Saya baca, inti masalahnya terletak pada kupasannya yang dilihat dari beberapa sudut pandang agama atau pluralitas agama. Andaikata dilihat dari satu agama saja, agama apapun itu, orang tidak akan berpikir yang bukan-bukan atas opini dan atas keyakinan agama Pak KM.
Gede H. Cahyana http://gedehace.blogspot.com --- In [email protected], Bambang Riyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setelah membaca tulisan Pak KM, saya merekomendasikan tulisan tersebut ke mertua saya. Setelah dibaca, kami berdiskusi tentang isi tulisan tersebut. Kami sepakat, bahwa memang disadari atau tidak, apa yang disampaikan Pak KM memang real terjadi di masyarakat kita. Secara bawah sadar, Tuhan banyak ditempatkan di luar. Tetapi kalau hal ini diotak-atik, lalu alam sadar nya muncul dan menolak pendapat Pak KM. Tapi jujur, hal itu masih banyak terjadi. > Saya juga heran, kenapa yang diangkat bukan inti yang disampaikan Pak KM, tetapi melah menyanggah hal-hal yang hanya berfungsi sebagai bumbu-bumbu dalam penyampaian inti masalahnya....jangan-jangan ini berupa penolakan karena alam sadarnya muncul lalu merasa tersinggung...:) > Prinsipnya, saya (dan mertua saya) setuju dengan Pak KM. Jadi, Pak KM jangan bersedih karena tidak semua menyalah-artikan tulisan tersebut. > > riyanto > > > Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > He, he Pak Simson. Saya memang senang tulisan saya dibaca orang. Cuma > beberapa diskusi lebih mempersoalkan tentang soal judul Tuhan diluar atau di > dalam. Jadi yang terperhatikan masalah soal letak Tuhan, bukan inti dari > tulisan itu. Di satu sisi saya senang tulisan dibaca, di sisi lain sedikit > kecewa karena inti tulisan tidak terpahami. > Saya tidak berharap semua orang setuju dengan pendapat saya. Itu prinsip. > Tapi kan yang saya ajukan bukan soal di mana Tuhan berada. Tiap orang boleh > meyakini soal itu secara berbeda-beda. Silakan saja. Saya pun dalam tulisan > itu tidak mengemukakan pendapat saya soal itu. > Kalau misalnya ada yang tidak setuju terhadap pendapat saya bahwa ada orang > yang meninggalkan Tuhan di masjid atau gereja, itu pun tidak akan membuat > saya kecewa. Tapi kalau saya membahas masalah A dan disanggah dalam soal B, > baru sedikit kecewa. Misalnya ada yang mengatakan bahwa anggapan Tuhan di > dalam kan ajaran Kant saja. Lha kok ke sana sanggahannya. Di milis lain ada > yang menyanggah dengan mengatakan bahwa dalam Islam tuhan itu lebih dekat > daripada urat leher. Lha, ya silakan kalau yakin akan hal itu. Tapi kalau > yakin bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher, ya jangan lalu koruppsi, > memeras, menipu, dan sebagainya gitu. Paham, kan? Gitu loh. > Salam >
