Pak Simson dan Pak KM,
   
  menurut saya sih setiap penulis memang menginginkan bahwa konsep yang ada 
dibenaknya dapat diterima utuh dalam benak pembacanya.
   
  masalah ternyata itu tidak terlaksana sehingga keluar berbagai tanggapan 
dengan variant yang berbeda juga suatu hal yang wajar, karena pembaca 
masing-masing mempunyai mainframe sendiri dibenaknya.
   
  jadi kembali bukan masalah gubris-menggubris dan voltage yang berbeda tetapi 
memang apa yang dilontarkan oleh pak KM memang begitulah seharusnya tanggapan 
yang terjadi.
   
  mungkin saya salah ya pak......untuk itu mohon maaf!
   
  salam,
  csd
   
   

Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          He, he Pak Simson. Saya memang senang tulisan saya dibaca orang. Cuma
beberapa diskusi lebih mempersoalkan tentang soal judul Tuhan diluar atau di
dalam. Jadi yang terperhatikan masalah soal letak Tuhan, bukan inti dari
tulisan itu. Di satu sisi saya senang tulisan dibaca, di sisi lain sedikit
kecewa karena inti tulisan tidak terpahami.
Saya tidak berharap semua orang setuju dengan pendapat saya. Itu prinsip.
Tapi kan yang saya ajukan bukan soal di mana Tuhan berada. Tiap orang boleh
meyakini soal itu secara berbeda-beda. Silakan saja. Saya pun dalam tulisan
itu tidak mengemukakan pendapat saya soal itu. 
Kalau misalnya ada yang tidak setuju terhadap pendapat saya bahwa ada orang
yang meninggalkan Tuhan di masjid atau gereja, itu pun tidak akan membuat
saya kecewa. Tapi kalau saya membahas masalah A dan disanggah dalam soal B,
baru sedikit kecewa. Misalnya ada yang mengatakan bahwa anggapan Tuhan di
dalam kan ajaran Kant saja. Lha kok ke sana sanggahannya. Di milis lain ada
yang menyanggah dengan mengatakan bahwa dalam Islam tuhan itu lebih dekat
daripada urat leher. Lha, ya silakan kalau yakin akan hal itu. Tapi kalau
yakin bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher, ya jangan lalu koruppsi,
memeras, menipu, dan sebagainya gitu. Paham, kan? Gitu loh.
Salam

-

Kirim email ke