wah aku prihatin dengan hal ini, mungkinkah sistem pendidikan keras seperti ini sedang trend, seharusnya departemen terkait bisa tegas menghadapi permasalahan spt ini, sehingga tidak mencoreng sistem pendidikan di Indonesia.
Ayu ~YOGHA <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf bukan dari Sumber Kompas ------------------- Kekerasan mirip IPDN muncul di Cilacap http://www.kotapurwokerto.info/index.php?pilih=lihat&id=56 Tiap apel siang siswa dipukul 10 kali CILACAP - Aksi kekerasan yang mengarah pada tindakan penganiayaan menyerupai kasus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), terjadi di Cilacap. Sebuah sekolah pelayaran diindikasikan telah menjadikan aksi kekerasan bermodus senioritas. Kasus ini mulai terungkap ketika Jumat (4/5) siang, salah seorang siswa dilarikan ke Puskesmas lantaran menderita gangguan pernafasan, setelah berkali-kali perutnya menerima pukulan dari para seniornya. Dari fisiknya, sepintas korban yang berinisial RK (16) memang dalam kondisi sehat, tetapi di bagian perutnya, terdapat sisa lebam akibat pukulan. Hal ini mengakibatkan RK mengalami sesak nafas sejak dua hari terakhir. Keterangan yang dihimpun Wawasan dari pihak Puskesmas menyebutkan, RK yang merupakan warga Cilacap Tengah, menderita luka dalam di bagian perut dan dada. Sayangnya pihak Puskesmas enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hasil diagnosis RK, termasuk belum diketahui hasil rontgennya. ''Kalau lagi berdiri sih nggak sakit, tapi kalau buat sujud atau jongkok sakit sekali. Saya dibawa ke Puskesmas tanpa sepengetahuan sekolah, karena saya takut. Sebenarnya saya pinginnya tetap sekolah, tapi sejak Kamis malam sakitnya bertambah. Dan kata dokter disarankan untuk istirahat tiga hari agar luka dalam saya sembuh,'' kata RK kepada wartawan yang menemui di rumahnya. Ia juga menjelaskan, aksi pemukulan telah menjadi santapan sehari-hari, hanya saja kali ini pukulan para se-niornya banyak yang mengenai dada. Aksi ini biasanya dilakukan setiap apel pagi, siang maupun pada jam-jam tertentu. Kekerasan lain berupa tamparan. ''Terutama kalau pas apel siang, kita bisa menerima pukulan sampai 10 kali, bukan hanya dengan bogem, tapi juga pukulan siku tangan, itu pasti. Kalau push up dan lari juga setiap hari. Sebenarnya teman-teman yang lain juga mengeluh dan sakit, tapi kita nggak ada yang berani menolak, jadi diam saja," ujar RK didampingi kedua orang tuanya. Sebagian sakit Aksi kekerasan ini melibatkan Danyon (komandan batalyon), Danton (komandan peleton) atau setingkat pengurus OSIS pada SMA dan seluruh stafnya, termasuk petugas polisi taruna (poltar) dan poltir (polisi taruni) yang hampir setiap apel siang seluruhnya menyarangkan pukulan ke perut para yuniornya. Menurut korban, ternyata bukan hanya dirinya yang akhirnya jatuh sakit akibat tindak kekerasan yang berlarut-larut ini. "Jumlah siswa sekelas ada 14 anak, separuhnya tidak berangkat karena sakit. Cuma tidak ada yang berani mengadukan sakitnya. Kita biarkan saja, karena katanya ada tradisi balas dendam, kalau kita sudah naik tingkat kelas dua nanti," lanjut RK. Layaknya di IPDN, para siswa di sekolah ini juga memilih tutup mulut, ketimbang harus menanggung risikonya. Termasuk ketika sejumlah wartawan mencoba mencari keterangan dari siswa yang lain pun, tidak ada yang berani berkomentar. [ady-sn]
