Pasar tradisionil yang modern seperti di BSD City......jadi membingungkan juga
ya...??. Tradisionil kok modern.......atau lebih tepat kalau pasar tradisionil
yang bersih...tetapi bukan pasar becek yang modern.
Ada baiknya kita melihat perkembangan di lingkungan pasar tradisionil,
beberapa tahun yang lalu ketika pasar mulai berjalan lingkungannya masih
masyarakat sedang mulai menata kehidupan....kondisi pasar yang becek masih
dapat diterima.....tetapi ketika masyarakatnya mulai mapan.....pasarnya masih
becek.....tentu anak bangsa yang mapan ini mulai risih masuk pasar becek.
Selain pasar modern di BSD City yang baru dibangun itu memang lebih
tertata....ada baiknya melihat Pasar Beringhardjo di Malioboro
Jogjakarta....yang lingkungannya berobah, lebih tertata dan bersih, sesuai
perkembangan kawasan Malioboro....tetap pasar tradisionil, akan tetapi tidak
becek lagi dan masyarakat tetap menikmati keberadaannya.
Menurut saya, ketersingkiran pasar tradisionil bukan karena hanya masuknya
peritel dunia...akan tetapi juga tingkat pendidikan penghuni pasar tradisionil
belum bergerak naik.
Pasar Kranji di Bekasi membuktikan hal itu, pada awalnya pasar tersebut
adalah pasar tradisionil yang becek.....diperbaiki dan ditata oleh pemerintah
dengan program Inpres Pasar sekitar 20 tahun yang lalu....dan lima belas tahun
yang lalu pasar sudah becek kembali dan memang lingkungannya belum berubah.
Apakah semua pasar tradisionil tersingkir?. Rasanya Pasar (......) di Kembang
Jepun Surabaya masih rame, sejak dulu sampai sekarang dan tetap becek. Ada yang
menarik disana, banyak juga orang yang secara tradisionil juga tetap nyaman
dengan kondisi tersebut.
Sallam,
Robby Sodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan2, posting berikut ini mungkin dapat menjadi informasi tambahan
yang menarik yang kebetulan studinya dlakukan Lembaga Peneltian SMERU.
Gatra 3-9 Mei 2007
Fakta di Balik Riset Smeru
Apa dampak keberadaan supermarket terhadap pasar tradisional? Pertanyaan
itulah yang menarik minat The Smeru Research Institute melakukan penelitian.
Smeru melakukan riset pada bulan Juli 2006 hingga Januari 2007 di sejumlah
pasar tradisional di Bandung dan Depok. Kedua daerah itu dipilih, kata
Direktur Eksekutif Smeru, Sudarno Sumarto, karena di sana pertumbuhan
supermarket dan hypermarket cukup pesat. Penelitian itu menerapkan metode
kuantitatif dan kualitatif. Ada 407 pedagang dari tujuh padar tradisional
yang dijadikan responden.
Untuk mendukung hasil riset, dilakukan teknik wawancara mendalam dengan
beberapa narasumber. Antara lain dengan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar
Seluruh Indonesia), Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), pengelola
pasar tradisional, pengelola supermarket, dan pejabat pemerintah daerah yang
terkait dengan pasar tradisional.
Pasar tradisional yang dijadikan objek riset dibagi dua kategori. Yakni
pasar tradisional kategori pasar treatment dan pasar control. Pasar
treatment yaitu pasar tradisional yang lokasinya berdekatan dengan
supermarket. Paling jauh jarak antara pasar dan supermarket sekitar 5
kilometer. Sedangkan pasar control adalah pasar tradisional yang lokasinya
masih satu kabupaten atau kota dengan pasar treatment, hanya saja jaraknya
sangat jauh dari hypermarket atau supermarket. Atau setidaknya lebih dari 5
kilometer.
Hasil riset bertajuk "Dampak Supermarket terhadap Pasar Tradisional di
Daerah Perkotaan di Indonesia" itu mengungkapkan, selama periode 2003 hingga
2006, pedagang pasar setiap tahun terus merugi. Penghasilan dan omset minus.
Tapi ada temuan lebih menarik. Melalui analisis kuantitatif menggunakan
metode DiD (difference-in-difference), Smeru menyimpulkan bahwa penghasilan
pedagang di pasar control justru yang paling merugi dibandingkan dengan
pedagang di pasar pasar treatment. "Hasil data kuantitatif ini membuktikan
bahwa kehadiran supermarket atau hypermarket di dekat pasar tradisional
tidak berpengaruh terhadap menurunnya penghasilan pedagang," kata Sudarno
saat ditemui Gatra di kantor Smeru, Jalan Pandeglang, Jakarta, Jumat lalu.
Kesimpulan Smeru ditampik Direktur Induk Koperasi Pasar, Abi Akhmad
Syarbini. Dia meyakini, hypermarket dan supermarket merupakan biang keladi
matinya sejumlah pasar tradisional. Kesimpulan penelitian Smeru dinilai Abi
sebagi memutar balik fakta. "Faktanya ada di depan mata. Lihat saja pasar
tradisional di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pasar itu hampir mati
suri, dipicu hadirnya Carrefour di ITC Cempaka Mas yang jaraknya tak lebih
dari 200 meter dari Pasar Cempaka Putih," kata Abi. Tidak itu saja. Pasar
tradisional lain yang masih dalam radius 1 kilometer dari hypermarket asal
Prancis itu juga terancam tutup.
Menurut catatan Abi, dari sekitar 150 pasar tradisional di Jakarta, lebih
dari 50% dalam kondisi memprihatinkan. Lantaran sepi pembeli, pedagang pun
memilih tutup toko. Semua itu karena hadirnya hypermarket dan supermarket.
"Bukannya saya anti-globalisasi, tapi keberpihakan pemerintah kepada rakyat
harus jelas. Lindungi pasar tradisional," ujar Abi.
Sujud Dwi Pratisto