara tutur baru 
apa pun bagi idenya ini. Sampai di sini ia jujur dan tampak tak 
ingin bicara tentang dan dengan hal yang tak diketahuinya. Namun, 
itulah soalnya. 

Sikap jujur dan tulus Dedi Mizwar macam itu ini memang hal penting. 
Namun, bahwa film ini terasa menggurui adalah hal lain lagi. Dunia 
memang sudah berubah dan Nagabonar tak tampak berusaha menyesuaikan 
diri dengan perubahan itu. Demikian pula Dedi Mizwar dengan cara 
tuturnya. Seperti kata Nagabonar, di penghujung film, mungkin memang 
salah ia hidup di zaman sekarang; di zaman yang tak ia mengerti. 
Mungkin. Pilihan menghidupkan kembali Nagabonar bisa jadi salah. 

Saya merasa kehilangan keriangan Nagabonar dalam memandang negeri 
bernama Indonesia ini. 





Kirim email ke