Setelah membaca tulisan Pak KM, saya merekomendasikan tulisan tersebut ke
mertua saya. Setelah dibaca, kami berdiskusi tentang isi tulisan tersebut. Kami
sepakat, bahwa memang disadari atau tidak, apa yang disampaikan Pak KM memang
real terjadi di masyarakat kita. Secara bawah sadar, Tuhan banyak ditempatkan
di luar. Tetapi kalau hal ini diotak-atik, lalu alam sadar nya muncul dan
menolak pendapat Pak KM. Tapi jujur, hal itu masih banyak terjadi.
Saya juga heran, kenapa yang diangkat bukan inti yang disampaikan Pak KM,
tetapi melah menyanggah hal-hal yang hanya berfungsi sebagai bumbu-bumbu dalam
penyampaian inti masalahnya....jangan-jangan ini berupa penolakan karena alam
sadarnya muncul lalu merasa tersinggung...:)
Prinsipnya, saya (dan mertua saya) setuju dengan Pak KM. Jadi, Pak KM jangan
bersedih karena tidak semua menyalah-artikan tulisan tersebut.
riyanto
Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
He, he Pak Simson. Saya memang senang tulisan saya dibaca orang. Cuma
beberapa diskusi lebih mempersoalkan tentang soal judul Tuhan diluar atau di
dalam. Jadi yang terperhatikan masalah soal letak Tuhan, bukan inti dari
tulisan itu. Di satu sisi saya senang tulisan dibaca, di sisi lain sedikit
kecewa karena inti tulisan tidak terpahami.
Saya tidak berharap semua orang setuju dengan pendapat saya. Itu prinsip.
Tapi kan yang saya ajukan bukan soal di mana Tuhan berada. Tiap orang boleh
meyakini soal itu secara berbeda-beda. Silakan saja. Saya pun dalam tulisan
itu tidak mengemukakan pendapat saya soal itu.
Kalau misalnya ada yang tidak setuju terhadap pendapat saya bahwa ada orang
yang meninggalkan Tuhan di masjid atau gereja, itu pun tidak akan membuat
saya kecewa. Tapi kalau saya membahas masalah A dan disanggah dalam soal B,
baru sedikit kecewa. Misalnya ada yang mengatakan bahwa anggapan Tuhan di
dalam kan ajaran Kant saja. Lha kok ke sana sanggahannya. Di milis lain ada
yang menyanggah dengan mengatakan bahwa dalam Islam tuhan itu lebih dekat
daripada urat leher. Lha, ya silakan kalau yakin akan hal itu. Tapi kalau
yakin bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher, ya jangan lalu koruppsi,
memeras, menipu, dan sebagainya gitu. Paham, kan? Gitu loh.
Salam