masalah buku tidak bisa hanya dipecahkan oleh kapasitas individual. yang perlu kita pertanyakan, kita gugat adalah posisi dan fungsi negara, tanggungjawab pengelola negara: bagaimana dengan perluasan dan pembangunan perpustakaan umum diberbagai daerah. slogan pengembangan minat baca adalah sejenis omong kosong jika tidak ada fasilitas yang memadai. seperti yang saya tulis pada forum ini juga, bahwa banyak pemda/pemkot yang biaya rumah tangga dinasnya melebihi biaya pengembangan dan pengadaan buku di daerah masing-masing. misalnya kasus di sulsel, sulteng, sultra, makassar, palu, kendari, bahkan juag di solol, tegal, pekalongan, dan masih banyak kota dan daerah lainnya. halim hd.
--- Sparisoma Viridi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sejauh pengalaman saya, harga buku2 bermutu di LN > telah dapat > diperoleh dengan uang 2-3x makan siang sederhana di > kantin mahasiswa > atau di stasion. > > Jadi petanyaannya, bisa nggak kita dapat harga buku > bermutu dengan > uang < Rp. 20.000. Jika tidak, jangan salahkan > "minat baca" yang > kurang. Karena memang hal itu tidak terjangkau. > Mungkin malah lebih > terjangkau ngrumpi dengan kopi dan rokok. > > salam, > SV
