Ada yang bilang punya kekuasaan itu memang nikmat, kata orang yang tidak punya 
rasa iba dengan kesusahan orang lain. Sebaiknya manusia2 seperti ini serahkan 
kepada yang berwajib untuk dihukum asal jangan KKN atau saling melindungi. 
Rakyat sudah mulai jenuh dengan pamer2 pangkat dan sesuka hati nabrak mobil 
rakyat dan marahan dia padahal salah siapa??? Sudah edan kali ya itu Kombes, 
sudah salah mau dianggap benar dan marah2 pula. Logika nya dimana pak Kombes. 
   
  Salam
  BS

Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kalau ketertiban yang dibuat untuk umum sudah mengganggu para 
pejabat, barulah ada aturan untuk ditertibkan.
Maka mudah-mudahan para pejabat terkena dampak ketidak tertiban yang ada 
dijalan raya untuk umum, jadi rakyat kecil akan mendapatkan kenyamanan juga 
dengan "Tata Sopan santun" berkendaraan di Jalan raya untuk umum tersebut, 
dengan adanya perubahan aturan-aturan baru yang diperintahkan dari Presiden.

Ya enggak apa-apalah kalaupun Presiden sendiri yang mengharuskan, aturan-aturan 
baru untuk dibuat, jika orang-orang yang sudah ditugaskan untuk menangani 
aturan-aturan itu sendiri tidak tahu cara menangani-nya. Punya jabatan tapi 
kok, enggak bisa menjalankan, ya?

Kan di Indonesia ini kalau ada hal-hal yang bisa dibuat untuk me-malak 
masyarakat yang belum tentu punya uang dan tidak punya saudara yang 
"berbintang" dipundaknya, pasti akan dilakukan. Yang penting uang masuk. 
Jadi kalau Presiden sendiri yang memerintahkan untuk menghentikan 
praktek-praktek "norak" tersebut, kan akan dilakukan, bukan?
Sering-sering sajalah Presiden SBY, membuat aturan-aturan yang "pro rakyat 
kecil", jangan hanya karena para pejabat merasa terganggu saja, aturan baru 
lalu dibuat.

Jadi bagaimana nich pak Presiden, aturan mengenai para pejabat Polisi yang 
sering menabrak rakyat biasa dan tidak mau menyelesaikan perkaranya, malahan 
sering memaki-maki kita dan rakyat biasa yang disalahkan? Padahal kesalahan 
sudah jelas ada dipihak Polisi sendiri? Apalagi kalau sudah 
KOMBES....weleh...weleh.....selalu benar kali ya?

Salam,
Yuli

Kirim email ke