Oleh Maria Hartiningsih
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/11/sorotan/3525209.htm
========================

Benarkah perjuangan terberat manusia adalah perjuangan menolak lupa
seperti dikatakan sastrawan Cekoslovakia, Milan Kundera? Atau justru
menolak ingatan, karena ruang dan waktu yang kita huni adalah milik
ingatan yang akan selalu mendera? Atau mengingat dan melupakan, karena
keduanya berada di dalam satu bejana di ruang bawah sadar manusia?

Tahun ini, peristiwa kerusuhan Mei berada sembilan tahun di belakang.
Bangunan-bangunan baru, modern, dan mewah berdiri megah menggantikan
gedung-gedung yang hangus dan porak poranda, dan berjejalan memenuhi
lahan-lahan yang waktu itu masih kosong.

Jalanan dipadati mobil-mobil mewah, bahkan supermewah, yang harganya
tak bisa dibayangkan sebagian besar rakyat Indonesia yang hidupnya
seperti merangkak, mengaisi sisa-sisa rezeki yang tercecer untuk
memenuhi kebutuhan hidup minimum. Mereka itu tak bernama, tak
berwajah, lusuh dan berdesakan di panggang matahari, terbelalak
menyaksikan rangkaian gerbong kereta bernama sistem ekonomi
kapitalistik melaju seperti kilat meninggalkan mereka di pinggiran.

Seperti dikemukakan seorang ibu di kawasan Slipi, yang dijumpai
beberapa waktu silam. "Setiap memasuki bulan Mei, hati saya tidak
keruan. Tapi ya mau apa lagi, anak saya tidak akan hidup lagi, dan
hidup harus dilanjutkan. Saya tidak bisa ikut macam-macam karena kalau
enggak jualan sehari saja, semuanya pasti terganggu. Biaya hidup
mahal, sewa rumah naik terus, biaya sekolah anak-anak juga. Untuk
makan kita numpang dari jualan ini. Orang seperti kita enggak boleh
sakit, enggak ada ongkosnya."

Perempuan itu berdagang ketupat sayur. Suaminya buruh serabutan.
Mereka mengontrak sepetak rumah di kawasan Slipi, di lingkungan yang
sangat kumuh. Keluarga itu menemukan anak perempuannya yang berusia 10
tahun tewas sambil memeluk boneka di Pusat Perbelanjaan Slipi Jaya
pada petang tanggal 14 Mei tahun 1998.

Kurun waktu, kebutuhan hidup yang mencekik dan ketiadaan "tetenger"
yang menandai bahwa tragedi kemanusiaan itu terjadi di ibu kota negara
pada masa damai, membuat lupa seperti berkejaran dengan mengingat.

Jakarta seperti berusaha keras mengubur peristiwa kelam yang
menghitamkan sejarahnya sebagai ibu kota negara, ibarat gadis yang
berpupur tebal bersolek cantik untuk menutupi luka membusuk di tubuhnya.

Padahal, tragedi tanggal 13-15 Mei 1998, yang menurut catatan tim
Relawan untuk Kemanusiaan itu menewaskan 1.217 orang, 91 terluka, dan
31 orang hilang, telah menghancurkan kepercayaan kepada negara,
membiakkan prasangka, melantakkan perasaan sebagai manusia, dan
menggelembungkan negativitas yang tidak sanggup didefinisikan oleh
diri sendiri, tetapi oleh sesuatu di luar diri, yakni dampak yang
ditimbulkannya. Terutama yang menyebabkan kerusakan total dari hidup
kebersamaan: peristiwa pemerkosaan dan penganiayaan seksual terhadap
para perempuan etnis Tionghoa di Jakarta, yang terlacak hampir sebulan
setelah peristiwa itu.

Menolak lupa

Setiap memasuki bulan Mei, sebagian keluarga korban di dampingi
organisasi-organisasi nonpemerintah kembali mempertanyakan kesungguhan
pemerintah untuk menuntaskan penyelesaian peristiwa kerusuhan Mei.

Dalam berbagai kegiatan yang dilakukan, mereka terus berusaha merebut
ruang untuk bersuara agar kebenaran dan keadilan dari sudut pandang
korban didengar, sekaligus mengajak orang mengingat kembali tragedi
yang menghunjam jantung kemanusiaan itu.

Namun, dari ribuan keluarga korban, hanya beberapa yang masih
melakukan pertemuan secara reguler dengan korban dan keluarga korban
lainnya, termasuk dari berbagai peristiwa politik lain yang tak pernah
dituntaskan.

Sebutlah Bu Darwin dan Bu Ruminah, dua ibu dari korban yang tewas di
Yogya Plaza, Klender, dalam kerusuhan Mei dan Bu Sumarsih, ibu dari
Wawan, yang tewas dalam tragedi Semanggi I, pada bulan November tahun
1998.

Mereka juga aktif dalam berbagai aksi damai karena meyakini apa yang
dikatakan penyair Cile, Pablo Neruda, "Action is the Mother of Hope".

Seperti selalu dikatakan Bu Darwin, "Dengan selalu berkumpul dengan
korban dan mengikuti berbagai kegiatan, saya memelihara harapan akan
keadilan."

Upaya menolak pelupaan terus dilakukan. Di antaranya oleh mahasiswa
Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang dalam rangkaian acara mengenang
kerusuhan Mei tahun 1998, mereka mementaskan "Clara", diadaptasi dari
cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma, berjudul sama.

"Clara" berkisah tentang peristiwa pemerkosaan seorang gadis Tionghoa
dalam peristiwa kerusuhan Mei di Jakarta. Gadis itu meminta
pertolongan aparat, tetapi yang ia dapatkan adalah perlakuan yang bisa
dipandang sebagai pemerkosaan ulang.

"Kami berharap agar kekejian seperti itu tidak terjadi lagi," ujar
Agnes Rosliana Samosir FCJ, salah satu koordinator pentas. "Kami juga
berharap agar mahasiswa menyadari banyaknya kasus pelanggaran HAM yang
tidak pernah terungkap."

Akan tetapi, dampak dari tragedi kemanusiaan itu juga menghabiskan
energi mereka yang bergulat secara intens dengan persoalan korban.
Seperti aktivis Ester Indahyani Jusuf. "Dua tahun saya menghentikan
hampir seluruh kegiatan saya," ujar penerima Penghargaan Yap Thiam
Hien tahun 2001 sebagai pembela hak asasi manusia.

Selama dua tahun Ester menderita kelelahan fisik dan mental yang sulit
dijabarkan dalam kata-kata. Namun, kurun waktu itu juga merupakan
kesempatan baginya untuk mengambil jarak, setelah bertahun-tahun Ester
bersama lembaganya, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), bekerja untuk
korban kerusuhan Mei.

"Saat itu mengangkat tangan pun terasa sangat berat," kenang Ester,
yang kemudian bersama beberapa temannya berhasil menyelesaikan
penulisan hasil investigasi SNB atas kerusuhan Mei 1998.

Buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan
Mei 1998 sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan itu diluncurkan Kamis
10 Mei 2007, diterbitkan oleh SNB dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak
Asasi Manusia (APHI).

Penerbitan buku yang menengarai peristiwa sembilan tahun lalu itu
merupakan bagian dari upaya menolak pelupaan karena seluruh upaya
untuk menguakkan kebenaran dan menegakkan keadilan atas peristiwa itu
seperti mengalami kebuntuan.

"Pengungkapan Kerusuhan Mei 1998 secara tuntas merupakan utang sejarah
bangsa Indonesia," ujar Candra Setiawan, anggota Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2002-2007.

Lembaga Independen Komnas HAM, seperti dikemukakan Candra, telah
melaksanakan tugasnya sebagai penyelidik dan menyimpulkan bahwa
kerusuhan yang dikenal dengan Peristiwa Mei 1998 telah memenuhi
unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana tercantum dalam
UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Akan tetapi, laporan Tim Gabungan Pencari Fakta yang diverifikasi oleh
Tim Ad Hoc bentukan Komnas HAM setebal 6.000 halaman yang distempel
dan dilegalisasi ini terus terombang-ambing antara Komnas HAM dan
Kejaksaan Agung. Berkas itu dikirimkan ke Kejaksaan tahun 2003, tetapi
dikembalikan lagi ke Komnas HAM karena dianggap "belum lengkap".
Tahun-tahun berikutnya, pembicaraan tentang berkas itu makin menyurut.

Chandra menyayangkan, pemerintah (dalam hal ini Kejaksaan Agung)
sebagai institusi penyidikan tidak terketuk hatinya untuk meneruskan
penyidikan kasus tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat pun tidak bersikap
tegas, padahal pengungkapan lewat pengadilan yang bertanggung jawab
sangat penting agar pihak-pihak yang wajib dimintai pertanggungan
jawab tidak begitu saja terlepas dari segala tuntutan.

"Selama sisa rezim yang represif masih ada, selama itu pula kebenaran
sulit mendapatkan tempat," ujar ahli hukum dari dari Universitas
Padjadjaran, Prof Dr Komariah, beberapa waktu lalu.

Chandra berharap pemerintah berani menuntaskan penyelesaian Peristiwa
Mei 1998 agar anak cucu penerus bangsa ini tidak terbebani begitu
banyak warisan utang sejarah.

Sayangnya, pelaku tampaknya terus berusaha melupakan apa yang telah
mereka lakukan, sambil berusaha menarik lebih banyak orang untuk
melupakan Peristiwa Mei, atas nama "persatuan bangsa". Seluruh
mekanisme dan sistem yang berjalan saat ini seperti mendukung upaya
pelupaan ini.

Pertanyaannya adalah, mungkinkah suatu "persatuan" yang tulus bisa
diwujudkan dari kemanusiaan yang retak?



Kirim email ke